Journey to the Oz with MEP 2016: Canberra (1)

Sebelumnya: Journey to the Oz with MEP 2016: Melbourne (4)

Perjalanan darat Melbourne-Canberra dapat ditempuh dalam waktu 8 jam, sementara kami pakai pesawat jadi cuma sejam lebih dikit. Di bandara kami disambut oleh Mas Muhajir dan Mas Rus`an, mahasiswa Ph.D di ANU dari Indonesia. Ternyata Mas Rus`an ini adalah adik kelas Pak Sabeth waktu SMA di Madiun, wah jadi reunian ya Pak…

Sejak hari kedua aku menginjakan kaki di Melbourne aku jadi sering mengidamkan makanan Indonsia: Nasi Goreng, Bakso, dan mie instan. Hahaha… berjauhan dengan negara sendiri rasanya langsung dilanda home sick. Padahal baru dua hari. Dan rasa rindu itu terbayar sudah hari ini. Saat aku makan nasi goreng yang uennaaak banget di resto Malaysia. Meskipun nafsu makanku menggila tetap saja tidak bisa menghabiskan porsi yang aku pesan. Kalo di Indonesia, itu porsi untuk empat orang ceu… jadi seperti biasa, kita take away

a.jpg

Nasgor yang enak bingit!

Sorenya kami mengunjungi kuil Sikh. Mereka sangat menghargai kebersihan, jadi kita harus lepas sepatu dan memakai penutup kepala. Jreng.. jreng…. Jadilah para bapak-bapak pakai slayer oranye di kepalanya, sementara kita yang perempuan gak usah, karena sudah pakai kerudung.

aa.jpg

Bapak-bapak kudu pake slayer, coba kalau bawa kopiah, hihihi…

Di sela-sela mendengar Amardeep menjelaskan ajaran Guru Nanak ini perhatianku teralihkan oleh beberapa pengunjung kuil yang mau beribadah. Yang perempuan pakai kerudung selendang, persis kaya muslimah Indonesia di awal abad ke-20. Aku juga jadi ingat hal lain, muslim-muslimah awam di Indonesia masih ada yang menganggap bahwa Arab itu Islam dan kerudung itu hanya dimiliki oleh Islam saja. Padahal di beberapa agama lain juga ada ajaran yang mengharuskan untuk menutup kepala, contohnya Sikh ini. hhmmm….

dinner.jpg

Canberra interfaith dinner

Malamnya kami makan di restoran vegetarian, restoran yang aman bagi kami semua yang hadir. Sangat menyenangkan rasanya mengenal dan dapat berdiskusi dengan tokoh-tokoh dari Kristen, Baha’i, Yahudi, Budha, Hindu, Sikh, Quaker, dan Satya Sai. Aku duduk berdampingan dengan Terry Quinn dan Amardeep Singh. Mereka memilihkan menu ayam bumbu kacang dan jus Aloe Vera. Karena ini resto vegetarian, tentu saja ayam ini bukan ayam yang sebenarnya, melainkan ayam olahan dari sayuran. Mereka juga berbagi makanan denganku, tentu saja kucicipi sajian ikan, kambing, dan sapi. Rasanya dan teksturnya benar-benar persis kayak aslinya, meskipun ini daging bohong-bohongan yang terbuat kedelai dan jamur. Pantas saja di mobil tadi Mas Muhajir menawarkan “Mau makan babi halal gak?” Ini toh maksudnya… hahaha… Asyik sekali ya jadi seorang vegetarian tetapi bisa makan “daging”. Aku harus belajar bikin makanan seperti itu. Bukan hanya sekedar tepung-tepungan yang dibentuk seperti paha ayam seperti di rumah sakit kebanyakan, tapi makanan yang tekstur dan rasanya mirip dengan daging. Wajib!

a.jpg

“ayam” bumbu kacang vegetarian

Seperti yang diceritakan orang-orang, Canberra memang sepi. Hanya ada orang-orang di pemerintahan dan akademisi saja di sini. Jam delapan malam jalanan sudah sepi sekali. Kayak di kampungku aja jam segini udah horor. Jalanan yang lenggang, pemandangan di kiri dan kanan mobil sangat gelap, hanya ada hutan-hutan aja. Horor sekali. Sekali-kali kami temui rambu-rambu Kangguru di pinggir jalan. Ternyata Kangguru itu liar. Mereka attracted dengan cahaya, sehingga kalau lihat lampu mobil berjalan mereka bisa mengejar lalu menabrakan diri. Idih… bahaya juga ya…

aaa.jpg

Canberra yang krik-krik dari balik jendela mobil

Tak terasa sampailah kita di Gunung Ainslie. Dataran tinggi yang kalau menurutku lebih cocok disebut bukit. Dari tempat ini kami dapat memandang gemerlap lampu kota Canberra. Lampu-lampu yang indah di sekitar Parliament Hill, bandara, dan lampu-lampu jalanan yang meliuk-liuk. Kayak bukit bintang gitu lah… Sumpah aku betah sekali… Aku masih ingin di sini, tapi bapak-bapak udah ngajak pulang. Dinginnya hembusan angin Canberra membuat mereka tidak berah berlama-lama di luar ruangan, padahal mereka mendaki begini berbekal segelas cokelat panas di tangan mereka. Huh…

aa.jpg

Di perjalanan pulang Mas Muhajir membelikan kami lotion. Keringnya udara di sini membuat kulit kita mengeriput, pecah-pecah, dan gatal. Tanganku sampai rorombeheun. Sakit!!! Untuk melembabkan kulit kita ya harus pakai lotion, sabun, shampo dari Australia karena Indo dan Aus beda iklimnya. Pantas saja, sebanyak apapun aku pake kosmetik yang aku bawa gak mempan sama sekali.

besok kami akan bertemu dengan Pak Greg dan Bu Virginia yang dulu menguji kami juga akan sarapan di pingir danau yang view-nya eeeuuuwwwwhhh…. keren! Tentu saja malam ini kita harus istirahat dulu! next….Canberra part 2

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s