KEPEMIMPINAN PEREMPUAN (ANALISIS HISTORIS dan KONTEKSTUALISASI)

1330962926450718644

kemaren da yang minta bahasan tentang konsep kepemimpinan perempuan dalam ISlam, nah kali ini aku hidangkan makalahnya Mbak Suci Wulandari. maaf ya kalo masih berantakan. ntar kalo nyante ya aku rapi2in lagi…

  1. Muqoddimah

Selama ini, fenomena ketidakadilan terhadap perempuan dapat terjadi di mana pun, baik di sektor publik maupun domestik.[1] Kedudukan perempuan dipandang berbeda dan bahkan dipandang rendah di bawah kaum laki-laki. Segala hak yang seharusnya mereka dapatkan, dipandang tidak pantas untuk diberikan pada mereka. Hal ini dapat digambarkan sebagaimana kedudukan para perempuan Qurays sebelum kedatangan Islam; para perempuan Yunani yang sama sekali tidak diberikan kesempatan pendidikan, tidak mempunyai hak untuk andil dalam kehidupan masyarakat, dianggap hina, sampai ada yang menyebutnya sebagai najis yang penuh dengan perbuatan syaitan. Bahkan dari sisi kenegaraan, perempuan dipandang laksana harta benda yang siap diperjual belikan, tidak mempunyai kemerdekaan, dan lain sebagainya.[2]

Semuanya berubah ketika Islam datang. Di bawah kuasa Islam, untuk pertama kalinya kedudukan perempuan terangkat. perempuan dihormati sebagai manusia yang memiliki kecakapan, patut dihormati, disayangi dan lain sebagainya. Terkait dengan segala hal yang berhubungan dengan perempuan, dewasa ini marak diperbincangkan tentang hak-hak perempuan dalam persoalan politik. Bolehkah perempuan menjadi seorang pemimpin? Umumnya mereka yang berpendapat bahwa perempuan tidak boleh menjadi pemimpin mendasarkan pendapat mereka pada hadist Nabi SAW

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامَ الْجَمَلِ بَعْدَ مَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً[3]

……Abu Bakrah berkata, semoga Allah memberi manfaat kepadaku dengan ucapan yang aku dengar dari Nabi pada saat perang Jamal….ia berkata tatkala sampai kepada Nabi tentang berita bahwa puteri Kisra memerintah bangsa Persi, Nabi berkata tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan kepemimpinannya pada perempuan.

Akan tetapi, ada pula kelompok orang yang tidak menentang kepemimpinan perempuan dalam hal politik dengan mengutarakan berbagai argumentasi dan pendapat mereka.

Oleh karena itu, untuk dapat memahami bagaimana kedudukan perempuan dalam dunia perpolitikan, berikut ini akan sedikit dikupas tentang hadist di atas dilihat dari segi historis hadist dan kontekstualisasi zaman sekarang.

  1. Takhrij Hadist

Dari hadist pokok riwayat imam Bukhori di atas, berikut hasil takhrij dan variasi matan yang ditemukan dari CD Mausu’ah:

Bunyi Hadist

No

Kitab

Riwayat

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ عَصَمَنِي اللَّهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنْ اسْتَخْلَفُوا قَالُوا ابْنَتَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً قَالَ فَلَمَّا قَدِمَتْ عَائِشَةُ يَعْنِي الْبَصْرَةَ ذَكَرْتُ قَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَصَمَنِي اللَّهُ بِهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

2183

الفتن عن رسول الله

At-Turmudzi

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ عَصَمَنِي اللَّهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنْ اسْتَخْلَفُوا قَالُوا بِنْتَهُ قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

5293

اداب القضاة

an-Nasa’i

حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِي بَكْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ

19507

اول مسند البصريين

Ahmad

حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ حُمَيْدٍ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ فَارِسَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَدْ قَتَلَ رَبَّكَ يَعْنِي كِسْرَى قَالَ وَقِيلَ لَهُ يَعْنِي لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّهُ قَدْ اسْتَخْلَفَ ابْنَتَهُ قَالَ فَقَالَ لَا يُفْلِحُ قَوْمٌ تَمْلِكُهُمْ امْرَأَةٌٍ

19542

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا عُيَيْنَةُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ

19573

وَبِهِ حَدَّثَنَا مُبَارَكٌ عَنْ الْحَسَنِ عَن أَبِي بَكْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ تَمْلِكُهُمْ امْرَأَةٌ

19612

وَقَالَ أَبُو بَكْرَةَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَلِي أَمْرَ فَارِسَ قَالُوا امْرَأَةٌ قَالَ مَا أَفْلَحَ قَوْمٌ يَلِي أَمْرَهُمْ امْرَأَةٌ

19603

  1. Kritik Sanad

Dari hadist-hadist di atas, akan dipaparkan  periwayatan baik dari jalur Imam Bukhori, Imam Ahmad, at-Turmudzi, dan an-Nasa’i

Al-Bukhori An-Nasa’i dan at-Turmudzi Imam Ahmad (19542)
  1. Utsman bin al-Haitsam
  2. 2.       al-Hasan
  3. ‘Auf
  4. Abu Bakrah
1.Muhammad bin al-Mutsanna2. Kholid bin al-Harits3. Humaid

4. al-Hasan

5. Abu Bakrah

  1. ‘Aswad bin ‘Amr
  2. Hammad bin Salamah
  3. Humaid
  4. 4.       al-Hasan
  5. Abu Bakroh

Dari ketiga jalur sanad tersebut, semuanya bertemu pada “al-Hasan” yang menerima hadist dari Abu Bakrah. Untuk lebih mengetahui kualitas keshohihan hadist tersebut, perlu bagi kita untuk mengetahui kualitas para rowi itu sendiri.

Jarh wa Ta’dil

Thobaqoh

murid

guru

Tahun lahir wafat

periwayat

no

Abu Hatim al-Rozi dan as-Saji: Shoduq

Ibn Hibban: Dzakarohu fi ats-Tsiqot

Kibar Tabii al-Atba’

Al-Bukhara, Abu Hatim al-Rozi, dll.

Auf al-‘Arobi, Hisyam bin Hasan, Ibn Juraih, dll.

Wafat th 220 H, bulan Rojab

‘Utsman bin al-Haitsam bin Jahm bin ‘Isa bin Hasan bin al-Mundzir Abu ‘Amr al-Bashri

1.

Ahmad bin Hanbal: Tsiqoh Sholih

Abu Hatim al-Rozi: Shoduq Sholih

Lam talqi as-Shohabah

Sahl bin Yusuf, Utsman bin al-Haitsam, dll.

Al-Hasan bin Abi al-Hasan Yasar, Hamzah bin ‘Amr, Hakim, dll.

Lahir th 56 H.

Wafat th 146 H.

‘Auf bin Abi Jamilah al-‘Abidy Abu Sahal al-Bashri (‘Auf al-‘Arobi)

2.

Yahya bin Mua’in: Tsiqoh

Ad-Dzahili: Hujjah

Abi’Kibar Tabi’i al-Atba’

Al-Bukhori, Muslim, at-Turmudzi, dll.

Kholid bin al-Harits, Hammad bin Mus’idah, Sa’id bin Sufyan, dll.

Wafat 252 H

Muhammad bin al-Mutsanna

3.

Muhammad bin Sa’id dan Abu Hatin al-Rozi: Tsiqoh

Al-Wustho min al-Atba’

Humaid bin ‘Abdullah, Humaid bin al-Mutsanna, Humaid bin Abd al-A’la, dll.

Humaid bin Abi Humaid, al-Husain bin Dzakwan, dll.

Wafat di Basroh tahun 186 H

Kholid bin al-Harits

4.

An-Nasai dan Yahya bin Mu’ain: Tsiqoh

As-Sughro min at-Tabi’in

Hammad bin Salmah bin Dinar, Hammad  bin Zaid bin Dirham, dll.

Al-Hasan bin Abi al-Hasan Yasar, Tsabit bin Aslam, dll.

Wafat 142 H.

Humaid bin Abi Hamid

5.

Ahmad bin Hanbal dan ‘Ali al-Madini: Tsiqoh

As-Sughro min al-Atba’

Muhammad bin Ishaq bin Ja’far, Ahmad bin Hanbal, dll.

Himad bin Salmah bin Dinar, Sufyan bin Sa’id, dll.

Wafat 208 H di Baghdad

‘Aswad bin ‘Amr

6.

Yahya bin Muain dan an-Nasa’i: Tsiqoh

al- Wustho min al-Atba’

Aswad bin ‘Amir, Hibban bin Hilal, dll.

Salmah bin Dinar, Kholid bin Dzakwan, Humaid bin Abi Hamid, dll.

Wafat 167 H

Hammad bin Salamah

7.

Al-‘Ajali dan

Muhammad bin Sa’id: Tsiqoh

Al-Wustho min at-Tabi’in

Hamid at-Ta’wil, ‘Auf al-Araba, Ayyub, dll.

Ubay bin Ka’ab, Abu Bakrah, Umar bin al-Khottob, dll.

Wafat 110 H

al-Hasan bin Abi al-Hasan Yasar

8.

???

Shohabah

Al-Hasan bin Abi al-Hasan Yasar, Humaid bin Abd al-Rohman, dll.

Rosulullah SAW

Wafat 50 H/ 52 H di Bashroh

Abu Bakrah (Nafi’ bin al-Harits bin Kildah bin ‘Amr bin Ilaj bin Abi Salmah Abu Bakrah as-Saqofi)

9.

Berdasarkan sedikit pemaparan tentang para rowi di atas, dapat disimpulkan bahwa mata rantai sanad  empat jalur (al-Bukhori, an-Nasai, at-Turmudzi, dan Imam Ahmad) adalah ittishol. Hal ini dibuktikan dengan penggunaan sighot tahammul wal ada’ antara satu rowi dengan rowi selanjutnya (حدثنا أخبرنا عن), Adanya hubungan guru murid antar rowi, serta positifnya penilaian para ulama terhadap para rowi. Dari sini dapat disimpulkan bahwa hadist ini dari segi sanad bernilai shohih.

Catatan:

Seorang Rowi hadist ini, Abu Bakrah masih dipertentangkan kemaqbulan periwayatannya terkait dengan satu permasalahan yang berhubungan dengan kesaksiannya pada kasus zina.

  1. Pemahaman Hadist

Upaya memahami suatu hadist tidaklah cukup hanya dengan melihat teks saja. Perlu pula melihat segala aspek yang berkaitan dengan hadist tersebut, baik dari segi sabab al-wurud hadist, setting sosial hadist, bahkan kapasitas diri Nabi ketika mengucapkan hadist tersebut.[4]

Sejarah Hadist Rosulullah

Asbab al-Wurud Hadist

Da’wah Islamiyah yang dilakukan Rosulullah ke berbagai daerah dan negara di antaranya dilakukan dengan mengirimkan surat kepada pembesar-pembesar kerajaan. Salah satu kerajaan yang mendapatkan surat dari Nabi adalah Kisra Persia. Berikut kisahnya: ”Rosulullah mengutus ’Abdullah bin Hudzafah as-Sami untuk mengirimkan surat kepada pembesar Bahrain. Setelah itu pembesar Bahrain menyampaikan surat tersebut kepada Kisra. Setelah membaca surat dari Rosulullah, ia menolak dan bahkan menyobek-nyobek surat Rosul. Peristiwa ini didengar Rosulullah, kemudian beliau bersabda: ”Siapa saja yang telah merobek-robek surat saya, dirobek-robek (diri dan kerajaan) orang itu”.

Selang beberapa waktu kemudian, terjadi suksesi dan pertumpahan darah yang menyebabkan kematian sang raja. Kerajaan tersebut mengalami kekacauan selama kurang lebih tiga tahun. Pada akhirnya, diangkatlah Buwaran binti Syairawaih bi Kisra (cucu Kisra) sebagai ratu karena ayah dan saudara laki-lakinya terbunuh dalam peristiwa tersebut. Hal ini terjadi sekitar tahun 9 H. Mendengar hal ini, Rosulullah bersabda :”Tidak akan beruntung suatu kaum yang diperintah perempuan”.

Sejarah Riwayat Perowi Pertama

Dari beberapa hadist yang telah dipaparkan di atas, dapat diketahui bahwa rowi pertama adalah Abu Bakroh. Ia memunculkan kembali hadist ini selang 25 tahun setelah Rosulullah mengucapkan hadist tersebut.

      Pada awal pertikaian antara ’Aisyah dan ’Ali dalam perang Jamal, sebagian shohabat memilih bersikap netral dan tidak memihak pada siapa pun, termasuk Abu Bakrah.  Pada tahun 36 H, ’Aisyah secara politik telah dikalahkan oleh ’Ali karena 13000 pendukungnya gugur dan setelah ’Ali mengumumkan bahwa siapa yang berpihak dengannya akan aman, Abu Bakrah lalu menyampaikan hadist tersebut.[5]

v  Kapasitas diri Nabi dan Setting Sosial waktu itu

Sebagaimana tradisi yang berlangsung di Persia waktu itu, jabatan kepala negara dipegang oleh laki-laki. Adapun pengangkatan Buwaran sebagai pemimpin berarti sangat bertentangan dengan tradisi itu sendiri. Di mata masyarakat, perempuan berada di bawah derajat laki-laki. Perempuan tidak dipercaya untuk mengurusi kepentingan umum masyarakat.

Dari keadaan inilah, Rosulullah mengucapkan hadist tersebut. Di sini kapasitas beliau adalah sebagai manusia biasa yang hanya mengungkapkan realitas sosial waktu itu bahwasanya bagaimana mungkin sebuah negara akan sukses ketika ia dipimpin pihak yang tidak dihargai masyarakat. Salah satu syarat kepemimpinan ialah kewibawaan[6], sedang perempuan pada waktu itu sama sekali tidak mempunyai kewibawaan untuk menjadi pemimpin, apalagi yang dipimpin adalah sebuah negara.

v  Penjelasan

Wanita Islam pada permulaan lahirnya agama Islam, tidaklah mementingkan masalah-masalah politik.[7]Islam mengembalikan hak-hak perempuan yang sebelumnya telah direnggut dari mereka dan juga mempersamakan mereka dengan laki-laki dalam hal kecakapannya untuk bertindak dan memiliki harta. Akan tetapi, Islam tetap menekankan bahwa sebaiknya perempuan menumpahkan perhatiannya pada urusan rumah tangga dan keluarganya demi kesejahteraan dan kehormatan wanita itu sendiri. Walaupun begitu, bukan berarti Islam melarang perempuan untuk berpartisipasi dalam hal-hal yang berkaitan dengan masalah politik.

Akan tetapi pemahaman setiap orang itu tidaklah sama. Ada kelompok-kelmpok yang tetap mempermasalahkan keterlibatan perempuan dalam bidang politik. Hal ini diantaranya disebabkan perbedaan mereka dalam memahami dalil-dalil (nash) yang ada tentang masalah yang berkaitan dengan perempuan.

Banyak dalil yang dikemukakan para penentang hak perempuan, diantaranya adalah  hadist di atas. Mereka memahami hadist tersebut secara tekstual dan menegaskan bahwa pengangkatan perempuan sebagai kepala negara dan berbagai jabatan politisi lainnya adalah dilarang. Sepert halnya al-Khottobi yang mengatakan bahwa seorang perempuan tidak sah menjadi kholifah.[8]dalih ini juga diperkuat dengan ayat- al-Qur’an Q.s. al-Ahzab: 33

tbös%ur’Îû£`ä3Ï?qã‹ç/ Ÿwur šÆô_§Žy9s? yl•Žy9s? Ïp¨ŠÎ=Îg»yfø9$# 4’n<rW{$# ( z

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu

 

Dari sini bisa dipahami bahwasanya hadist larangan perempuan menjadi pemimpin negara ini tidak dapat dipahami berlaku umum. Jadi, hadist tersebut juga tidak bisa dikatakan sebagai ketentuan muthlaq dari Nabi mengenai syarat seorang pemimpin. Jika Rosulullah menetapkan syarat bahwa pemimpin haruslah laki-laki, maka akan terasa janggal apalagi jika berdasar hadist ini. Sebagaimana telah disebutkan dalam asbab al-Wurud, hadist ini berkenaan dengan kondisi politik Persia (non Muslim). Tidak mungkin nabi membuat satu ketentuan syarat bagi negar muslim dengan menunjuk fakta yang terjadi pada daerah non-muslim. Lagipula, ketika benar ini menjadi dalil pelarangan perempuan menjadi pemimpin, maka akan bertentangan dengan fakta yang telah ada tentang keberhasilan sebagian perempuan dalam memimpin negaranya. Hal ini seperti diungkapkan al-Qur’an Q.s. an-Naml: 23

’ÎoTÎ) ‘N‰y`ur Zor&tøB$# öNßgà6Î=ôJs? ôMuŠÏ?ré&ur `ÏB Èe@à2 &äóÓx« $olm;ur î¸ötã ÒOŠÏàtã ÇËÌÈ

”Sesungguhnya Aku menjumpai seorang wanita[1095] yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.”

[1095]  yaitu ratu Balqis yang memerintah kerajaan Sabaiyah di zaman nabi Sulaiman.

v  Hukum menurut para Ulama’

Dalam pembahasan fiqh klasik dibahas mengenai kedudukan perempuan menjadi hakim yang secara garis besar ada tiga pandangan: a. Perempuan sama sekali tidak dapat menjadi hakim {Imam as-Syafi’i}, b. Boleh menjadi hakim hanya untuk perkara-perkara jinayat/pidana {Imam Abu Hanifah}, c. Dapat menjadi hakim untuk semua perkara (Ibn Jarir at-Thobari), ada juga yang berpandangan bahwasanya perempuan tidak dapat menjadi pemimpin, apalagi kepala pemerintahan/ negara.[9]

Akan tetapi ada beberapa fuqoha’ yang menetapkan kekuasaan tersendiri bagi perempuan yang disebut dengan kekuasaan-kekuasaan khusus {wilayah al-Khossoh} dan menafikan perempuan dalam kekuasaan-kekuasaan publik {wilayah al-’Ammah} di luar lingkup keluarga dan yang sepadannya.[10]

Adapun menurut Fatima Mernissi, Islam memberi kebebasan yang begitu besar bagi perempuan untuk ikut terjun dalam ranah politik serta boleh menduduki jabatan pemimpin. Hal ini sebagai bukti bahwa bukan hanya laki-laki yang bisa menjadi pemimpin.[11]

  1. Kontekstualisasi

Kehidupan Islam dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan termasuk dalam persoalan nilai yang dijadikan ukuran atau standar. Akibat dari perubahan ini, terutama di era iptek sekarang, hampir segala sesuatu selalu dinilai dengan pertimbangan akal / rasio. Terkait dengan hadist di atas, jika tetap dijadikan landasan bagi ketidakbolehan kepemimpinan politik  perempuan dipandang sudah tak relevan lagi dengan berbagai perubahan kondisi struktur sosial, ekonomi, dan teknologi.

Walau banyak pendapat simpang siur menanggapi larangan perempuan terjun dalam dunia politik, tetap tidak bisa dipungkiri bahwasanya banyak pula dalil-dalil keagamaan yang mendukung hak-hak perempuan dalam bidang politik. Diantaranya Q.s at-Taubah: 71

tbqãZÏB÷sßJø9$#ur àM»oYÏB÷sßJø9$#ur öNßgàÒ÷èt/ âä!$uŠÏ9÷rr& <Ù÷èt/ 4 šcrâßDù’tƒ Å$rã÷èyJø9$$Î/ tböqyg÷Ztƒur Ç`tã ̍s3ZßJø9$# šcqßJŠÉ)ãƒur no4qn=¢Á9$# šcqè?÷sãƒur no4qx.¨“9$# šcqãèŠÏÜãƒur ©!$# ÿ¼ã&s!qߙu‘ur 4 y7Í´¯»s9’ré& ãNßgçHxq÷Žzy™ ª!$# 3 ¨bÎ) ©!$# ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÐÊÈ

”Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

 

Pengertian Auliya’  mencakup kerja sama, bantuan dan penguasaan. Adapun menyuruh berbuat ma’ruf di sini mencakup segala segi kebaikan hidup, termasuk memberi nasihat/ kritik pada penguasa. Dengan demikian hendaknya baik laki-laki atau perempuan mengikuti perkembangan masyarakatnya agar masing-masing mampu melihat dan memberi nasihat dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk politik.[12]

Di zaman sekarang pun sudah tidak bisa dipungkiri lagi banyak kenyataan yang menunjukkan kemampuan perempuan dalam bidang politik. Contoh saja negara kita, Indonesia pernah dipimpin seorang presiden perempuan (Megawati S.P.) di negara-negara luar seperti Shonia Gandhi dari India (presiden partai politik terbesar India; Partai Kongres Nasional India), Sheikh Hasina ( perdana menteri Bangladesh sekitar tahun 2004).[13]

  1. Kesimpulan

Telah dimaklumi, perbincangan tentang kepemimpinan perempuan dalam wacana Islam bisa dikatakan terbagi menjadi dua golongan, yaitu adanya pengakuan hak perempuan menjadi pemimpin, dan tidak adanya pengakuan itu sendiri.

Dari uraian singkat di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya tidak ada dalil/ nash yang secara khusus melarang kepemimpinan perempuan ataupun keikutsertaan perempuan dalam dunia politik. Adapun hadist di atas yang dipergunakan oleh mereka yang melarang atau bahkan mengharamkan perempuan untuk berpartisipasi dalam dunia politik haruslah dipahami sesuai dengan konteks dan keadaan bagaimana hadist itu dikeluarkan. Jadi, sah-sah saja bagi perempuan ketika dia ikut serta menyalurkan aspirasinya dalam dunia politik

 

Daftar Pustaka

Ilyas, Hamin, dkk. Perempuan Tertindas?”Kajian Hadist-hadist Misoginis”. Yogyakarta: ELSAQ Press dan PSW UIN Sunan Kalijaga, 2005.

As-Siba’y, Musthofa. al-Mar’atu Baina al-Fiqh wa al-Qonun, terj. Chadijah Nasution. Jakarta: Bulan Bintang, 1966.

Shohih al-Bukhori dalam CD Mausu’ah.

Najwah, Nurun. Ilmu Ma’anil Hadist “Metode Pemahaman Hadist Nabi: Teori dan Aplikasi”. Yogyakarta: Cahaya Pustaka, 2008.

Fath al-Bari Syarah Shohih Bukhori dalam CD Mausu’ah

Azizi, Qadri. Elektisisme Hukum Nasional, Kompetisi antara Hukum Nasional dan Hukum Umum. Cet. I,. Yogyakarta: Gama Media, 2002.

’Imarah, Muhammad. Barat Versus Islam; Kritik di balik Hegemoni Wacana Barat atas Islam. Jakarta: Sajadah Press, 2005.

Shihab, Qurays. Perempuan; dari Cinta sampai Seks, dari Nikah Mut’ah sampai Nikah Sunnah, dari Bias Lama sampai Bias Baru. Jakarta: Lentera Hati, 2005.

www.suaramedia.com, diakses pada tanggal 20 Maret 2010


[1]Hamin Ilyas, dkk., Perempuan Tertindas?”Kajian Hadist-hadist Misoginis” (Yogyakarta: ELSAQ Press dan PSW UIN Sunan Kalijaga, 2005), hlm. 5.

[2]Musthofa as-Siba’y, al-Mar’atu Baina al-Fiqh wa al-Qonun, terj. Chadijah Nasution (Jakarta: Bulan Bintang, 1966), hlm. 25.

[3]Lihat Shohih Bukhori hadist no. 4073 CD Mausu’ah

[4] Hamin Ilyas, dkk., Perempuan Tertindas?”Kajian Hadist-hadist Misoginis”, hlm. 272.

[5]Nurun Najwah, Ilmu Ma’anil Hadist “Metode Pemahaman Hadist Nabi: Teori dan Aplikasi” (Yogyakarta: Cahaya Pustaka, 2008), hlm. 74.

[6] Hamin Ilyas, dkk., Perempuan Tertindas?”Kajian Hadist-hadist Misoginis”, hlm. 282.

[7] Musthofa as-Siba’y, al-Mar’atu Baina al-Fiqh wa al-Qonun, terj. Chadijah Nasution. Hlm. 216.

[8]Lihat Fath al-Bari Syarah Shohih Bukhori CD Mausu’ah

[9]Qadri Azizi, Elektisisme Hukum Nasional, Kompetisi antara Hukum Nasional dan Hukum Umum. Cet. I, (Yogyakarta: Gama Media, 2002), hlm. 37.

[10]Muhammad ’Imarah, Barat Versus Islam; Kritik di balik Hegemoni Wacana Barat atas Islam (Jakarta: Sajadah Press, 2005), hlm. 295.

[11]Areta, Ria Indah dalam Kepemimpinan Politik Perempuan dalam Islam (Studi Pemikiran Fatima Mernissi dan Siti Musdah. Skripsi UIN Sunan Kalijaga. 2008. hlm. 39.

[12]Qurays Shihab, Perempuan; dari Cinta sampai Seks, dari Nikah Mut’ah sampai Nikah Sunnah, dari Bias Lama sampai Bias Baru  (Jakarta: Lentera Hati, 2005), hlm. 381.

[13]www.suaramedia.com, diakses pada tanggal 20 Maret 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s