Journey to the Oz with MEP 2016: Melbourne (2)

Sebelumnya: Journey to the Oz with MEP 2016: Melbourne (1)

Hari ketiga (begitu pula dengan hari-hari selanjutnya) aku masih bangun kesiangan. Aku juga harus masak buat bapak-bapak dan mbak Ratih. Karena masih ada pasta sisa makan semalam, langsung saja kucampur dengan susu, keju, telur, dan bahan ala kadar lainnya. Goreng. Jadilah skotel goreng ala Ucut.

aaa.jpg

Flinder station

Turun dari kereta di Stasiun Frankston kami disambut oleh bu Chris yang merupakan ibu mertua Pak Rowan yang akan menemani perjalanan kita hari ini. Sambil menyetir bu Chris menjelaskan daerah yang kita lalui dan kehidupan masyarakat di Melbourne. Mayoritas penduduk di daerah Mornington dan Mount Martha beragama Kristen, muslimnya sangat sedikit sekali. Bahkan bisa kunjungan kita ke Balcombe Grammar School nanti akan jadi pengalaman pertama bagi para siswa bertemu dengan umat Muslim. Saking jarangnya mereka bertemu dengan orang Islam, jelas bu Chris.

a.jpg

Balcombe Grammar School

Begitu masuk ke kantor Balcombe kami disambut oleh bu Natalie Kurelja beserta empat orang siswa kelas lima dan kelas enam. Sekolah yang bersih, asri, dengan latar pemandangan teluk Port Phillip. Kalo aku sekolah di sini pasti betah banget. Selama dua jam kami jalan-jalan melihat fasilitas sekolah ditemani empat guide cilik yang luar biasa pede.

Kami juga diberi kesempatan untuk mengobrol dengan para siswa di kelas. Waktu menceritakan tentang Indonesia kepada siswa kelas VII, mereka minta didongengkan gunung berapi dan kawah yang ada di Indonesia. Oke, aku menjelaskan Bromo, Merapi, Ijen, Merbabu, Semeru, dan si cantik Krakatau yang pernah “hilang”di permukaan laut. Untuk membuktikan ucapanku langsung saja salah seorang siswa membuka peta digital di tab-nya. Dia terkagum-kagum dengan relief permukaan bumi Indonesia, bahkan sampai menghitung jarak antara satu gunung dengan gunung lainnya hhhmmm…. Mereka sangat bersahabat dengan teknologi rupanya.

Saat lihat poster être dan avoir di dinding kelas XI, aku coba mengeruk ingatan tentang bahasanya negeri Menara Eiffel ini yang aku pelajari dari Mr. Ben, sekedar untuk menyapa “Ça Va?” atau “vous etes parle Français?”

Bahasa Perancis-ku sudah menguap ternyata….

aa.jpg

Our lil guide from Balcombe

Jujur saja aku menaruh simpati yang besar pada sekolah ini selain karena fasilitas dan metode pendidikan yang bagus, juga kepala sekolahnya yang super duper keren. Setiap kalimat yang ia bicarakan, mengandung makna-makna filosofis. Yang aku garis bawahi ucapannya tentang agama dan ilmu pengetahuan akan memberikan wisdom bagi para pemiliknya. Di sinilah terkadang kita lupa, bahwa agama atau ilmu pengetahuan lainnya harus diajarkan sampai menyentuh inti ajaran, bukan hanya sekedar formal luaran. Saat menemukan fakta output pendidikan kita yang kurang terdidik, sejatinya kita bertanya pada diri sendiri: Sudah tepatkah cara kita mendidik dan mengajar mereka? Apakah kita mengajarkan ilmu yang sebenarnya? Apa jangan-jangan kita mengajar hanya untuk melepas kewajiban harian kita selaku guru. Naudzu billah..

aaa.jpg

Suasana ruang kelas 1 di Balcombe

Di mobil aku duduk di samping bu Chris yang sedang menyetir. Kita masih ngobrol-ngobrol tentang pendidikan. Ternyata, sekolah negeri untuk jenjang primary dan high school di Australia itu gratis. Tapi, masyarakat tidak sebebas di Indonesia dalam memilih sekolah yang mereka mau. Mereka harus belajar di sekolah yang ada di daerah mereka sendiri. Beruntungnya, saat rumah mereka dekat dengan sekolah yang bagus, namun jika tidak sekolah swasta-lah pilihannya.  Namun ada satu pertanyaan yang aku lupa tanyakan, kenapa para siswa ditanya tentang apa cita-cita mereka jawabannya, “I’m not sure.” Apa bagi mereka cita-cita itu suatu hal yang sudah pasti dilakukan? Karena tidak mungkin rasanya kalau mereka gak punya keinginan sama sekali kan? Hehehe…

IMG-20160413-WA0030.jpg

Wefie di Port Phillip pake tongsis-nya Pak Sabeth

Sepanjang perjalanan kami melihat perkebunan dan peternakan. Oh.. ternyata perkebunan itu milik panti jompo. Jadi, kebanyakan lansia yang berada memilih tinggal di old home care. Di sana mereka akan menggarap sebidang tanah. Menanam sayur, buah, atau apapun yang mereka inginkan. Cukup berbeda dengan kebiasaan lansia di Indonesia ya, mereka biasanya menghabiskan waktu dengan menimang cucu, hehehe..

bb.jpg

b.jpg

Hari ini cukup melelahkan. Tenagaku sudah terkuras oleh perjumpaan kami tadi bersama kangguru dan hewan endemik lainnya di Moonlit Sanctuary, di tambah lagi tenggorokan yang sakit akibat perubahan cuaca. Makanya saat Mbak Ratih ngajak makan malam di rumah Pakdek-nya aku menolak ikut. Aku sudah KO hari ini. Karena cuma ada susu dan roti yang tersisa di hotel, aku harus masak nasi dan tumis sayuran, biar makanku banyak. Tapi sebelumnya harus minum air putih yang banyak, ya air keran di dapur kami. Air yang bersih dan aman dikonsumsi. >_<

Lanjut…… Journey to the Oz with MEP 2016: Melbourne (3)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s