Journey to the Oz with MEP 2016: Melbourne (1)

c.jpg

welcome to Melbie!!

Sebelumnya: Journey to the Oz with MEP: Pre-Departure (2)

Perjalanan udara selama delapan jam sukses menguras tenagaku. Di pesawat aku lebih banyak tidur. Tidak makan juga karena kondisi perut yang yang kurang bersahabat. Alhasil begitu landing aku dilanda 3L: LaLeuLeus!

Seperti yang diwejangkan Mbak Anindita waktu di Embassy, aku memisahkan makanan dan obat yang kubawa untuk di declare di bagian imigrasi. “What kind of medicine do u bring?” tanya petugas. Setelah ditanya ini-itu seputar Mylanta dan Antangin, akhirnya pasporku dikembalikan dan kita melanjutkan declare makanan yang kita bawa. Ya, bandara Australia memang sangat ketat. Selain obat-obat terlarang kita juga dilarang bawa biji-bijian, daging, unggas, atau makanan olahan yang berasal dari bahan itu seperti bumbu pecel, telur asin, abon, dsb. Makanan lain pun harus lapor alias declare, akupun melaporkan dua bungkus Bengbeng dan Fitbar. Hehehe…

Di pintu keluar Pak Rowan menyambut kami dengan senyuman ramahnya. Kondisi 3L-ku langsung raib saat hembusan udara dingin Melbourne menusuk kulit wajahku. Inilah udara pergantian antara musim semi dan gugur. Dingin dan kenceng, kayak di ruangan ber-AC saja. Bbrrrr…..

Van yang kami tumpangi melesat membelah jalanan Melbourne. Aku sibuk memperhatikan lingkungan sekitar di balik jendela mobil. Hhmm…. langit Melbourne warnanya masih biru sama kaya di Indonesia, yang beda hanya bentuk gumpalan awannya saja. Tanahnya juga, coklat hitam begitu. Cuma gak ada tanah ngalebu di sepanjang jalan yang kami lewati, lebih banyak ditutupi aspal dan rumput-rumput hijau. Hihihi….

Pak Rowan membagikan SIM card, modem wifi, kartu sakti myki serta uang jajan yang bikin hati kita berbunga-bunga. Udah mah segala-gala dibayari, fasilitas bagus bingit, dikasih uang saku pula. Asyiiiikkk……

Setibanya di Hotel sekitar Collin Street, Pak Rowan menunjukkan kamar kami. Aku sekamar dengan Mbak Ratih, sementara bapak-bapak sekamar bertiga. Sebuah kamar yang terdiri dari ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, dan dapur beserta peralatan lengkapnya bahkan ada mesin pencuci piring yang jarang ditemukan di rumah kebanyakan di Indonesia. Aku yang harus selalu makan nasi dan sayuran tidak khawatir lagi saat menemukan dapur idaman begini. Cikitiw….

Sejam waktu kami beristirahat di hotel langsung kugunakan untuk mencuci pakaian. Mencuci baju di hotel itu salah satu kebiasaanku. Meskipun saat ini aku nyuci di mesin cuci, tapi nanti aku kasih tahu tips-tips aman nyuci baju di wastafel kamar mandi hotel, hahahaha….

aa.jpg

depan hotel… @Collin Street

Agenda pertama kami adalah silaturahim dengan Prof. Tim Lindsey, ketua Australia Indonesia Institut (AII) dan direktur Centre for Indonesian Law, Islam, and Society di the University of Melbourne. Sambil menikmati jamuan Kari Ayam, kami mendengarkan Pak Tim yang bercerita tentang rasa cintanya terhadap Indonesia yang berawal saat beliau menjadi peserta student exchange di usia 14 tahun. Selain itu, beliau juga mengemukakan alasan-alasan betapa pentingnya Australia menjaga hubungan baik dengan Indonesia dan harapan-harapan yang dapat diraih dari program MEP ini. Kami juga berdiskusi tentang kondisi kekinian Islam di Indonesia serta kondisi Islam di Australia.

b.jpg

Meet Pak Tim Lindsey: di situ kadang saya merasa mungil :p

Semua hal yang Pak Tim bicarakan sangat menarik bagiku, namun hal yang paling-paling menarik tak lain pembacaan beliau terhadap PTAI khususnya UIN/IAIN sebagai lembaga pendidikan yang memiliki prospek bagus bagi Indonesia namun sayang jalannya lambat sekali. Betul Pak, I totally agree with you! Bahkan bagiku, bukan hanya PTAI, tapi juga madrasah dan pesantren lembaga pendidikan yang memiliki nenek moyang yang sama dengan PTAI. Lembaga pendidikan Islam memiliki banyak keunggulan di banding pendidikan sekuler, namun sayangnya lambat berjalan, bahkan hampir jalan di tempat. Lembaga pendidikan Islam ini harus diberikan “hiu-hiu” yang membuatnya menjadi awas dan gesit dalam bergerak. Juga harus didorong dan ditarik agar dapat tampil percaya diri menunjukkan keunggulan-keunggulannya.

Setelah menunaikan salat Maghrib, kami bergegas turun ke lobi hotel. Ternyata Mbak Brynna, koordinator program di Melbourne, beserta si cantik Leila dan Sophia telah menunggu untuk menemani kita makan malam bersama para alumni MEP dari Australia. Kami berjalan menyusuri lorong kota Melbourne menuju restoran. Sophia yang baru berusia 16 bulan lebih senang berjalan (lebih tepatnya berlari), sementara Leila jauh lebih semangat berlari.

“Mama, kita harus cepat. Jangan biarkan mereka mendahului kita.” Leila pintar sekali berbahasa Indonesia. Ia dapat membedakan dengan siapa harus berbicara bahasa Inggris dan harus dengan siapa berbicara bahasa Indonesia. Hebat!

a.jpg

dinner with MEP alumni juga Mbak Mila

Welcoming dinner ini bertempat di restoran India yang dihadiri oleh Mbak Mila yang beberapa tahun lalu mengurusi program ini, Irfan Yusuf alumni MEP 2007 seorang penulis, dan seorang peserta MEP yang akan berangkat tahun ini. Malam itu kami mencicipi nikmatnya samosa, biryani, palak paneer, roogan josh, dan chana masala disertai dengan lassi, jus yogurt mangga yang mantap.

Meskipun nikmat sekali, namun perut kita sudah tidak mampu menampung makanan lagi, akhirnya kita membungkus makanan yang tersisa untuk sarapan besok. Ternyata, take away makanan di restoran menjadi hal yang lumrah di sini. Sedikit berbeda dengan di Indonesia, tidak semua orang mau membungkus makanan “sisa”. Sangat berbeda pula dengan budaya Italia yang menyatakan bahwa take away makanan sisa adalah hal yang sangat memalukan. Itu yang aku ketahui dari salah satu novel traveling yang aku baca. Hmm… begitulah budaya, namun selama banyak manfaatnya kenapa tidak kita ubah?

Keesokan harinya…..

Kami baru bangun tidur saat jarum pendek jam menunjuk pada angka tujuh. What?? inilah jet lag. Jam biologis kita belum beradaptasi dengan perbedaan tiga jam antara Australia dengan Indonesia. huh…

a.jpg

Al-Shiraat College

Hari ini kita akan mengunjungi sekolah Islam, al-Shiraat College namanya. Sekolah tingkat kindergarten, primary, dan secondary (di Australia sebenarnya pakai istilah High School) yang berlandaskan pada Islamic tradition. Sambutan mereka sangat baik. Setelah berkenalan dan mendengarkan selayang pandang tentang sekolah ini kami diajak tour keliling sekolah melihat kegiatan para siswa.

Sebagai guru yang mengurusi anak-anak usia high school aku paling semangat menanyakan bagaimana manajemen sekolah, metode pengajaran, metode hapalan qur’an, dan seluk-beluk pendidikan. Tak lupa aku juga menceritakan pesantren sebagai lembaga pendidikan asli Indonesia yang sangat aku banggakan, sistem dan metode menghafal al-Qur`an yang aku terapkan kepada santri, serta problematika yang dihadapi oleh pendidikan Islam di Indonesia.

Sekolah private ini dimiliki dan dikelola oleh Muslim yang berpenampilan khas Timur Tengah. Yang laki-laki memakai gamis di bawah lutut dan perempuan memakai gamis panjang dan memelihara jenggot panjang, sementara principal college dipegang oleh orang kristen. Multikultural ya… Hal menarik lainnya adalah principal Islamic tradition-nya pakai cadar, dan beliau vokal sekali bahkan lebih aktif menjelaskan seluk-beluk sekolah daripada direkturnya yang notabene adalah suaminya. Wah, hebat ya…. muslimah yang sangat cerdas!

Kunjungan kita ke al-Shiraat masuk koran cetak nasional loh…. ini linknya

IMG-20160412-WA0007.jpg

Darebin Council

Kunjungan kami pun berlanjut ke Darebin Council dan Uniting Church Centre untuk menemui Andy Calder peneliti disabilitas dalam pandangan berbagai agama. Seperti halnya di Indonesia, para difabel ini masih sering didiskriminasi, baik dalam hak mendapatkan pendidikan, fasilitas umum, pekerjaan, maupun hal keseharian lainnya. Akan tetapi, penanganan para difabel di Australia lebih baik, misalnya di setiap trotoar jalan atau lorong-lorong gedung selalu ditemukan jajaran besi pipih bulat yang akan membimbing para tunanetra menemukan jalur yang benar. Begitu pula pada penyebrangan jalan terdapat tombol yang akan menderik saat lampu hijau pejalan kaki menyala. Kalau di Indonesia tombol penyebrangan ini baru aku temukan di Kediri dan Bandung. itu pun hanya di beberapa titik saja. Gak tau di tempat lain.

IMG-20160412-WA0009.jpg

Meet Andy Calder

Karena malamnya jadwal kosong kami pun membolang mencari grocery. Dengan berbekal myki si kartu sakti untuk transportasi umum di Melbourne, kami pun menemukan Coles, toserba self sevice (bukan cuma ambil barang sendiri, tapi nimbang, nyecan, dan ngitung harga barang sendiri) yang cukup murah harga-harganya. Karena kami sarapan di hotel, jadi harus belanja beras, sayuran, buah, dan daging, tentu saja yang halal. Sayuran, check… beras, check… bawang, check…. wah, ternyata kaldu instan seperti Royco gak ada di sana, dan pilihan pun jatuh pada bumbu instan botol. Yang mengherankan harga beras sekilo itu rata-rata $2 sama dengan harga 50 gram garam dapur dan sebungkus Indomie. Apa-apaan coba?? Hahahaha….

Selanjutnya: Journey to the Oz with MEP 2016: Melbourne (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s