Journey to the Oz with MEP 2016: Canberra (3)

Sebelumnya: Journey to the Oz with MEP 2016: Canberra (2)

Selain jalanan lenggang jalur sepeda terbaiknya di dunia juga merupakan ciri khas Canberra. Aku mengkikik tertawa saat melihat orang berjalan santai. Rasanya pemandangan seperti ini tidak akan ditemukan di Melbourne. Di sana sangat banyak sekali orang, mereka berjalan sangat cepat, malah nyaris berlari. Aku saja yang notabene penyuka jalan kaki dengan langkah cepat masih jauh tertinggal dari kecepatan mereka berjalan. Di sini pedestrian dan pengendara sepeda adalah raja. Kendaraan bisa berhenti dan mempersilahkan mereka untuk jalan terlebih dahulu. Oia, di Australia juga jarang ditemukan sepeda motor. Paling ada satu atau dua. Itu juga sepeda motor mahal, semacam Harley atau Duccati gitu. Emang sepeda motor cuma dipakai hobi. Cuaca yang ekstrim di musim dingin dan panas membuat mereka malas beli sepeda motor. Jadi ingat perkataan, Saheema waktu di Melbourne kemaren. Ia terkaget-kaget dengan perempuan yang bisa mengendarai motor di Jakarta. Yaiyalah…. bahkan di sini mah udah biasa ibu-ibu bonceng empat orang anak juga. Bahkan ada yang sein kanan belok kiri. hihihihi….

Pertemuan kami hari ini dapat dibilang paling serius, karena kami akan bertemu dengan Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) dan Australia Indonesia Institute (AII) yang pengelola sekaligus pemberi dana perjalanan kami. Kami diwanti-wanti untuk memakai pakaian paling formal dan mempersiapkan diri. Bisa jadi kami ditanyai tentang perkembangan Islam di Indonesia serta hal-hal yang kami temukan selama perjalanan ini. dag… dig… dug… sudah kami menanti perjalanan menuju DFAT. Soalnya ini ngobrol dengan pemerintah, bukan dengan lingkungan akademisi kaya kemaren. hu…

IMG20160419110415.jpg

meeting with DFAT and AII

Bahkan mbak Ratih sudah belajar demi mempersiapkan jawaban yang diplomatis, sementara aku boro-boro. Datang ke kamar langsung tepar.

Ternyata, hal berbeda kami temukan selama pertemuan kami ini. Kami hanya mengobrol informal sambil berdiri dan mengelompok. Tidak ada yang namanya presentasi dan debat seperti yang diperkirakan, padahal mimbar dan kursi yang melingkar sudah tersedia. Setelah berbicara ini-itu seputar perjalanan, pengalaman, dan Indonesia today, kami dipersilahkan memberikan komentar apa yang kami dapatkan selama perjalanan. Aku cuma memberikan komentar singkat soal pendidikan, kedisiplinan, usaha membangun toleransi, dan struggle umat Islam sebagai minoritas. Berbeda dengan Pak Zahrul yang juga mengungkapkan permasalahan-permasalahan muslim di Australia dan lagi-lagi mengungkit sedikit soal LGBTIQ. Mereka pun sedikit agak mengerutkan muka, tapi tenang suasana aman terkendali.

Mereka pun menyambut kami dengan menyebut bahwa sekarang kalian adalah bagian dari keluarga besar Australia, siapa yang tidak terharu??  Mereka juga menyemangati kami untuk selalu menginformasikan kondisi muslim di Indonesia kepada warga Australia, karena mskipun bertetangga kami kurang mengenal satu sama lain. Tepat sekali seperti yang kami duga, bahkan para alumni MEP dari Australia tidak pernah menyangka ada kehidupan muslim yang sangat Islami di Indonesia. Sebelum kunjungan mereka ke Indonesia, mereka selalu berfikir yang menjadi negara Islam hanyalah negara-negara di Timur Tengah saja.

a.jpg

Tenang rasanya, gak jadi diuji oleh DFAT. Kata Mas Muhajir ini adalah pertama kalinya pertemuan di DFAT yang berjalan sesantai ini, biasanya selalu formal dan menegangkan. Alhamdulillah….

Di sela-sela perjalanan kami pun menyempatkan diri berfoto di depan Kedutaan Besar Republik Indonesia. Kami yang hahahihi berpose bebas di depan KBRI kembali mengingatkanku akan ketatnya penjagaan Australian Embassy di Jakarta. Berfoto pun gak boleh.

a1.jpg

Mobil kami pun mengarah pada sebuah taman masih di sekitar Danau Burley Griffin. Ya, Canberra itu wilayahnya cuma segitu-gitu aja. Jangan takut nyasar kalau di Canberra kata Mas Rus`an, paling mentok ya ke danau lagi ke danau lagi. Seperti makan siang kita kali ini di pinggiran danau Griffin. Ngampar samak, kami piknik dengan membawa kebab yang gedenya masyaallah. Setengah porsi pun gak habis aku makan berdua sama Mbak Ratih. Sambil menunggu jadwal selanjutnya bapak-bapak memilih tiduran di tikar yang kami bawa. Itu tikar yang biasa dipake pengajian kata Mas Rus`an. Sementara aku memilih jalan-jalan menelusuri indahnya alam ini. Andai ada yang bisa mengambilkan foto untuku… sesekali kulihat anak-anak bermain di play ground. Hari ini memang masih termasuk musim libur, jadi pantas banyak orang tua yang mengajak anaknya bermain di alam terbuka seperti ini.

a.jpg

Bible Plants Garden: kebun yang ditanami semua jenis tanaman yang disebutkan di dalam Injil

Meskipun masih betah, namun perjalanan harus tetap berlangsung. Kami akan menemui Dr. Stephen Pickard, direktur Australian Centre for Christianity and Culture. Di sana kami melihat beberapa culture Aborigin dan Kristen seperti tempat mendongeng  berupa bebatuan yang melingkari api unggun, christian labyrinth, dan Bible plants Garden.

b.jpg

di Tugu Perdamaian bersama Dr. Stephen Pickard 

Saat ditanya mau makan apa sekarang? Kami serempak minta makan di resto Malaysia seperti beberapa hari lalu. Aku pun kembali memesan nasi goreng, kali ini aku share dengan Mbak Ratih. Ajaibnya kami habiskan seporsi itu berdua. Doyan? Enak? Apa lapar? Sementara bapak-bapak pesan nasi lemak dengan lauk ayam atau rendang. Sebentar lagi kami akan menuju ke bandara. Meskipun dingin dan sepi, namun berat sekali untuk meninggalkan Canberra dengan keindahan dan kenyamanan alamnya, semoga suatu hari aku dapat kembali menatap suasana pagi di pinggir danau Griffin lagi.

See you Canberra and welcome to Sydney!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s