Ke Pare Lagi….

Hari ini, tiga setengah tahun sudah jarak kunjunganku dengan yang terakhir ke Pare. Waw… Pare makin memukau. Jalan Brawijaya makin gemerlap dihiasi hingar-bingar tempat-tempat tongkrongan yang berjejeran, cafe-cafe (atau cafe-cafe-an) makin menjamur. Banyak sekali pilihan menu makan di pagi, siang, dan sore yang selalu berganti-ganti, ditambah dekorasi tematik yang asik buat berselfie ria. Rasanya tahun 2012 rumah makan tidak semenarik ini deh!

Sumpah, yang bikin daku terkaget-kaget yaitu berjajarnya mesin ATM di sepanjang jalan Brawijaya. Lebih dari enam bank yang buka mesin ATM di sana, what the heeee…. Tahukah Anda kalo tahun 2012 aku paling males ambil uang di ATM? Karena jaraknya itu loh…. jauh bingit, lebih dari 2 KM kayaknya. Kosanku di jalan Asparaga, sementara mesin ATM terdekat ada di jalan Pahlawan Kusuma Bangsa, deketnya RSUD Pare. MasyaAllah yah…. Makanya dulu selalu cari ojeg gratisan dari temen sekelas kursusan, hehehe  >_<  Sampe-sampe hal pertama yang ditanyain Mama waktu nelpon, “Gimana nanti ke ATM?” tenang… sekarang tinggal jalan lima langkah ke sebelah kanan rumah kos, nyampe, hihihi..

peta pare.png

peta Pare si Kampung Bahasa

Setidaknya, diriku mengikuti perkembangan Pare sejak 2009. Perjalanan pertamaku mengesankan Pare adalah “kampung” yang sangat sederhana. Ingat sekali, uang jajanku masih tersisa banyak karena biaya akomodasi dan makan sangat murmer. Padahal aku kursus di Jalan Anyelir, yang bisa dibilang “kota” pada waktu itu. Begitu pula tahun 2012, biaya kursus dan living cost-ku terbilang jauh lebih murah lagi. Selain ngirit seirit-iritnya, kursusan idamanku juga terletak agak jauh dari hingar-bingar jalan Brawijaya, sehingga biaya hidup relatif lebih murah dari tempat lain. Beda sama tahun 2016 Boo… harga makanan jauh lebih mahal, harga kosan juga. Pertama sercing kosan, ibu kosnya nawarin kamar kecil yang bisa diisi dua orang, ada dapur, gratis air minum, dan wi-fi seharga 370 rebu. Busyet… mendingan tinggal di camp aja kalo segitu mah. Jalan lagi… nemu lagi kosan lain, fasilitas sama, cuma kamar mandi lebih bagus di kosan yang pertama, harganya 350 rebu. Haduh! Diriku gak butuh wi-fi bu…. hape udah ada paketan data gak bawa leptop juga. Gak akan kepake tuh wi-fi. Mubazir…. Eh, akhirnya nemu juga kosan tanpa wi-fi seharga 200 rebu. Alhamdulillah ya Allah… karena aku harus masak sendiri jadi taktambahin biaya ekstra buat beli gas, hehehehe…

IMG_20160326_173450.jpg

Simpang Lima Gumul salah satu tempat nongkrong andalan di Kediri

Beda dengan sebelumnya, saat ini aku konsen ke writting sama translation. Ya sebenernya sih lanjutan dari kelas Grammar. Setelah 3,5 tahun materi grammar lapuk di otak, lalu tiba-tiba harus praktek langsung ke writting, rasanya… rasanya… tapi lumayanlah, masih ada aturan penggunaan tenses yang nyangkut di otak, selebihnya buka si babon bin primbon, catetan kursusan yang dulu. Memang sih, aku gak terlalu expert di kelas writting dan translation ini, tapi tetep kurang puas ya rasanya. Ekspektasiku setelah lulus dari dua kelas ini aku udah mahir nulis jurnal dalam bahasa Inggris, tapi ternyata masih harus banyak, banyak, dan banyak latihan lagi. Terlebih materi penulisan di kelas ini ya tema-tema umum bukan Islamic Studies seperti concern-ku. Hhmmmm…. hal yang menarik dari materi dua kelas ini adalah “penggunaan intuisi” dan “kolokasi”. Yang ditekankan Mr. Andre (teacher kita) adalah belajar menerjemah tafsiriyah, sehingga bukan hanya penguasaan teks tetapi juga konteks kalimat sangat diperlukan. Selain itu, dalam menulis penguasaan diksi sangat penting. Pemahaman karakteristik bahasa Inggris yang one for one (artinya satu kata untuk menyebut satu kegiatan) harus dibedakan dengan bahasa Indonesia yang karakternya one for all (satu kata dapat digunakan untuk menyebut beberapa kegiatan, bingung dengan istilah ini silahkan tanya Mr. Andre, hehehe..) sangat penting. Alhasil kamus BBI, kamus khusus diksi, menjadi buku babon kita saat ini.

IMG_20160402_085528.jpg

Lari pagi dan nongkrong di Taman Kilisuci jadi hobi baruku di Pare kali ini

Selain dua kelas itu, aku juga ambil kelas academic speaking. Pengennya sih kelas speaking langsung sama native biar sekalian persiapan ke Aussie nanti, tapi gak ada, udah pulang ke negaranya katanya…. ya sudahlah. Academic speaking ini lebih terkonsentrasi ke speaking for IELTS. Meskipun gak ada niatan mau tes IELTS deket-deket ini ya, lumayan sebagai wawasan. FYI, kali ini aku ambil kursus di ELFAST, salah satu kursusan yang sangat terkenal di Pare. Ada di Jalan Kemuning, deket Jalan Brawijaya. Cukup mahal, tapi puas. Sesuailah hasilnya dengan harga yang kita bayar.

Oia, belajar bahasa di tingkat advance juga bikin aku ngerti sesuatu: yang praktek bahasa Inggris di kehidupan sehari-hari di Pare (di tempat makan, di warung, dsb) biasanya pelajar tingkat basic atau intermediate. Justru pelajar advance biasanya komunikasi pake bahasa Indonesia, bahasa Inggrisnya dikit-dikit atau sesuai keperluan (di kelas misalnya). So, hati-hati ya… jangan ngejaj mereka yang komunikasi pake bahasa Indonesia sama sekali bego bahasa Inggrisnya, hihihihihi…. juga buat meluruskan bagi mereka yang mikir di Pare semua orang (termasuk pedagang dsb) komunikasi pake bahasa Inggris, jawabannya KAGAK!! Wallahu a’lam,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s