Journey to the Oz with MEP 2016: Pre Departure (1)

a.jpg

delegasi Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (MEP) 2016 batch 2 (dari kiri: aku, Mbak Ratih, Pak Deni, Pak Sabeth, dan Pak Zahrul)

Desember 2015, bulan yang sangat luar biasa bagiku. Bulan dimana aku berjuang meramu 200 lembar tesis dalam kurun waktu 3 minggu, dilema untuk memilih stay di pesantren atau pulang sebagaimana permintaan orang tua, mengurusi rapor anak-anakku, melayani pertanyaan orang tua siswa seputar progres hapalan al-Quran dan perkembangan akademik anak-anak, juga masih ingin menyempatkan apply beasiswa pertukaran MEP 2016 ke Australia. Siapa sangka di tengah-tengah keruwetan ini aku berhasil mendapatkan celah menuju hal yang fantastis? Ya.. aku mendapat kesempatan mengelilingi Melbourne, Canberra, dan Sydney untuk mempelajari kondisi umat Islam, kerukunan antar-inter umat beragama, manajemen pendidikan, dan kearifan hidup orang Australia. Dari sinilah ceritanya dimulai….

5 Januari 2016

Seperti sore-sore lainnya, tidak ada yang spesial dengan sore ini. Aku masih bergelut dengan sejumlah benang rajut yang bertebaran di tempat tidur. Di sela-sela jam ngajar, aku memang senang ngacak-acak kamar dengan berbagai warna benang rajut dan sisa-sisa kain jahitan. selain malas membereskan, juga biasanya aku malas melanjutkan kerjaan kalau sudah dirapihkan.

Ba’da salat Magrib aku iseng buka notif fb, tiba-tiba ada temen yang ngetag foto dan ngucapin selamat. Waw.. aku lulus seleksi awal Muslim Exchange Program 2016. Masuk 25 besar dari 530-an peserta itu sukses bikin hatiku dag.. dig… dug… jeger. Antara senang, bangga, nerpes, dan haru jadi satu. Untuk menstabilkan emosi aku ngaji dulu barang selembar dua lembar al-Qur`an. Alhamdulillah ya Allah… ini nikmat yang sangat besar. Langsung saja kuhubungi Mbak Lenni temen sekelas waktu S1 yang tahun lalu berangkat ke Aussie sebagai delegasi MEP juga.

“Mbak, aku lulus… wawancaranya gimana?”

Mbak Len pun memberikan saran dan tips-tips dalam menghadapi wawancara.

“Karena Mbak orangnya kreatif, jadikan itu sebagai kekuatan Mbak.”

Itu saran Mbak Lenni yang sukses bikin aku melakukan hal-hal freakish waktu wawancara. Tapi mungkin itu juga yang menjadikan para pewawancara tertarik denganku, buktinya bu Virginia Hooker sampai memberikan sebuah buku padaku di sela-sela wawancara, hehehe…..

Selain itu, aku juga coba meminta petuah dari Kak Adam, mahasiswa magister di Flinder University yang juga alumni MEP 2012 serta membaca kisah perjalanan Mas Shobi alumni MEP 2014 di Aussie. Ceritanya enak dibaca, deskriptif sekali, sampe-sampe rasanya kaya aku saja yang lagi pergi ke kesana.

Karena gak ada saudara di Jakarta yang bisa ditumpangi, aku berangkat Selasa malam pakai kereta api. Perjalanan Ciamis-Jakarta dapat ditempuh selama 8 jam, selama itu aku merasakan penderitaan di kereta. Dengan enam buah AC di setiap gerbong serasa berada di kutub utara saja. Lama gak pakai jasa KAI membuatku alfa dalam mempersiapkan peralatan penghangat badan. Hmmm… ternyata kereta api telah banyak berubah. Selain makin dingin sekarang jauh lebih tertib, bersih, dan nyaman, ada cas-casanya pula.

Pukul 5 pagi, kereta sudah sampai di Stasiun Jatinegara. Langsung kusapukan pandangan cari toilet, yap! Aku harus mandi dan ganti baju. Masa mau wawancara pakai setelan training? Harus kece dong… Setelah sarapan, langsung saja menuju ke kampus Pascasarjana Paramadina yang ada di Sudirman pakai jasa ojeg online. Sebelumnya, di telpon panitia mewanti-wanti jangan salah tempat, karena kampus Paramadina ada dua. Ini yang di Jalan Jendral Sudirman-Kuningan, bukan yang di Jalan Jend. Gatot Subroto-Mampang. Oke, aku sampai di Energy Tower lantai 22 kampus Pascasarjana Paramadina jam 7 kurang. Pagi banget… padahal jadwal wawancaraku pukul 9.30. gak apalah kepagian daripada telat.

Sambil menunggu aku pun melamun, serasa bermimpi saja aku bisa duduk di sini menanti wawancara, mengingat usahaku sebulan yang lalu saat mempersiapkan aplikasi pendaftaran yang hampir saja tidak jadi kukirim. Aku tahu informasi pendaftaran MEP 2016 di batas akhir pendaftaran: dua hari sebelum pendaftaran ditutup. Selama dua hari itu aku berhasil mengumpulkan berbagai persyaratan. Di tengah-tengah jam istirahat ngawas anak-anak yang lagi Ujian Akhir Semester (UAS) aku lari-lari ke kampus Pascasarjana Institut Agama Islam Darussalam (IAID) untuk meminta surat rekomendasi. Awalnya aku mau minta dari Rektor, tapi karena berbagai kendala, yasudah minta dari Direktur dan Kaprodi Pascasarjana saja. Pak Rektor ngasih tanda tangannya di surat keterangan aktif di pesantren saja. Karena kebetulan Pak Rektor itu Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam, hehe… Di hari terakhir pendaftaran aku masih sibuk ngumpulin surat rekomendasi, menulis essay dan Curriculum Vitae. Satu jam sebelum ditutup pun aku masih nulis CV. Huft… everything is done! Pukul 23.51 baru kukirim aplikasi pendaftaranku. Ya, DELAPAN menit sebelum batas ditutupnya pendaftaran. Luar biasa! Saat itu aku nginap di asrama yang dihuni 10 orang sekamarnya, lagi meriksa hasil ujian anak-anak di MAN, juga lagi nulis Tesis karena pengen ngejar wisuda Desember 2015, ditambah vertigo yang makin menjadi saat melototin monitor leptop. Sungguh ratu Drama!

Lamunanku terputus karena hadirnya para pewawancara. Aku say hello pada Bu Virginia dan Pak Greg. Ternyata beliau ini lancar sekali berbahasa Indonesia. Bu Virginia sempat terkaget-kaget mendengar ceritaku yang datang sepagi ini setelah menghabiskan 8 jam di kereta.

“Ibu tidak lelah?” Tidak bu, euforia wawancara mengalahkan segala jenis lelah, letih, lesu sisa perjalanan, hehe..

Para peserta pun mulai berdatangan. Sambil menunggu giliran, Pak Emil Radhiansyah, panitia dari Paramadina, berusaha mencairkan ketegangan yang sangat jelas tercetak di wajah para peserta. Kita ngobrol ngalor-ngidul seputar aktivitas sehari-hari di organisasi atau kampus. Pak Emil juga bercerita tentang jumlah peserta yang apply serta penyeleksian berkas. Ternyata berkas yang kita kirim diseleksi langsung di Australia dengan kriteria penilaian hanya pihak di sana yang tahu. Paramadina hanya berperan sebagai panitia penyelenggara seleksi saja, tidak ikut campur pada penilaian berkas atau pemilihan delegasi.

20 Januari 2016, hari bersejarah di mana aku diwawancarai oleh empat orang juri: pak Greg Fealy , bu Virginia Hooker, pak Rowan Gould, dan mbak Rita Pranawati. Pak Greg dan bu Virginia itu profesor dari The Australian National University. Pak Greg konsen dalam meneliti Indonesia, khususnya politik dan budaya Islam di Indonesia serta Nahdatul Ulama, sementara Bu Virginia konsen dalam bidang seni di Indonesia. Pak Rowan ahli Studi Islam dari The University of Melbourne. Sementara bu Rita dari KPAI yang juga alumni MEP 2010.

Satu, dua peserta telah keluar dari ruang wawancara. Tibalah giliranku… Bu Rita menggiringku ke ruang wawancara. Ruang wawancara disetting senyaman mungkin. Ada meja bulat dan kami duduk melingkar. Pertama-tama para interviewer memperkenalkan diri dan sekilas tentang latar belakang mereka, juga menyerahkan kartu nama. Yes, ini membantuku mengingat nama, soalnya aku agak susah mengingat nama orang. Pak Greg memberikan opsi untuk menjawab dengan bahasa Inggris atau bahasa Indonesia, ya tentu saja sebisa mungkin aku jawab pakai bahasa Inggris. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir dan kujawab semampuku. Pertanyaannya seputar esai dan CV yang kita tulis. Karena aku dari pesantren, Pak Rowan bertanya tentang stereotype teroris bagi pesantren di mata orang Australia. Kujawab dengan menyertakan beberapa ayat yang biasa digunakan para teroris dalam melegitimasi aksi mereka juga aku sertakan tafsirnya serta menunjukkan kesalahan mereka dalam memahami ayat tersebut. Thanks God aku pernah kuliah di jurusan Tafsir Hadis. Tak lupa aku juga menunjukkan foto-foto kegiatanku di waktu senggang bersama para santri di pesantren. Kegiatan tak terjadwal resmi namun sangat bermanfaat bagi mereka, meliputi keterampilan merajut, melukis, diskusi kajian fikih, pembelajaran bahasa asing, memasak, gardening, dan sebagainya. Wawancaraku ini cukup gila. Saking freakish-nya aku sampai malu untuk cerita, hehehehe……   Sesi wawancara ini diakhiri dengan pernyataan Pak Greg yang mempersilahkanku jika ingin menanyakan sesuatu tentang program ini. Aku jawabnya cuma, “Yes, thank you.” Mereka sontak tertawa, dan aku baru ngeh, oh disuruh nanyanya sekarang toh… aku kira nanti via email gitu. Aku pun minta maaf karena salah paham. Akhirnya aku menanyakan tentang sekolah Islam di sana, bukan tentang program ini secara khusus. Hihihi….. pikirku kalopun aku gak lulus aku sudah dapat sedikit info tentang sekolah Islam di sana. Modus ya….

Sesi wawancaraku kayaknya lebih cepat dari dua peserta sebelumnya deh.. Cuma 30 menit, yang sebelumnya sampai 45 menitan. Hhmmm…. ikhtiar sudah tinggal serahkan hasilnya kepada Allah, yang akan berangkat hanya 10 orang saja. Yang ada dalam pikiranku saat itu, setidaknya aku pernah diwawancarai oleh para profesor dari Australia, ini pertama kalinya aku ngobrol panjang lebar dengan native speaker loh.. Setidaknya aku gak nervous sama sekali waktu wawancara padahal ini pertama kalinya juga aku ikut sesi wawancara beasiswa (wawancara kerja pun belum pernah). Setidaknya aku diberi buku sama bu Virginia. Setidaknya aku dapat uang pengganti transport dari panitia, dan setidaknya-setidaknya yang lain.

Hari masih pagi, aku sempatkan menengok perpustakaan Universitas Paramadina di kampus utama. Lalu, menyambangi si cinta yang sedang menyimak sidang pra peradilan R.J. Lino di Pengadilan Tinggi Jakarta Selatan. Lima menit bertemu sudah terbilang sangat cukup, padahal cuma duduk bersama di ruang sidang mendengarkan pertanyaan jaksa dan pengacara terhadap saksi. hhhmmm….

Drama-drama selalu saja terjadi dalam kehidupanku, termasuk saat ngurus visa. Hampir saja aku gagal berangkat. To be continued…

One thought on “Journey to the Oz with MEP 2016: Pre Departure (1)

  1. Ping-balik: Journey to the Oz with MEP 2016: Pre-Departure (2) | lissafitri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s