Bolehkan Perempuan Menjadi Imam Shalat Bagi Laki-Laki?

images

  1. PENDAHULUAN

Perempuan jadi Imam salat bagi sesama perempuan itu biasa, tapi bagaimana kalau perempuan menjadi imam salat bagi laki-laki??
nah… waktu Aq kuliah dulu pernah dapet tugas buat bikin makalah tentang perempuan menjadi imam salat bagi laki-laki dari tinjauan Hadis…
ini dia makalahnya.. Check it out..

HADIS-HADIS TENTANG PEREMPUAN YANG MENGIMAMI LAKI-LAKI KETIKA SALAT

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً[1]

Artinya: …Dari Abdullah bin Umar, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, “Salat jama’ah lebih utama dibandingkan dengan  sendirian dengan 27 derajat.”

و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ وَحْدَهُ سَبْعًا وَعِشْرِينَ و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالَ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي قَالَا حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ قَالَ ابْنُ نُمَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ و قَالَ أَبُو بَكْرٍ فِي رِوَايَتِهِ سَبْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً و حَدَّثَنَاه ابْنُ رَافِعٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ أَخْبَرَنَا الضَّحَّاكُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بِضْعًا وَعِشْرِينَ[2]

Artinya: …Dari Ibn Umar dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Salat seorang laki-laki berjama’ah menambah salatnya sendirian dengan 27 derajat”…dari Numair, “dua puluh sekian” dari Abu Bakar

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا الْعَوَّامُ بْنُ حَوْشَبٍ حَدَّثَنِي حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمْ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ[3]

Artinya:…dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah engkau melarang istri-istrimu untuk pergi ke mesjid, dan sesungguhnya rumahnya lebih baik baginya”

قَالَ الْحَافِظ فِي تَلْخِيص الْحَبِير : حَدِيث عَائِشَة أَنَّهَا أَمَّتْ نِسَاءً فَقَامَتْ وَسْطَهنَّ[4]

Artinya: hadis Aisyah, sesungguhnya ia mengimami perempuan dan berdiri ditengahnya.

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ قَالَ حَدَّثَتْنِي جَدَّتِي عَنْ أُمِّ وَرَقَةَ بِنْتِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ الْأَنْصَارِيِّ وَكَانَتْ قَدْ جَمَعَتْ الْقُرْآنَ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَمَرَهَا أَنْ تَؤُمَّ أَهْلَ دَارِهَا وَكَانَ لَهَا مُؤَذِّنٌ وَكَانَتْ تَؤُمُّ أَهْلَ دَارِهَا[5]

Artinya: …dari Ummu Waraqah, dia adalah pengumpul Alquran. Nabi SAW telah menyuruhnya untuk menjadi imam di rumahnya, dan baginya muazin, dia menjadi imam bagi penghuni rumahnya.”

  1. PEREMPUAN SEBAGAI IMAM SALAT BAGI LAKI-LAKI
    1. 1.       Takhrij Hadis

Pintu masuk pertama kegiatan penelitian hadis adalah melakukan takhrījul hadīŝ, ini dilakukan untuk menelusuri asal-usul riwayat yang akan diteliti, mengetahui seluruh jalur periwayatan, serta dapat diketahui ada dan tidaknya syāhid serta muttabi’ pada sanad yang diteliti.[6] Setelah dilakukan penelusuran dalam kutub tis’ah melalui CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, hadis tersebut ditemukan dalam Musnad Ahmad Bab Min Musnad al-Qabāil, hadiŝ Ummu Waraqah binti Abdullāh binti al-Hāriŝ al-Anșari no. 26.023 dan Sunan Abu Dāwud Bab al-Șalāh Imāmah al-Nisā  nomor 500.[7] Berikut ini lafaz lengkap hadis tersebut:

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ قَالَ حَدَّثَتْنِي جَدَّتِي عَنْ أُمِّ وَرَقَةَ بِنْتِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ الْأَنْصَارِيِّ وَكَانَتْ قَدْ جَمَعَتْ الْقُرْآنَ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَمَرَهَا أَنْ تَؤُمَّ أَهْلَ دَارِهَا وَكَانَ لَهَا مُؤَذِّنٌ وَكَانَتْ تَؤُمُّ أَهْلَ دَارِهَا[8]

Artinya: …dari Ummu Waraqah, dia adalah pengumpul Alquran. Nabi SAW telah menyuruhnya untuk menjadi imam di rumahnya, dan baginya muazin, dia menjadi imam bagi penghuni rumahnya.”

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعُ بْنُ الْجَرَّاحِ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُمَيْعٍ قَالَ حَدَّثَتْنِي جَدَّتِي وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ خَلَّادٍ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ أُمِّ وَرَقَةَ بِنْتِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نَوْفَلٍ الْأَنْصَارِيَّةِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا غَزَا بَدْرًا قَالَتْ قُلْتُ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي فِي الْغَزْوِ مَعَكَ أُمَرِّضُ مَرْضَاكُمْ لَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَرْزُقَنِي شَهَادَةً قَالَ قَرِّي فِي بَيْتِكِ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَرْزُقُكِ الشَّهَادَةَ قَالَ فَكَانَتْ تُسَمَّى الشَّهِيدَةُ قَالَ وَكَانَتْ قَدْ قَرَأَتْ الْقُرْآنَ فَاسْتَأْذَنَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَتَّخِذَ فِي دَارِهَا مُؤَذِّنًا فَأَذِنَ لَهَا قَالَ وَكَانَتْ قَدْ دَبَّرَتْ غُلَامًا لَهَا وَجَارِيَةً فَقَامَا إِلَيْهَا بِاللَّيْلِ فَغَمَّاهَا بِقَطِيفَةٍ لَهَا حَتَّى مَاتَتْ وَذَهَبَا فَأَصْبَحَ عُمَرُ فَقَامَ فِي النَّاسِ فَقَالَ مَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْ هَذَيْنِ عِلْمٌ أَوْ مَنْ رَآهُمَا فَلْيَجِئْ بِهِمَا فَأَمَرَ بِهِمَا فَصُلِبَا فَكَانَا أَوَّلَ مَصْلُوبٍ بِالْمَدِينَةِ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ حَمَّادٍ الْحَضْرَمِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ جُمَيْعٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ خَلَّادٍ عَنْ أُمِّ وَرَقَةَ بِنْتِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بِهَذَا الْحَدِيثِ وَالْأَوَّلُ أَتَمُّ قَالَ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا فِي بَيْتِهَا وَجَعَلَ لَهَا مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ لَهَا وَأَمَرَهَا أَنْ تَؤُمَّ أَهْلَ دَارِهَا قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فَأَنَا رَأَيْتُ مُؤَذِّنَهَا شَيْخًا كَبِيرًا[9]

Artinya: …Ketika perang Badar saya (Ummu Waraqah) berkata pada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah SAW izinkan saya bersama engkau di pertempuran untuk merawat prajurit-prajurit yang sakit, barangkali Allah menganugerahkan aku mati Syahid.” Beliau bersabda, “Tetaplah di rumahmu, maka Allah akan menganugerahkan kamu mati syahid.” Demikianlah ia disebut syahĪdah (kata Abdurrahman) dan dia ahli membaca Alquran. Dia meminta izin kepada Rasulullah SAW mengangkat seorang muazin di rumahnya. Dia menjadikan kedua budak laki-lakinya dan budak perempuannya sebagai mudabbar. Pada suatu malam kedua budaknya itu bangun dan pergi kepadanya kemudian menyelubungkan sehelai kain tutup muka kepada wajahnya sampai ia wafat. Keesokan harinya umar berpidato, ”Barangsiapa yang mengetahui atau melihat kedua budak ini, hendaklah dibawa kemari.” Setelah diketahui maka diperintahkan untuk ditangkap dan di pancung, sesungguhnya budak inilah yang pertama kali dipancung di Madinah… Rasulullah SAW mengunjungi rumahnya (Ummu Waraqah), lalu mengangkat seorang muazin yang mengumandangkan azan baginya dan memerintahkannya menjadi imam di rumahnya. Abdurrahman berkata, “muazinnya seorang kakek-kakek.”

Adapun hadis yang akan  menjadi sentral penelitian adalah hadis riwayat Ahmad pada bab Min Musnad al-Qabāil, hadiŝ Ummu Waraqah binti Abdullāh binti al-Hāriŝ al-Anșari no. 26.023.

  1. I’tibar Sanad

Hadis riwayat Imam Ahmad nomor 26.023 tentang kebolehan perempuan sebagai imam salat, memiliki satu rangkaian sanad saja, yaitu  Umu Waraqah binti ‘Abdullah bin al-Hāriŝ al-Anșarī, Lailā binti Mālik, al-Walīd, Abu Nu’aim, Ahmad bin Hanbal. Berbeda dengan hadis riwayat Abu Dawud nomor 500, hadis ini memiliki tiga rangkaian sanad, pertama jalur yaitu  Umu Waraqah binti ‘Abdullah bin naufal al-Anșarī, Lailā binti Mālik, al-Walīd bin Abdullah bin Juma’i, Wakī’ bin al-Jarrāh, Uŝman ibn Abi Saibah, Abu Dāwud. Kedua, Umu Waraqah binti ‘Abdullah bin naufal al-Anșarī, Abdurrahman bin Khalad al-Anșarī , al-Walīd bin Abdullah bin Juma’i, Wakī’ bin al-Jarrāh, Uŝman ibn Abi Saibah, Abu Dāwud. Ketiga, Waraqah binti ‘Abdullah bin al-Hāriŝ al-Anșarī, Abdurrahman bin Khalad, al-Walīd  bin Juma’i, Muhammad bin Fudlail, al-Hasan bin Hammād al-Hadlramī, Abu Dāwud. Sehingga empat sanad hadis yang berbicara tentang Ummu Waraqah yang diperintahkan untuk menjadi imam salat.

Hadis riwayat Ahmad dari Ummu Waraqah tidak mempunyai syahid dan mempunyai beberapa muttabi’, yakni Abdurrahman bin Khalad dalam tingkatan perawi kedua sebagai muttabi’ Lailā binti Mālik. Sedangkan pada tingkatan perawi ketiga, al-Walīd bin Abdullah tidak memiliki muttabi’ dari kalangannya, tabiin kecil. Pada tingkatan selanjutnya, Abu Nu’aim memiliki dua muttabi’ yaitu Wakī’ bin al-Jarrāh dan Muhammad bin Fudlail. Pada tingkatan mukharij, Ahmad bin Hanbal memiliki tiga muttabi’, yaitu Uŝman ibn Abi Saibah, al-Hasan bin Hammād al-Hadlramī, dan Abu Dawud.[10]

Ihwal ketidakadaan syahid bagi Ummu Waraqah

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa hadis ini termasuk ke dalam kategori hadis gharīb, hadis yang dalam salah satu tabaqahnya atau lebih hanya ada satu orang periwayat saja.[11] Hal ini karena pada tabaqah sahabat (perawi pertama)   hanya ditemukan satu nama perawi saja, Ummu Waraqah. Untuk lebih jelasnya berikut ini kami hadirkan bagan sanad hadis tersebut.

عبد الرحمن

الوليد

محمد بن فضيل

وكيع بن الجرح

وكيع بن الجرح

الحسن بن حماد

عثمان بن محمد

عثمان بن محمد

  1. Aspek  Sanad

Hadis riwayat Imam Ahmad dari Ummu Waraqah mempunyai  lima orang periwayat, adapun urutannya  adalah sebagai berikut:

Urutan  Periwayat/Sanad

Nama Periwayat

Perawi I Sanad V Ummu Waraqah
Perawi II Sanad IV Lailā binti Mālik
Perawi III Sanad III Al-Walīd
Perawi IV Sanad II Abu Nu’aim
Perawi V Sanad I Ahmad bin Hanbal
  1. Kualitas Perawi

1)     Ummu Waraqah

Bernama lengkap Ummu Waraqah binti ‘Abdullah bin al-Hāriŝ bin ‘Uwamair bin Naufal al-Anșarīyah. Mengenai nasabnya, para ulama berbeda pendapat, ada yang mengatakan bahwa ia bernasab al- Hāriŝ  dan adapula yang berpendapat bahwa ia adalah keturunan Naufal. Ia merupakan sahabat Nabi SAW yang mempunyai gelar al-syahīdah,[12] selain itu ia juga merupakan seorang ahli qira’at  dan pengumpul Alquran. [13] hidup Ummu Waraqah berakhir setelah dibunuh oleh dua orang pembantunya (seorang laki-laki dan perempuan) dengan cara menyelubungkan sehelai kain tutup muka kepada wajahnya sampai ia wafat.[14] sejauh penelitian yang penulis lakukan, dalam berbagai kitab Rijalul Hadis tidak dicantumkan tahun lahir dan tahun wafat serta nama-nama murid dan  gurunya, namun dalam  CD Mausu’ah al-Hadīŝ al-Syarīf disebutkan bahwa ia meriwayatkan hadis hanya kepada dua orang saja: Abdurrahman bin Khalad dan Lailā binti Mālik.[15]

Berpijak pada pendapat kulu sahabah ‘udul, menjadikannya berkredibilitas adil.

2)     Lailā binti Mālik

Tidak banyak data yang ditemukan dari periwayat ini. Ia adalah seorang tabi’in golongan tengah, menerima hadis dari Ummu Waraqah dan hanya meriwayatkan hadis kepada Al-Walīd[16] yang masih memiliki pertalian darah dengan nya (cucu-nenek). [17] Ia memiliki hubungan keluarga tidak hanya dengan Al-Walīd saja, akan tetapi dengan Ummu Waraqah pun ia memiliki pertalian darah, ibu-anak.[18]  Adapun mengenai kredibilitasnya ia dikenal sebagai orang yang maqbūl.[19]

3)     Al-Walīd

Al-Walīd bin Abdullāh bin Jumai’ al-Zuhrī al-Kūfī, tidak ditemukan data mengenai tahun lahir dan wafatnya, namun dalam CD Mausu’ah al-Hadīŝ al-Syarīf disebutkan bahwa ia merupakan seorang perawi dari kalangan tābi’īn kecil dari Kufah.[20] Ia mempunyai guru, diantaranya Ummu Waraqah , Lailā binti Mālik (neneknya), Ibrāhīm al-Nakhāi, ‘Ikrīmah maulā ibn Abbās, dan Mujāhid bin Jabr. Sedangkan muridnya antara lain Abu Nu’aim al-Fadl bin Dukain, Wakī’ bin al-Jarāh, Ŝābit bin al-Walīd, Salamah bin Rajā’, dan Ubaidullāh bin Mūsā. Berikut ini penilaian para ulama terhadapnya,

Ahmad bin Hanbal          : ليس به بأس

Abu Dāwūd                      : ليس به بأس

Yahyā bin Ma’īn               : ثقة

Al-‘Ijlī                                : ثقة

Abu Hātim                                    : صالح الحديث [21]

Lafaz-lafaz jarh ta’dil tersebut menunjukan bahwa al-Walid merupakan perawi yang adil dan dlabit, karena sebgaimana yang dikemukakan oleh para ulama (Abu Hatim al-Raji, al-Dzahabi, ibn Hajar, dan Ibn Shalah) lafaz ليس به بأس, ثقة, dan صالح الحديث merupakan lafaz ta’dil.[22]

4)     Abu Nu’aim

Nama lengkapnya Al-Fadl bin Dukain bin Hamād bin Zuhair Abu Nu’aim al-Malaī al-Kūfī. Al-Fadl bin Dukain memiliki kuniyah Abu Nu’aim dan bernasab al-Malaī. Pembantu keluarga  Ţalhah ibn Ubaidillah ini lahir pada tahun 130 H dan wafat pada tahun 219 H, sehingga terolong kalangan atbā kecil yang berdomisili di Kufah.[23] Ia menerima hadis diantaranya dari Al-Walīd bin Abdullāh bin Jumai’, Sufyān bin Sa’īd, Ibrāhīm bin Nāfi, Israīl bin Yūnus, dan Israīl bin Muslim. Sedangkan muridnya adalah Ahmad bin Șālih, Amru bin Manșūr, Muhammad bin Ahmad

Para ulama jarh ta’dīl menilainya positif. Abu Hātim menyatakan bahwa ia merupakan perawi yang ثقة  sedangkan Abu Zur’ah memberikan predikat متقن kepadanya.[24]

Ibn Shalah, al-Nawawi, dan Ibn Abi Hatim al-Razi sepakat bahwa ثقة  dan متقن merupakan lafaz ta’dil tingkatan pertama.[25] Dengan demikian ia merupakan perawi yang adl dan dlabit.

5)     Ahmad bin Hanbal

mukharij

  1. Ketersambungan

Ada dua aspek  yang dikaji dalam meneliti persambungan sanad, lambang-lambang metode periwayatan dan hubungan  periwayat dengan metode periwayatannya.[26]

 

Tidak terdapat tanda-tanda yang mengindikasikan tersandarnya hadis ini pada Rasulullah SAW. Hadis ini hanya berupa pekerjaan yang dilakukan sahabat yang dari segi dzahir teksnya mendapatkan izin dari Nabi SAW.

Ummu Waraqah dengan Lailā binti Mālik memiliki hubungan guru dan murid. Lambang periwayatan yang digunakan adalah lafaz ‘an yang menunjukan kuang jelas atau keraguan dalam periwayatan. Sebagai sahabat, kredibilitas Ummu Waraqah tidak diragukan lagi, namun lain halnya dengan Lailā binti Mālik yang dinilai maqbul. Meskipun masuk kedalam kategori lafaz ta’dil namun posisinya menduduki peringkat keenam.[27] Akan tetapi adanya hubungan darah antara Ummu Waraqah dengan Lailā binti Mālik, mengindikasikan kemungkinan adanya kemuttasilan sangat besar.

Lailā binti Mālik dengan Al-Walīd, hubungan keduanya adalah guru dan murid, selain itu antara keduanya masih ada hubungan darah. Lambang periwayatan yang digunakan adalah hadaŝatni. Lafaz ini dianggap memiliki nilai akurasi yang tinggi karena adanya relasi langsung antar periwayatnya. [28] Keadaan Al-Walīd yang ŝiqat memperkuat kemungkinan kemuttasilan dengan Lailā binti Mālik.

Abu Nu’aim dengan Al-Walīd. Șigat tahammūl wa al-adā-nya adalah hadaŝana yang memiliki nilai akurasi yang tinggi karena adanya relasi langsung antar periwayatnya.[29] Ulama jarh ta’dil memberi predikat ŝiqat dan mutqin kepada Abu Nu’aim, artinya ia adalah seorang yang adl dan dabit. Sehingga sangat pantas jika lambang periwayatan yang digunakan adalah lafaz hadaŝana. Hubungan guru-murid antara keduanya pun memperkuat kemuttasilan mereka.

Begitu juga antara Abu Nu’aim dengan Ahmad bin Hanbal. Ahmad bin Hanbal adalah seorang yang adil dan dabit, ketika meriwayatkan hadis dari Abu Nu’aim ia menggunakan lafaz hadaŝana yang menunjukan adanya interaksi langsung dengan Abu Nu’aim ketika menerima hadis darinya. Keduanya pun tercatat sebagai guru dan murid, sehingga sangat dimungkinkan antara keduanya muttasil.

Dengan demikian hadis riwayat Ahmad nomor 26.023 ini memiliki sanad yang bersambung dari sahabat sampai pada mukharij. Hadis ini merupakan hadis maqthu’ artinya hadis yang bersambung pada sahabat.

  1. Terhindar dari Syadz dan Illat

Imam Syafi’I berpendapat bahwa yang dimaksud dengan syuzuz adalah riwayat orang ŝiqah bertentangan dengan riwayat orang yang ŝiqah pula. [30] sejauh penelitian penulis, selain hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ummu Waraqah terdapat sebuah hadis lagi yang berbicara tentang imam perempuan bagi laki-laki, hadis riwayat Ibn Majah nomor 1.071 yang bersumber dari Jabir bin Abdullah,[31]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ بُكَيْرٍ أَبُو جَنَّابٍ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْعَدَوِيُّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا وَبَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ قَبْلَ أَنْ تُشْغَلُوا وَصِلُوا الَّذِي بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ رَبِّكُمْ بِكَثْرَةِ ذِكْرِكُمْ لَهُ وَكَثْرَةِ الصَّدَقَةِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ تُرْزَقُوا وَتُنْصَرُوا وَتُجْبَرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْكُمْ الْجُمُعَةَ فِي مَقَامِي هَذَا فِي يَوْمِي هَذَا فِي شَهْرِي هَذَا مِنْ عَامِي هَذَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ تَرَكَهَا فِي حَيَاتِي أَوْ بَعْدِي وَلَهُ إِمَامٌ عَادِلٌ أَوْ جَائِرٌ اسْتِخْفَافًا بِهَا أَوْ جُحُودًا لَهَا فَلَا جَمَعَ اللَّهُ لَهُ شَمْلَهُ وَلَا بَارَكَ لَهُ فِي أَمْرِهِ أَلَا وَلَا صَلَاةَ لَهُ وَلَا زَكَاةَ لَهُ وَلَا حَجَّ لَهُ وَلَا صَوْمَ لَهُ وَلَا بِرَّ لَهُ حَتَّى يَتُوبَ فَمَنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَلَا لَا تَؤُمَّنَّ امْرَأَةٌ رَجُلًا وَلَا يَؤُمَّ أَعْرَابِيٌّ مُهَاجِرًا وَلَا يَؤُمَّ فَاجِرٌ مُؤْمِنًا إِلَّا أَنْ يَقْهَرَهُ بِسُلْطَانٍ يَخَافُ سَيْفَهُ وَسَوْطَهُ

Artinya:…dari Jabr bin Abdullah, ia berkata, “Rasulullah berkhutbah dan mengatakan ‘bertaubatlah kalian kepada Allah sebelum engkau wafat dan bersegeralah untuk berbuat kebaiakan sebelum engkau sibuk, perdekatlahlah hubungan dengan Tuhanmu dengan banyak membaca dzikir, memperbanyak sadaqah baik dengan sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, maka kamu akan diberi rejeki, ditolong, dan dicukupi. ketahuilah bahwasannya Allah telah mewajibkan salat Jumat di tempat ini, mulai saat ini, dan tahun ini sampai hari kiamat, maka barangsiapa yangmeninggalkannya pada masaku atau masa sesudahnya dan ia memiliki pemimpin yang adil maupun yang lalim yang minta keringanan atau yang mengingkarinya, maka Allah tidak akan mengumpulkan baginya barang yang tercecer dan tidak akan memberikan kebahagiaan dalam urusannya. Ingatlah tidak ada gunanya salat, zakat, haji, puasa, dan kebajikan baginya sampai ia bertaubat kepada Allah. Dan ingatlah jangan sekali-kali perempuan menjadi imam laki-laki, dan orang arab mengimamai muhajir, orang yang berbuat dosa mengimami mukmin, kecuali Karena penguasa menekannya dan takut akan pedang dan cambuknya.

Dalam riwayat Ibnu Majah tersebut terdapat tiga orang perawi yang dianggap bermasalah, pertama ‘Ali bin Zaid, dinilai dlaif, kedua Abdullah bin Muhammad al-Adawi, dinilai matruk ramahu bi al-wadh’i, ketiga al-Walid bin Bakīr yang dinilai layyin al-hadīŝ.[32] Dengan memiliki tiga orang perawi yang jarh maka hadis tersebut dinyatakan dlaif.

Hadis riwayat Ahmad dari Ummu Waraqah nomor 26.023 yang berbicara tentang imam perempuan diriwayatkan oleh perawi yang ŝiqah. Sedangkan hadis yang bericara tentang imam perempuan lainnya, hadis riwayat Ibn Majah nomor 1.071 diriwayatkan oleh perawi yang dlaif dan tidak dapat diterima periwayatannya. Dengan demikian, hadis riwayat Ahmad dari Ummu Waraqah tidak dapat dikatakan mempunyai syadz.

Yang dimaksud dengan illah ialah cacat yang tersembunyi yang tidak terlihat secara langsung dalam penelitian terhadap satu jalur sanad. Penelitiannya  dapat dilakukan dengan membandingkan seluruh sanad yang isinya semakna.[33] Adakalanya illah berbentuk penambahan,  pengurangan, tertukarnya huruf atau titik dalam rangkaian sanad.

Setelah dibandingkan dengan tiga jalur sanad lainnya, tidak ada tanda-tanda terkandungnya illat dalam jalur riwayat Ahmad dari Ummu Waraqah. Baik dari segi tașhif-tahrīf, mudrāj,dan munqalib.

Hadis ini diriwayatkan oleh orang yang siqat, bersambung sanadnya kepada sahabat, terhindar dari syadz dan illah. Penulis berpendapat bahwa hadis ini berkualitas hasan karena diriwayatkan oleh perawi yang siqah tetapi tingkat kesiqahannya tidak sempurna dan dibawah kesiqahan yang disyaratkan bagi hadis shahih.

  1. Aspek Matan
    1. Susunan Redaksi Matan yang Semakna

Melihat pada hasil takhrij, ada tiga variasi matan dari hadis  Imam Ahmad dari Ummu Waraqah ini. Satu matan pada riwayat Imam Ahmad dan dua matan dalam riwayat Abu Dawud. Untuk lebih jelasnya, penulis hadirkan tabel variasi matan tersebut. [34]

Sumber

No

hadis

Bab

Lafadz Matan

musnad Ahmad bin Hanbal

26.023

Min Musnad al-Qabāil, hadiŝ Ummu Waraqah binti Abdullāh binti al-Hāriŝ al-Anșari

وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ أَمَرَهَا أَنْ تَؤُمَّ أَهْلَ دَارِهَا وَكَانَ لَهَا مُؤَذِّنٌ وَكَانَتْ تَؤُمُّ أَهْلَ دَارِهَا

Sunan Abu Dāwud

500

al-Șalāh Imāmah al-Nisā

وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا فِي بَيْتِهَا وَجَعَلَ لَهَا مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ لَهَا وَأَمَرَهَا أَنْ تَؤُمَّ أَهْلَ دَارِهَا

وَكَانَتْ قَدْ قَرَأَتْ الْقُرْآنَ فَاسْتَأْذَنَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَتَّخِذَ فِي دَارِهَا مُؤَذِّنًا فَأَذِنَ لَهَا

Pada riwayat Abu Dawud, lafadz matannya tidak hanya berisi tentang izin Rasulullah SAW terhadap Ummu Waraqah untuk mengimami anggota rumahnya, tetapi secara panjang lebar meceritakan asal-usul pemberian laqab syahidah baginya beserta kisah terbunuhnya Ummu Waraqah oleh kedua orang pembantunya. Sedangkan riwayat Ahmad bin Hanbal tidak menceritakan hal tersebut.

Memang ketiga matan tersebut tidak memiliki kesamaan lafadz, ketiganya berbeda. Akan tetapi, penulis berasumsi bahwa perbedaan tersebut hanya terletak pada susunan kalimatnya saja yang merupakan bukti riwayat bilmakna. Adapun mengenai matan yang terdapat dalam Sunan Abu Dawud Umu Waraqah binti ‘Abdullah bin naufal al-Anșarī, Abdurrahman bin Khalad al-Anșarī , al-Walīd bin Abdullah bin Juma’i, Wakī’ bin al-Jarrāh, Uŝman ibn Abi Saibah, penulis berasumsi bahwa salah seorang perawi menggabungkan tiga riwayat, yaitu tentang sebab pemberian gelar syahida, pemberian izin Rasulullah SAW terhadap Ummu Waraqah untuk mengangkat seorang muazin, dan kisah pembunuhan beliau. Penulis belum mendapatkan kesimpulan mengenai apakah hal ini menjadi sesuatu yang dapat merusak citra matan hadis tersebut atau tidak karena telah ada kalimat lain yang menambahinya. Dan kiranya perlu penelitian lanjut mengenai hal ini.

  1. b.       Historisitas Hadis

Tidak ditemukan data historis yang berbicara tentang sebab khusus kemunculan hadis ini.

  1. c.       Mukhtalif Hadis

Secara eksplisit, hadis riwayat Imam Ahmad dari Ummu Waraqah ini mengindikasikan kebolehan perempuan menjadi imam salat bagi laki-laki. Pada suatu hari Rasulullah SAW berkunjung ke rumah Ummu Waraqah dan mengizinkannya untuk menjadi imam salat di rumahnya. Sedangkan pada waktu itu ada dua orang laki-laki disana, seorang kakek-kakek dan seorang pembantu. Orang tua tersebut diperintahkan untuk mengumandangkan adzan.

Terdapat hadis lain yang secara dhahir teks bertentangan dengan hadis tersebut, yaitu riwayat Ibnu Majah dari Jabr bin Abdullah nomor 1.071.[35]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ بُكَيْرٍ أَبُو جَنَّابٍ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْعَدَوِيُّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا… أَلَا لَا تَؤُمَّنَّ امْرَأَةٌ رَجُلًا وَلَا يَؤُمَّ أَعْرَابِيٌّ مُهَاجِرًا وَلَا يَؤُمَّ فَاجِرٌ مُؤْمِنًا إِلَّا أَنْ يَقْهَرَهُ بِسُلْطَانٍ يَخَافُ سَيْفَهُ وَسَوْطَهُ

            Dalam hadis tersebut Rasulullah SAW melarang perempuan untuk menjadi imam salat bagi laki-laki. Akan tetapi, seperti yang telah dipaparkan pada bahasan sebelumnya, syadz dan illah dalam sanad, hadis tersebut berkualitas dlaif karena dalam jalur periwataannya ditemukan tiga perawi yang bermasalah, yaitu ‘Ali bin Zaid dinilai dlaif,  Abdullah bin Muhammad al-Adawi dinilai matruk ramahu bi al-wadh’i,  dan  al-Walid bin Bakīr yang dinilai layyin al-hadīŝ. Dengan demikian kedua hadis ini tidak dapat dimasukan menjadi bahasan mukhtalif hadis karena dalam mukhtalif hadis disyaratkan kesetaraan kualitas dan kemaqbulan antara dua hadis tersebut.[36]

  1. Sejalan dengan Alquran

Sejauh pengetahuan penulis, tidak ada ayat Alquran yang melarang atau memerintahkan perempuan menjadi seorang imam bagi laki-laki. Akan tetapi, kebanyakan para ulama fikih[37] mengambil QS An-Nisa [4]: 34 sebagai dalil pelarangan imam perempuan atas laki-laki. Begitu pula dengan beberapa ulama tafsir. Secara jelas al-Zamakhsari menyebutkan dalam tafsirnya bahwa imamah salat adalah hak laki-laki dan merupakan sebuah keunggulan dari perempuan.[38] Hal yang senada diungkapkan oleh Ibn Katsir yang berangkat dari penafsiran laki-laki adalah pemimpin, kepala, pelindung, pengayom, dan pendidik perempuan.[39]

ãA%y`Ìh9$# šcqãBº§qs% ’n?tã Ïä!$|¡ÏiY9$# $yJÎ/ Ÿ@žÒsù ª!$# óOßgŸÒ÷èt/ 4’n?tã <Ù÷èt/ !$yJÎ/ur (#qà)xÿRr& ô`ÏB öNÎgÏ9ºuqøBr& 4 àM»ysÎ=»¢Á9$$sù ìM»tGÏZ»s% ×M»sàÏÿ»ym É=ø‹tóù=Ïj9 $yJÎ/ xáÏÿym ª!$# 4 ÓÉL»©9$#ur tbqèù$sƒrB  Æèdy—qà±èS  ÆèdqÝàÏèsù £`èdrãàf÷d$#ur ’Îû ÆìÅ_$ŸÒyJø9$# £`èdqç/ΎôÑ$#ur ( ÷bÎ*sù öNà6uZ÷èsÛr& Ÿxsù (#qäóö7s? £`ÍköŽn=tã ¸x‹Î6y™ 3 ¨bÎ) ©!$# šc%x. $wŠÎ=tã #ZŽÎ6Ÿ2 ÇÌÍÈ

Artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka). wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.  Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

Lain halnya dengan Imam al-Tabari, ia meafsirkan kata qawwamun dalam ayat tersebut hanya sebatas laki-laki penanggung jawab pendidikan, nafkah, dan penjagaan harta istrinya.[40] Ia tidak menjadikan ayat ini sebagai landasan ketidakbolehan perempuan menjadi imam bagi laki-laki.[41] Begitu pula dengan Quraish Shihab, ia tidak melandaskan larangan perempuan menjadi imam salat bagi laki-laki pada ayat tersebut.[42]

Berdasarkan penelitian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwasannya matan hadis tersebut terhindar dari syadz dan illat, tidak bertentangan dengan Alquran dan hadis yang lebih kuat darinya.

  1. Pemahaman Hadis

Secara umum, pendapat ulama mengenai hukum perempuan menjadi imam salat bagi laki-laki terbagi menjadi dua, yang membolehkan dan yang tidak membolehkan. Pada umumnya pendapat pertama ini, yang membolehkan, didasarkan pada hadis riwayat Ummu Waraqah tentang imam salat perempuan. Beberapa ulama klasik berpandangan bahwa perempuan boleh menjadi imam bagi laki-laki dengan menyaratkan bahwa makmumnya adalah anggota rumahnya. Pendapat yang dihasilkan dari pemahaman secara tekstual ini dipegangi oleh al-Șan’ani, Abu Ŝaur, al-Muzanī, al-Daruquţnī, dan Imām Abdul Azīz bin Abdullah bin Bāz.[43] Sedangkan Imam al-Ţabarī selain menyaratkan makmumnya merupakan anggota rumahnya juga mengkhususkan bahwa kebolehan ini hanya pada salat tarawih saja itu pun jika tidak ada yang hapal Alquran.[44]

M. Alfatih Suryadilaga membolehkan perempuan menjadi imam salat bagi laki-laki dengan tidak membatasi kondisi makmum dan jenis salatnya.[45] Begitu juga dengan Nurun Najwah, ia memperbolehkan perempuan menjadi imam salat bagi laki-laki, namun tidak seperti M. Alfatih Suryadilaga yang berkesimpulan bahwa hadis riwayat Ummu Waraqah tersebut bernilai shahih, Nurun Najwah menilai hadis tersebut dlaif.[46]

Ketidak bolehan perempuan menjadi imam bagi salat laki-laki dipegang oleh mayoritas ulama[47] terutama ulama-ulama fikih. al-Syafi, Maliki, Hanafi, dan Hanbali berpendapat bahwa imam salat bagi laki-laki haruslah laki-laki dan tidak syah jika perempuan menjadi imam salat bagi laki-laki.[48]

  1. Pemaknaan Ulang terhadap Problem Imamah

Dalam pemaknaan ulang problem imamah, pembahasan mengenai syarat-syarat imam salat dirasa penting. Karena hal inilah yang harus didapati dalam seorang imam salat dan juga diungkapkan secara jelas oleh Rasulullah SAW.

  1. Yang paling banyak bacaan Alqurannya

Riwayat Imam Muslim yang marfū’, muttașīl, tiga jalur berkualitas șahīh dan tiga jalur berkualitas hasan, [49] berikut ini hadis nomor 1.077[50]

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانُوا ثَلَاثَةً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَحَدُهُمْ وَأَحَقُّهُمْ بِالْإِمَامَةِ أَقْرَؤُهُمْ و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ح و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي عَرُوبَةَ ح و حَدَّثَنِي أَبُو غَسَّانَ الْمِسْمَعِيُّ حَدَّثَنَا مُعَاذٌ وَهُوَ ابْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي كُلُّهُمْ عَنْ قَتَادَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا سَالِمُ بْنُ نُوحٍ ح و حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ جَمِيعًا عَنْ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ

Artinya:…dari Abu Sa’id al-Khudrī, dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW berkata, “Apabila ada tiga orang, maka jadikanlah salah seorang diantara mereka sebagai imam, dan yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling baik bacaan (Alquran) nya…”

  1. Yang lebih ‘alim (pakar)

Riwayat Imam Muslim, tiga jalur berkualitas șahīh dan empat jalur berkualitas hasan, [51] hadis nomor 1.078[52] menyebutkan:

و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي خَالِدٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ عَنْ أَوْسِ بْنِ ضَمْعَجٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ قَالَ الْأَشَجُّ فِي رِوَايَتِهِ مَكَانَ سِلْمًا سِنًّا حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ كُلُّهُمْ عَنْ الْأَعْمَشِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ

Artinya:…dari Abu Sa’id al-Khudrī, dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling baik bacaan Alqurannya, jika bacaan mereka sama, maka yang paling mengetahui sunnah. Jika mereka sama maka yang lebih dahulu masuk islam. Tidak boleh seseorang menjadi imam di tempat orang lain dan duduk di rumahnya, sebagai penghormatan kepadanya, kecuali atas izinya…”

  1. Yang lebih tua

Hadis yang diriwayat Imam Muslim, dua jalur berkualitas șahīh [53] berikut ini hadis nomor 1.081[54]

و حَدَّثَنِي إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَصَاحِبٌ لِي فَلَمَّا أَرَدْنَا الْإِقْفَالَ مِنْ عِنْدِهِ قَالَ لَنَا إِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَأَذِّنَا ثُمَّ أَقِيمَا وَلْيَؤُمَّكُمَا أَكْبَرُكُمَا و حَدَّثَنَاه أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا حَفْصٌ يَعْنِي ابْنَ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَزَادَ قَالَ الْحَذَّاءُ وَكَانَا مُتَقَارِبَيْنِ فِي الْقِرَاءَةِ

Artinya:…dari Mālik bin al-Huwairiŝ, dia berkata, “Aku mendatangi Nabi bersama temanku maka tatkala aku akan kembali melanjutkan perjalanan beliau bersabda, ‘Apabila hendak mendirikan salat, maka azanlah dan berdirilah, dan yang lebih tua diantaramu, jadikanlah imam..

  1. Tuan rumah

Riwayat Imam Muslim yang marfū’, muttașīl, dan berkualitas șahīh, [55] hadis nomor 1.079 menyebutkan[56]

و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ أَوْسَ بْنَ ضَمْعَجٍ يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا مَسْعُودٍ يَقُولُا قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ وَأَقْدَمُهُمْ قِرَاءَةً فَإِنْ كَانَتْ قِرَاءَتُهُمْ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَكْبَرُهُمْ سِنًّا وَلَا تَؤُمَّنَّ الرَّجُلَ فِي أَهْلِهِ وَلَا فِي سُلْطَانِهِ وَلَا تَجْلِسْ عَلَى تَكْرِمَتِهِ فِي بَيْتِهِ إِلَّا أَنْ يَأْذَنَ لَكَ أَوْ بِإِذْنِهِ

Artinya:…Aku mendengar Abu Musa berkata, telah berkata kepada kami Rasulullah SAW, “Yang mengingami suatu kaum adalah yang paling baik bacaan Alqurannya dan lebih dahulu, jika bacaannya sama maka yang lebih dahulu hijrah, jika sama maka yang lebih tua umurnya, janganlah sekali-kali seseorang menjadi imam di rumah (orang lain) dan janganlah kamu duduk di rumahnya, kecuali jika yang bersangkutan mengizinkannya…

Demikianlah lafaz yang diucapkan Rasulullah SAW mengenai syarat imam salat, dan dapat diketahui secara ekspllisit bahwa tidak terdapat syarat yang berhubungan dengan jenis kelamin seorang imam.

…dari Ummu Waraqah, dia adalah pengumpul Alquran. Nabi SAW telah menyuruhnya untuk menjadi imam di rumahnya, dan baginya muazin, dia menjadi imam bagi penghuni rumahnya.

Riwayat Abu Dawud dari Ummu Waraqah menginformasikan bahwasannya yang menjadi makmum ada tiga orang, seorang kakek-kakek (syaikh kabir), seorang pembantu laki-laki, dan seorang pembantu perempuan. Dan muazinnya adalah kakek-kakek tersebut.

Penulis merasa perlu mempertanyakan keadaan dua laki-laki yang menjadi makmum Ummu Waraqah. Disini minimal ada dua hal yang dapat diteliti, perihal syaikh kabir dan pembantu laki-laki.

Syaikh kabir, dimungkinkan ia adalah seorang kakek yang sudah jompo, artinya sudah tidak kuat beraktivitas seperti laki-laki dewasa. Hal ini diasumsikan pada perilaku Rasulullah SAW yang tidak menyuruhnya untuk berjamaah di mesjid, tetapi yang terjadi sebaliknya Rasulullah SAW memrintahkan untuk berazan dan menjadi makmum Ummu Waraqah. Padahal dalam sebuah hadis Rasulullah SAW memerintahkan salat di mesjid (khususnya bagi laki-laki).

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ الْعَبْدِيُّ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ أَبِي زَائِدَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عُمَيْرٍ عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْ الصَّلَاةِ إِلَّا مُنَافِقٌ قَدْ عُلِمَ نِفَاقُهُ أَوْ مَرِيضٌ إِنْ كَانَ الْمَرِيضُ لَيَمْشِي بَيْنَ رَجُلَيْنِ حَتَّى يَأْتِيَ الصَّلَاةَ وَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَنَا سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى الصَّلَاةَ فِي الْمَسْجِدِ الَّذِي يُؤَذَّنُ فِيهِ[57]

Artinya:…sesungguhnya Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita ketentuan-ketentuan untuk mendapat petunjuk, yaitu salat di mesjid ketika azan telah berkumandang.

Selanjutnya perbandingan kualitas keilmuan antara Ummu Waraqah dengan syaikh kabir. Mengenai hal ini penulis hanya menemukan data tentang kualitas keilmuan Ummu Waraqah saja dan tidak menemukan data tentang kualitas keilmuan syaikh kabir. Ummu Waraqah adalah seorang sahabat yang ahli membaca Alquran dan merupakan pengumpul Alquran. Dengan demikian kemampuan Ummu Waraqah untuk menjadi imam salat tidak diragukan lagi.

Mengenai pembantu laki-laki, besar kemungkinan kualitas keilmuannya dibawah Ummu Waraqah. Karena jika ia kapabel menjadi imam salat kemungkinan Rasulullah SAW menunjuknya menjadi imam, karena dapat dibenarkan seorang budak mengimami orang merdeka, sebagaimana hadis muttasil dan mauquf  yang diriwayatkan Imam al-Bukhari nomor 660[58]

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي ابْنُ جُرَيْجٍ أَنَّ نَافِعًا أَخْبَرَهُ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ قَالَ كَانَ سَالِمٌ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ يَؤُمُّ الْمُهَاجِرِينَ الْأَوَّلِينَ وَأَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَسْجِدِ قُبَاءٍ فِيهِمْ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَأَبُو سَلَمَةَ وَزَيْدٌ وَعَامِرُ بْنُ رَبِيعَةَ

Artinya:…Salim Muala abi Hudaifah mengimami orang-orang muhajirin awal dan sahabat-sahabat Nabi SAW di mesjid Kuba’. Disana ada Umar, Abu Salamah, Zaid, dan ‘Amir bi Rabi’ah.

Salim Muala abi Hudaifah adalah seorang pengumpul Alquran.[59] Hadis ini menunjukan bahwa seorang budak atau pembantu diperbolehkan menjadi imam salat asalkan ia mempunyai keilmuan yang cukup untuk menjadi imam.

Maka, kedua laki-laki di rumah ummu Waraqah tersebut tidak lebih baik  kemampuannya dari Ummu Waraqah, sehingga Rasulullah SAW menunjuk Ummu Waraqah sebagai imam bagi mereka karena ia lebih pantas dan lebih mampu untuk menjadi imam. Dengan demikian, kebolehan seseorang menjadi imam tidak diukur dari segi seksisnya, tetapi dilihat dari segi kemampuannya, yaitu dari segi hapalan Alquran, pengetahuan tentang salat dan seluk-beluknya, juga aspek seniorotas dan tuan rumah.

Namun kiranya kesimpulan yang diambil dirasa kurang komprehensif jika pemahamannya hanya didasarkan pada syarat imam saja. untuk melanjutkannya, penulis akan melihat realita sejarah yang dibakukan dalam hadis.

Jika kebolehan imam, khususnya imam perempuan atas laki-laki, hanya didasarkan pada kepantasan dari segi ilmu saja, hal ini tidak sejalan dengan fakta sejarah: Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkan sahabat perempuan untuk menjadi imam bagi laki-laki. Sebagai contoh kita lihat Aisyah r. a. Dari segi keilmuan ia diras pantas untuk menjadi seorang imam, selain sebagai seorang penghapal Alquran, periwayat hadis, ia adalah istri Rasulullah SAW yang secara otomatis segala perbuatannya diketahui oleh Rasulullah SAW. Sehingga dalam segi tata cara salat pun ia akan lebih banyak mengetahui. Akan tetapi, tidak ditemukan riwayat yang menyatakan bahwa Aisyah pernah atau diperintahkan Rasulullah SAW untuk menjadi imam bagi sahabat laki-laki.

Jika melihat keadaan sahabat laki-laki yang ada disekitar Aisyah, seperti Abu Bakar, Umar bin al-Khatab, Ibn Abbas, dan yang lainnya, mereka tidak hanya memiliki ilmu yang mumpuni untuk menjadi imam tapi banya diantara mereka juga yang lebih senior darinya.

Dari hal ini penulis menangkap bahwa kebolehan perempuan menjadi imam salat terjadi ketika tidak ada laki-laki yang kapabel untuk menjadi imam salat. Demikianlah kesimpulan yang penulis ambil setelah meneliti hadis tersebut dan menghubungkannya dengan syarat-syarat dan fakta sejarah, dalam hal ini dispesifikan kepada Aisyah,  yang membuktikan bahwa Rasulullah tidak pernah memerintahkan perempuan untuk menjadi imam salat bagi laki-laki selain Ummu Waraqah.

Selanjutnya adalah jenis salat yang didirikan oleh Ummu Waraqah beserta makmumnya dalam hadis tersebut. Didalam teks tersebut tidak disebutkan secara jelas jenis salat apakah yang didirikan, fardlu atau sunnah. Hal ini dapat dilihat dengan adanya azan sebelum salat di mulai. Sejauh penelitian penulis, azan dikumandangkan pada salat fardu, [60] dan salat jumat.

  1. SIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

Imam al-Bukhari. ShahihBukhari . CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf. Global Islamic Software. 1991-1997.  

Abu Dawud. Sunan Abu Dawud. CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf. Global Islamic Software. 1991-1997

Al-Mubarokfuri. Aun al-Ma’bud. DVD Maktabah Syamilah.

Ahmad. musnad Ahmad bin Hanbal. CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

Suryadi dan Muhammad Alfatih Suryadilaga. 2009. Metodologi Penelitian Hadis. Yogyakarta: Teras dan TH Press.

.

Rahman, Fatchur.  Ikhtisar Mushtalah Hadis. Bandung: Bulan Bintang.

Tahdzib al-Kamāl. DVD al-Maktabah al-Syamilah Pustaka Ridwan. 1998.

Usdul Ghabah fi ma’rifati al-Sahabah. DVD al-Maktabah al-Syamilah Pustaka Ridwan.1998.

Lisān al-Mīzān .  DVD al-Maktabah al-Syamilah Pustaka Ridwan, 1998.

Al-Jarh wa al-Ta’dil. 511 DVD al-Maktabah al-Syamilah Pustaka Ridwan. .

Ibnu Majah. Sunan Ibn. CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software. 1991-1997.  

Al-Zamakhsyari. tafsir al-Zamakhsyari DVD Maktabah Syamilah

Imam al-Tabari.  Jami’ul Bayan fi Ta’wil al-Quran DVD Maktabah Syamilah.

Shihab,Quraish. 2007. Tafsir al-Mishbah . Tangerang: Lentera Hati.

Al- Șan’ani.  1991. Subulussalam (terj.) Abu Bakar bin Muhammad . Surabaya: al-Ikhlas.

al-Qahţanī, Sa’id bin ‘Alī bin Wahaf. al-Imāmah fi al-Șalāh, fī dlaui sunnah DVD Maktabah Syamilah.

Najwah, Nurun. 2008. Wacana Spiritualis Perempuan Perspektif Hadis. Yogyakarta: Cahaya Putaka.

Imam Muslim. Șahīh Muslim . CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  


[1] Hadis marfu’ dan berkualitas Shahih. Imam al-Bukhari, ShahihBukhari Bab al-Azan fadlu Shalah al-Jama’ah nomor 609, CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf

[2]  Hadis marfu’ memiliki enam sanad, lima diantaranya bersana shahih dan satu bersanad hasan. Imam Muslim, Shahih Muslim Bab al-Masajid wa al-Mawadi’ al-Shalah, nomor 1039

[3] Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Kitab al-Shalah Bab Ma Ja’a fi al-Khuruj al-Nisa ila Masjid nomor 480.

[4] Hadis Riwayat al-Baihaqi, Al-Mubarokfuri, Aun al-Ma’bud Bab Imam al-Nisa’ Juz II, hlm. 113

[5] Ahmad, musnad Ahmad bin Hanbal, Bab Min Musnad al-Qabāil, hadiŝ Ummu Waraqah binti Abdullāh binti al-Hāriŝ al-Anșari no. 26.023, juz VI, hlm. 405. CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

[6] Suryadi dan Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis (Yogyakarta: Teras dan TH Press, 2009), hlm. 33.

[7] CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

[8] Ahmad, musnad Ahmad bin Hanbal, Bab Min Musnad al-Qabāil, hadiŝ Ummu Waraqah binti Abdullāh binti al-Hāriŝ al-Anșari no. 26.023, juz VI, hlm. 405. CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

[9] Abu Dāwud, Sunan Abi Dāwud, Bab al-Șalāh Imāmah al-Nisā  no. 500, juz 1, hlm. CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

[10] CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.

[11] Lihat Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushtalah Hadis (Bandung: Bulan Bintang), hlm. 86-116.

[12] Adapun gelar ini didapatkannya karena ia meminta kepada Rasulullah SAW untuk ikut dalam peperangan dan menjadi perawat prajurit yang terluka. Motivasi untuk mati syahidlah yang membimbingnya berkeinginan demikian. Akan tetapi, Rasulullah SAW melarangnya mengukuti pertempuran dan menyuruhnya untuk tetap tinggal di rumah, karena dengan tetap tinggal di rumah pun Allah akan menganugerahkan mati syahid kepadanya.

[13] Tahdzib al-Kamāl juz XXII, hlm. 319, DVD al-Maktabah al-Syamilah Pustaka Ridwan, 1998 dan Usdul Ghabah fi ma’rifati al-Sahabah, juz V, hlm. 504, DVD al-Maktabah al-Syamilah Pustaka Ridwan, 1998.

[14] Lihat hadis riwayat Abu Dāwud  Bab al-Șalāh Imāmah al-Nisā  no. 500  CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.

[15] CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

[16] CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.

[17]Tahzib  al-Kamāl juz XIX, hlm. 192.

[18] Tahzib  al-Kamāl juz XXII, hlm. 131.

[19] CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

[20] CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

[21]Tahdzib al-Kamāl juz XIX, hlm. 192, DVD al-Maktabah al-Syamilah Pustaka Ridwan, 1998. … Lisān al-Mīzān juz VII, hlm. 498, DVD al-Maktabah al-Syamilah Pustaka Ridwan, 1998.

[22] Lihat Suryadi dan Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis… hlm. 109.

[23] Al-Jarh wa al-Ta’dil juz I, hlm. 511 DVD al-Maktabah al-Syamilah Pustaka Ridwan, 1998Al-Jarh wa al-Ta’dil juz I, hlm. 511

[24] Al-Jarh wa al-Ta’dil juz I, hlm. 511

[25] Lihat Suryadi dan Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis… hlm. 109.

[26] Lihat Suryadi dan Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis… hlm. 114.

[27] CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

[28] Lihat Suryadi dan Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis… hlm. 114.

[29]Lihat Suryadi dan Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis… hlm. 114.

[30] Lihat Suryadi dan Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis… hlm. 115.

[31] Ibnu Majah, Sunan Ibn Majah Bab al-Iqamah fi al-Șalāh wa al-Sunnah fihā, fi fardl al-jum’ah no. 1.071, CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

[32] Nurun Najwah, Wacana Spiritualtas Perempua…52-53.

[33] Lihat Suryadi dan Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis… hlm. 116.

[34] Abu Dāwud, Sunan Abi Dāwud, Bab al-Șalāh Imāmah al-Nisā  no. 500, juz 1, hlm. CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

[35] Ibnu Majah, Sunan Ibn Majah Bab al-Iqamah fi al-Șalāh wa al-Sunnah fihā, fi fardl al-jum’ah no. 1.071, CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

[36] Nurun Najwah, Wacana Spiritualtas Perempua…53.

[37] al-Syafi, Maliki, Hanafi, dan Hanbali berpendapat bahwa imam salat bagi laki-laki haruslah laki-laki dan tidak syah jika perempuan menjadi imam salat bagi laki-laki. Lihat Nurun Najwah, Wacana Spiritualtas Perempuan…43.

[38] Al-Zamakhsyari, tafsir al-Zamakhsyari DVD Maktabah Syamilah

[39] Ibn Katsir, Tafsir al-Quran al-a’dzim DVD Maktabah Syamilah

[40] Imam al-Tabari, Jami’ul Bayan fi Ta’wil al-Quran DVD Maktabah Syamilah.

[41] Al-Mubarokfuri, Aun al-Ma’bud Bab Imam al-Nisa’ Juz II, hlm. 113. DVD Maktabah Syamilah.

[42] Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah (Tangerang: Lentera Hati, 2007), hlm. 423-424.

[43] Al- Șan’ani, Subulussalam (terj.) Abu Bakar bin Muhammad (Surabaya: al-Ikhlas, 1991), hlm. 141. Al-Mubarokfuri, Aun al-Ma’bud Bab Imam al-Nisa’ Juz II, hlm. 113. Sa’id bin ‘Alī bin Wahaf al-Qahţanī, al-Imāmah fi al-Șalāh, fī dlaui sunnah DVD Maktabah Syamilah. Hlm. 7-8.

[44] Sa’id bin ‘Alī bin Wahaf al-Qahţanī, al-Imāmah fi al-Șalāh, fī dlaui sunnah DVD Maktabah Syamilah. Hlm. 7-8.

[45] M. Alfatih Suryadilaga, “Keabsahan Perempuan sebagai Imam Salat” dalam Perempuan Tertindas? Kajian Hadis-Hadis ‘Misoginis’ (Ed.) Mochammad Sodik dan Inayah Rohmaniyah (Yogyakarta: eLSAQ Press, 2005), hlm. 231-270.

[46] Nurun Najwah, Wacana Spiritualtas Perempuan…hlm. 39-66.

[47] Al-Mubarokfuri, Aun al-Ma’bud Bab Imam al-Nisa’ Juz II, hlm. 113

[48] Lihat Nurun Najwah, Wacana Spiritualtas Perempuan…43.

[49] Nurun Najwah, Wacana Spiritualis Perempuan Perspektif Hadis (Yogyakarta: Cahaya Putaka, 2008), hlm. 59.

[50] Imam Muslim, Șahīh Muslim Bab Masajīd wa al-Mawadī’ al-Șalah, man Ahaq bi al-Imamah No. 1.077. CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

[51] Nurun Najwah, Wacana Spiritualis Perempuan …, hlm. 60.

[52] Imam Muslim, Șahīh Muslim Bab Masajīd wa al-Mawadī’ al-Șalah, man Ahaq bi al-Imamah No. 1.078. CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

[53] Nurun Najwah, Wacana Spiritualis Perempuan…, hlm. 61.

[54] Imam Muslim, Șahīh Muslim Bab Masajīd wa al-Mawadī’ al-Șalah, man Ahaq bi al-Imamah No. 1.081. CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

[55] Nurun Najwah, Wacana Spiritualis Perempuan …, hlm. 62.

[56] Imam Muslim, Șahīh Muslim Bab Masajīd wa al-Mawadī’ al-Șalah, man Ahaq bi al-Imamah No. 1.079. CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

[57]Hadis marfu’ muttasil Imam Muslim, Șahīh Muslim, bab Șalātul jamā’ah min sunan al-Hādī nomor 1059, CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

[58] Imam al-Bukhari, Șahīh Bukhari, bab Imamah al-Abd wa al-maula nomor 6640, CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

[59].. Usdul Ghabah fi Ma’rifat al-Sahabah, juz I, hlm  260. DVD Maktabah Syamilah.

[60] Berdasarkan hadis riwayat Imam al-Bukhari nomor 592 CD Mawsu’ah al-Hadīŝ al-SyarĪf, Global Islamic Software, 1991-1997.  

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s