Journey to the Oz with MEP 2016: Melbourne (3)

Sebelumnya journey to the Oz with MEP 2016: Melbourne (2)

Biasanya hari-hari kita ditemani oleh Pak Rowan, tapi sekarang kita ditemani seorang guide yang cantik, pinter, dan menyenangkan: Houda Merhi. Houda seorang pelukis. Saat ia menunjukkan foto-foto lukisannya sontak saja aku minta diajari. “I don’t know how can I make it, I just do and do it!” Wah…. merendah sekali.

aa.jpg

Lorong Unimelb

Jadwal hari ini padat juga, kami akan bertemu dengan Profesor Abdullah Saeed seorang ahli studi al-Qur`an yang mengajar di Unimelb, Dr. Hass Delal direktur Australian Multicultural Foundation, David Schutz dari Ecumenical and Interfaith Commission, dan makan malam dengan anggota Shira perkumpulan Yahudi ortodok.

a.jpg

Pak Abdullah Saeed: supervisor masa depan, hehehe….

Pertemuan dengan Abdullah Saeed memberikan kesan tersendiri bagiku. Yap… akhirnya aku dapat bertatap muka dengan salah seorang guruku. Selama ini aku tahu pemikiran beliau dari buku-buku yang kami baca pada mata kuliah Kajian Tafsir Kontemporer atau Hermeneutika. Seperti halnya di Indonesia, di Australia penggunaan istilah Hermeneutika sebagai metode penafsiran al-Qur`an masih memunculkan polemik. Mereka yang tidak setuju selalu berdalih bahwa hermeneutika adalah metode penafsiran Bible, padahal itu hermeneutika abad pertengahan bro…. hermeneutika yang digunakan untuk penafsiran al-Qur`an itu beda. Kurang lebih ya sama dengan konsep ta`wil. Jadi, hindari penggunaan istilah-istilah yang kontroversial, khususnya saat kita berhadapan dengan muslim awam, biar gak ribut. Begitu pesan beliau.

aa.jpg

David dan Martin, dari EIC

Ecumenical and Interfaith Commission adalah organisasi yang mengurusi hubungan antara kelompok Kristen di negara bagian Victoria. Selain itu, mereka juga menjalin hubungan baik dengan agama lain yang ada di Australia dengan cara mengadakan pelatihan atau diskusi tema-tema umum, semisal diskusi parenting antar agama. Keren ya… mereka membicarakan tentang “kesamaan” dari sekian “perbedaan-perbedaan” yang ada. Kami juga diberi kesempatan untuk melaksanakan shalat di salah atu ruangan EIC, yang berada di samping gereja besar ini. Di mana pun langit di junjung, di situlah bumi Allah.

a.jpg

St. Patrick Cathedral

Kunjungan ke St. Patrick Cathedral merupakan pengalaman pertamaku masuk ke gereja Katolik. Interior ruangannya mirip-mirip gereja Anglikan yang beberapa hari lalu kami kunjungi. David yang sangat ramah membimbing kami melihat dan mempelajari bagian-bagian Katedral St. Patrick. Ia menjelaskan simbol-simbol yang ada pada dinding luar gereja sampai tempat-tempat khusus di dalam gereja.

Pada saat menjelaskan lukisan “penjamuan terakhir Yesus”, Martin salah seorang anggota EIC bertanya tentang kisah Yesus dalam al-Qur`an. Aku pun menjelaskan bahwa Q.S. al-Maidah: 112-115 itu berbicara tentang “permohonan para Hawari akan hidangan”. Setelah tahu kalau aku pernah jadi anak studi Qur`an dan menghapal Qur`an, mereka pun minta aku menjelaskan Jesus, Mary, and Zechariah in the Qur`an. Oke… aku jelaskan poin-poin utamanya saja, juga cerita tentang israiliyat yang bisa dipakai sebagai salah satu sumber penafsiran. Kunjungan ke katedral ini ditutup dengan janji Martin yang akan mengimelkan beberapa judul tafsir kontemporer al-Qur`an yang ditulis oleh orang Nasrani. Million thanks Martin….

Seperti biasa, malam hari kami sudah mulai layu. Tapi, aku tetap mengeluarkan sisa-sisa tenaga karena akan bertemu dengan beberapa orang Yahudi dan tentu saja mencoba makanan brand halal mereka: Kosher! Aku lupa nama daerahnya, yang jelas itu adalah area komunitas Yahudi. Yang hadir di makan malam ada dua orang, Yaroon sang rabi dan Raffael seorang akademisi yang baru saja menyelesaikan Ph.D-nya. Yaroon sangat bersemangat bercerita tentang Jews in Australia, sementara Raff tak kalah menggebu-gebu bercerita tentang penelitiannya Arabic-Hebrew script—bahasa Arab yang ditulis dalam aksara Ibrani, begitu pula sebaliknya. Hal ini mengingatkanku akan Arab Pegon.

SAM_2395.JPG

Dinner with Yaroon n Raff, ustadz nya Yahudi

Suasana agak sedikit mencekam saat Pak Zahrul bertanya tentang promissed land, tapi suasana kembali mencair saat pizza small size kami datang. Small dalam ukuran mereka sementara kami terbengong-bengong melihat betapa besarnya ukuran small ini. segede nampan gitu. Ditambah candaan Raff yang menyebut bahwa Yaroon ini rabi yang sangat gahool. Ia selalu memilih nyanyian pendek saat memimpin ibadah umatnya.

“Para jemaat gak suka dengan nyanyian panjang. Mereka bisa tertidur 2-3 jam saking  bosannya bernyanyi,jadi Yaroon ini sangat disukai karena pintar memilih nyayi-nyanyian yang pendek,” hihi …

***

Hari Jumat, kami masih ditemani Houda sebagai guide kami. Setelah berjalan kurang lebih 3 kiloan menyisir jalanan Melbourne di pagi hari sampailah kami di kantor ABC. ABC ini semacam TVRI kalau di Indonesia, tapi mereka sangat eksis sebagai kantor berita TV dan koran di sana. Kami disambut oleh Mas Erwin, Pak Surya, dan Mas Farid dari divisi Indonesia. Yap, kami diwawancarai tentang kondisi Islam Radikal di Indonesia yang semakin cerewet saja. Wawancara kami kali ini terbit di beberapa media online, semisal Australia Plus, Republika, dan Detik. Kami juga diajak berkeliling melihat beberapa fasilitas, orkestra yang sedang latihan, dan yang paling menyenangkan kami bermain-main di ruang siaran: berpose ala host, hahahaha…

IMG-20160415-WA0043.jpg

pretend to be a host with Houda

Pukul 11.45, bapak-bapak sudah masuk ke mesjid di Islamic Council of Victoria  untuk melaksanakan salat Jumat. Aku dan Mbak Ratih yang sedang berlibur lebih memilih nunggu di resto Kebab tempat kita akan makan siang.

Sepuluh… dua puluh menit kami menunggu, namun Houda dan teman-teman yang lain belum juga menyusul ke resto. Pesanku di Watsap juga belum dibaca oleh Houda. Wah, menggalau… takutnya kami salah masuk resto. kan malu-maluin coba??

Barulah pada pukul 12.40 mereka menghampiri kami. Houda pun memesankan kami makanan dengan terlebih dahulu meminjam power bank. Pantas saja gak bisa dihubungi, hapenya mati. Seperti biasa kita yang terheran-heran melihat besarnya porsi makan memilih share makanan. Bapak-bapak makan Kebab sementara aku dan mbak Ratih makan burger dengan semangkuk buah berdua.

a.jpg

aku yang eneg dengan daging malah hampir mati lemas karena makan siangku cuma ini saja

Wuih seger… memang, kami butuh makan daging. Bukan hanya untuk menghangatkan badan di tengah cuaca Melbie yang dinginnya aduhai, tapi juga supply tenaga, karena kami banyak berjalan kaki.

Di ICV, kami diceritakan tentang kondisi Muslim di Australia yang lebih detail, juga berbagai permasalahan Muslim di sana, salah satunya banyaknya ibu single parent. Sehingga antrian yang minta dicarikan “ayah” cukup panjang. Wah…. kabar duka bagi teman-teman yang minta dibawakan oleh-oleh bule Muslim yang ganteng dari Australia. Maaf temans… muslimah di sini masih sangat membutuhkan suami dan ayah bagi anak-anaknya. Rasanya, dzolim sekali kalau yang ganteng-ganteng itu kita culik ke Indonesia. hahahaha…

a.jpg

Menangkap mas-mas bule jatuh dari langit @IMA

Perjalanan pun berlanjut menuju Islamic Museum of Australia (IMA). Selama dua hari ini kami bepergian menggunakan tram dan taksi. Seperti hari ini, kami pakai taksi gede yang muat untuk sembilan orang.

Di IMA kami menyusuri visualisasi ajaran dan sejarah Islam mulai masa Nabi sampai kedatangan Islam di Australia. Desain interior modern dibalut dengan pencahayaan artistik menjadikan museum ini sangat cozy dan bikin betah para pengunjung. Kami melihat peninggalan nelayan Makasar dari pesisir utara dan pasukan penunggang Unta dari Afghanistan yang menjadi tonggak awal sejarah kehadiran Islam di Australia. Kami terhenti oleh sebuah foto surau yang dilatari pemandangan indah di Padang. Waw, fotografernya ternyata Mbak Nathalia. Iya, adiknya Pak Rowan. Pak Rowan memang pernah bercerita kalau ibunya beliau berasal dari Padang.

aa.jpg

kaligrafi @ IMA

Jadwal kita hari ini tidak berhenti sampai di situ. Kami akan makan malam di Morrocan Restaurant bersama para seniman Muslim. Kami datang lebih awal, sehingga resto masih tutup. Sambil menunggu kami bergurau menceritakan tradisi salaman di Jawa dan Sunda yang gak klop pada Houda.

Para pengunjung lain pun mulai berdatangan. Mereka langsung membentuk formasi antrian yang panjang. Begitu pintu dibuka, mereka tidak masuk dulu tapi mempersilahkan kami yang datang lebih dulu untuk masuk duluan. Betapa indahnya budaya mengantri di sini ya…

langkah pertamaku langsung disambut Hana, waitress, ia memberiku cipika-cipiki tiga kali ala Australia. hidangan demi hidangan telah tersaji, namun lidahku sangat tidak bersahabat dengan makanan Maroko ini. Semua serba krim, dingin, asam—bukan asam jeruk tapi serasa cuka—dan berminyak.

aa.jpg

dinner @ Morrocan Restaurant

Mereka sangat menikmati sajian berminyak zaitun ini. Lembaran-lembaran roti tipis telah mereka habiskan. Mataku langsung berbinar saat melihat tiga bulatan krim, waw… nampak seperti es krim vanila, namun begitu kucolek dan kucicip eskpresiku berubah datar, rasanya sama aja: asem banget.

Mbak Nathalia menceritakan bahwa restoran ini paling enak di antara restoran Maroko lainnya. Seketika kutolehkan pandangan ke luar restoran, waw… mereka rela mengantri lama-lama begitu untuk makan di restoran ini. Sesuatu jadi sangat enak selain karena kebiasaan mencicipi dan kultur yang mengatakan itu enak juga sensasi yang dihasilkan. Seperti makan jengkol bagi sebagian orang-orang sunda mungkin ya… Namun sayangnya aku belum bisa menemukan sensasi dari kuliner Maroko ini.

jean-leon-gerome-le-bain-maure.jpg

salah satu versi asli Le Bain Maure

Di perjalanan pulang aku menanyakan makna salah satu lukisan yang tergantung di dinding resto tadi: seorang perempuan berkulit hitam sedang dimandikan oleh perempuan berkulit putih, sementara handuk yang melilit tubuh perempuan berkulit putih itu ditahan oleh perempuan berkulit hitam. Nur Shkembi pun menjelaskan bahwa itu salah satu versi pengembangan dari lukisan Jean-Lѐon Gѐrome yang berjudul Le Bain Maure (versi aslinya perempuan kulit putih sedang dimandikan oleh perempuan kulit hitam). Lukisan itu menceritakan tentang pandangan Western yang berbeda pada perempuan berkulit hitam. Mereka tidak lagi menjadikannya budak, melainkan partner yang saling menguntungkan, bahkan Western rela mengabdikan diri untuk menolong mereka. Waw…

Seperti biasa… hari ini sangat padat dan badanku perlu dipersiapkan untuk hari esok yang akan lebih banyak berjalan kaki: jalan-jalan ke Dandenong!

Selanjutnya Journey to the Oz with MEP 2016: Melbourne (4)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s