Journey to the Oz with MEP 2016: Melbourne (4)

Sebelumnya Journey to the Oz with MEP 2016: Melbourne (3)

Dua tangkup roti bakar, segelas susu, semangkuk anggur, nasi goreng, telur dua butir sedang kulahap. Pengalaman hari-hari kemaren sudah menjadi pelajaran bagiku. Kita butuh banyak energi. Bukan hanya karena kegiatan kita padat, tapi juga sering jalan kaki. Sarapan seadanya sering membuatku lapar sebelum waktu makan siang. Ya, jadi sarapan harus ekstra. Hihi… sambil terus menjejalkan makanan aku nonton ABC, memantau ramalan cuaca. Itu penting karena cuaca di sini sulit diprediksi. Panas dan dingin bisa berganti hanya dalam hitungan menit. Ajaib!

dddrrrtttt…. handphone ku bergetar. Oh.. Sahema guide kita hari ini sudah menunggu di seberang jalan. Sahema ini alumni program MEP 2015.

Perjalanan kita ke Dandenong Library diisi dengan kisah Sahema yang sering dianggap sebagai penduduk lokal saat berkunjung ke Indonesia, itu karena kemiripan wajah Afghani dan Indonesia. Masa sih?

IMG-20160411-WA0021.jpg

@ Perpustakaan Victoria

 

IMG-20160411-WA0025.jpg

Berbeda dengan Perpustakaan Victoria, Perpustakaan Dandenong memiliki desain yang modern-minimalis. Koleksi bukunya sangat lengkap, bahkan ada koleksi khusus buku dari dan tentang Indonesia. Sistem teknologi yang digunakan kurang lebih sama dengan perustakaan UIN Sunan Kalijaga, ada bookdrop, ada lift khusus buku, corner room, mesin peminjaman mandiri tapi tentu saja dengan fasilitas audio visual yang lebih uwaw. Di pinggir bangunan ada jajaran sofa dengan TV dan DVD playernya masing-masing, kayak di cafe saja. Ada juga perpustakaan khusus anak. Buku-buku, audio visual, dengan tata ruang dan aksesoris yang cocok untuk anak-anak. Usaha yang bagus untuk menumbuhkan kecintaan balita pada perpustakaan. Sayangnya kami tidak diperbolehkan mengambil gambar di sini.

a.jpg

“Chalu Kabab Irani” baca tulisan ini kok ingat Pegon ya?

Jam sudah menunjukkan pukul 12.00, alarm lapar pun sudah berkumandang. Ya, kami akan makan siang dengan Muslim bertetnis Hazara dari Afghanistan. Mayoritas agama mereka berafiliasi pada Syi’ah, namun penampilan mereka berbeda dengan Syi’ah Irani yang terkesan selalu memakai chador hitam. Pakaian mereka sangat modis. Mirip Muslimah Indonesia. Ketika bertemu dengan Hazara lain baru aku mengamini perkataan Sahema tadi. Benar saja, wajah mereka sangat mirip dengan orang Indonesia.

Menu-menu yang disuguhkan pun nampak familiar, karena sebelumnya kami telah menjajal restoran Turki dan India. Kami pun memesan daging-dagingan, roti, kentang dan tentu saja nasi Biryani dan Kabuli. Berbeda dengan kelompok muslim sebelumnya, yang kami temui kali ini adalah imigran yang baru. Baru beberapa tahun mereka datang ke Australia, setelah mendapat diskriminasi dan konflik berkepanjangan di negara asalnya. Meskipun mereka mendapat perlindungan dan hak yang sama di Australia, namun mereka masih menjaga identitas mereka. “If u want to upload our photos to social media, please cut off our faces.”

aaa

Monash I’m in Luph…

Di skema jadwal kami akan melihat keramaian pasar Dandenong yang dalam seminggu hanya buka tiga hari saja. Semacam pasar tradisional yang rapi—bahkan sangat rapi, lengkap, dan dipadati banyak pengunjung. Bukannya aku tidak tertarik, cuma bapak-bapak ini kurang suka berada di keramaian pasar sepertinya, sehingga kami hanya jalan-jalan sekilas di Dandenong Market lalu beranjak ke Monash University untuk silaturahim ke Pak Nadirsyah Hosen.

Pak Nadir ini dosen tetap pertama untuk jurusan hukum Islam di Australia dari Indonesia. Rais syuriah NU Australia-Selandia Baru ini membicarakan pentingnya kajian fikih minoritas bagi Muslim di Australia. dari beliau juga kami tahu bahwa jurusan Hukum adalah jurusan favorit yang paling sulit ditembus di Australia, khususnya untuk jenjang S1. Mereka mensyaratkan nilai 97-98% untuk bisa masuk jurusan ini. wuih….. mangstap!

a.jpg

“Dekat buku berfotonya, biar kelihatan intelek” Pak Nadir emang super intelek kali Pak…

Pak Nadir juga cerita, kalau sejak dulu Unimelb dan Monash selalu bersaing. Tapi sekarang kedua universitas ini berjalan berdampingan, ibarat suami istri. Unimelb suaminya, sementara Monash istrinya. hihihi….

Bahan kelakar kita selama perjalanan pulang jadi bertambah, bukan lagi soal LGBTIQ tapi juga tentang kerupawanan etnis Hazara yang jadi motivasi untuk bisa kuliah di Australia. ih… dasar bapak-bapak ini!

aa.jpg

with Pak Zahrul @Monash Univ

Hari ini, hari minggu. Kami harus bersiap angkat kaki berpindah ke Canberra. Di sela-sela membereskan barang bawaan yang lebih berat karena oleh-oleh buku yang kami dapatkan, aku menyempatkan diri untu memasak. Bukan hanya karena aku wajib makan nasi, tapi merasa tanggung jawab juga atas sarapan mbak Ratih dan bapak-bapak. Meskipun seringkali gak dimakan, katanya masaknya terlalu siang. Jangan salahkan saya Pak, salahkan saja jarum jam yang berputar lebih cepat menuju angka 7. wew…

koperku kecil dan barang bawaanku cuma sedikit, jadi gak usah khawatir dengan aturan penerbangan domestik yang mengharuskan maksimal bagasi 23 kg. Berbeda dengan Mbak Ratih dan Pak Zahrul, kopernya gede dan bajunya banyak. Sampai-sampai harus meninggalkan beberapa buku yang dikasih karena berat koper yang melebihi timbangan maksimal.

 

Kota kecil, sepi, dingin, dan membosankan. itu info yang kudapatkan tentang Canberra. Tapi ternyata salah, aku malah jatuh cinta berat dengan keindahan alam kota ini!

Nantikan kisah selanjutnya perjalanan cewe kece ini di Canberra!! 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s