Journey to the Oz with MEP 2016: Pre-Departure (2)

sebelumnya: Journey to the Oz with MEP 2016: Pre-Departure (1)

b.jpg

sinar matahari sore yang mengintip celah dinding Islamic Museum Australia

Dua minggu berlalu, pengumuman belum juga muncul. Selama itu aku gak berusaha mengecek hasil seleksi. Tutup mata tutup telinga. Biasanya aku adalah orang penuh optimisme tapi tiba-tiba saja aku menjadi pesimis begini. Efek kegilaan waktu wawancara kali ya… hehehe…

Di suatu sore di pertengahan Februari, iseng lagi buka beranda facebook, eh ada pengumuman hasil seleksi di halaman Universitas Paramadina. Masih anget, baru dipos dua jam yang lalu. Klik…. tada… ada namaku di sana, di nomor urut dua di kloter pemberangkatan kedua. Langsung aja aku tunjukin ke anak-anak yang lagi duduk-duduk di sekelilingku. Hanya untuk memastikan, jangan-jangan aku salah lihat. Betul, itu namaku… alhamdulillah ya Allah. Deja Vous, kebahagiaan yang sama dengan kebahagiaan yang menghampiriku delapan tahun lalu: saat tahu kalau aku lulus beasiswa PBSB Kemenag RI. Langsung aku menundukan kepala, bersujud mengucap syukur kepada-Nya. Alhamdulillah ya Allah… wa ‘asa antakrahu syaian wa huwa khairullakum wa’asa an tuhibbu syaian wahuwa syarrullakum, rabbana ma khalaqta hazda batila, selalu ada “sesuatu” di balik sesuatu. Bagaimanapun kunjunganku ke Australia nanti akan menjadi hal terbaik yang Allah pilihkan untuku. Langsung kusiarkan berita ini kepada orang tua, keluarga, juga teman-teman.

Seperti janjiku waktu wawancara di negeri Kangguru kelak aku juga akan mempromosikan batik sebagai salah satu kebanggaan Indonesia. Langsung saja ku susun rencana. Berarti aku harus nyicil jahit batik di sela-sela jam ngajarku, karena baju batik yang ada sekarang ya batik buat ke sekolah doang. Kalo mau perjalanan gini harus lebih kece dong…. Kain? Wah harus belanja, beli kain saja sudah cukup ekonomis bagiku karena jahit sendiri diambah ada beberapa buah sarung (yang biasa kupakai tidur) di lemari yang bisa disulap jadi cardigan. Hihihi…

Tak lama setelah melamunkan soal jahit-menjahit batik, ada telpon masuk dengan kode 021, owh… Jakarta. Langsung saja kuterima. Ternyata dari panitia di Paramadina, mengucapkan selamat karena telah terpilih sebagai delegasi MEP 2016 juga mengabarkan agar handphone selalu standby karena akan dihubungi oleh Kedutaan Australia.

Hari demi hari menunggu kabar dari Kedutaan yang belum juga datang. Di sinilah kegalauan pertama berlangsung. Sampai kloter pertama berangkat tanggal 6 Maret, aku belum menerima kabar dari kedutaan. Gimana ini??? Gimana kalau mereka lupa mengabariku? Gimana kalau ternyata salah data, Gimana kalau bukan aku yang lulus tapi panitia salah nulis? Separno itulah diriku.

Berbekal daftar nama teman seperjalananku yang ada di pengumuman aku coba cari di facebook, beberapa kutemukan. Langsung ku-add dan kukirimi pesan di inbox, tapi sayang… belum ada yang respon. Belum rejeki. Selamat bergalau ria saja!

Di tengah-tengah jam kursus writing, tang!!! Hapeku bunyi tanda ada email masuk. Wow… dari kedutaan. Owh.. ucapan selamat, info pre-departure dan disuruh isi form aplikasi visa. Print, isi, kirim, done!

Lima hari kemudian, ada email lagi dari kedutaan yang menginformasikan bahwa form aplikasiku belum sampai ke kedutaan. Dan hanya aplikasiku satu-satunya yang belum sampai. Langsung saja kususul ke JNE, jasa pengiriman yang aku pakai. Ternyata form ku sudah diterima oleh sekuriti dua hari setelah hari pengiriman, tapi gak sampai ke tangan Bu Emi yang ngurusin visa kita. Dua.. tiga.. sampai lima hari gak ada balasan email yang kukirim ke Mbak Anindita dan Bu Emi. Ternyata beliau sedang cuti. Haduh…. hilang konsentrasiku karena kegalauan yang kedua ini. Bisa-bisa keberangkatanku terancam gagal, karena setahuku pengurusan visa itu minimal dua minggu, sementara waktu keberangkatan tinggal sepuluh hari lagi. Ya… aku hanya bisa berdoa.

Tanggal 30 Maret Bu Emi telpon, ternyata form aplikasi visa ku belum sampai juga ke tangan beliau. aarghhh… Aku yang sudah ancang-ancang menyiapkan jadwal kereta ke Kediri-Jakarta (posisiku saat itu sedang di Pare, Kediri) untuk mengantar langsung berkas eh.. dilarang sama bu Emi, “Pakai jasa pengiriman tercepat saja dan kirimkan nomor resi pengirimannya supaya nanti kita bisa lacak. Gak usah galau, bakal kita tungguin formnya, Mbak gak akan kita tinggalkan kok,” kata bu Emi. Cesss….. ekeu bisa tenang kalo begitu.

Aku merasa sangat dispesialkan. Bagaimana tidak? Visa selesai hanya dalam waktu sehari. Kemarennya form aplikasi visa diterima kedutaan, hari ini sudah diapprove oleh imigrasi, gratis pula. Keren!!

Urusan visa selesai, tinggal belanja souvenir kelompok yang sudah disepakati oleh rekan-rekan seperjalananku di kloter kedua. Atas nama kelompok kita pilih TAPLAK MEJA BATIK yang kita kasih bordir nama MEP 2016. Sangat Indonesia, bagus, dan ringan di bagasi. Untuk souvenir kecil atas nama pribadi aku bawa hasil karya anak-anak di pesantren: boneka rajut dan hiasan dinding dari rajutan juga. Cakepdeh!

kicut 2.jpg

KiCut: Souvenir buatan anak-anak IX MTs Kelas Program Bilingual

Selain itu, masih banyak hal “ajaib” yang terjadi padaku. Dari mulai hulang-huleng di pool bis pukul 1.30 sendirian, sekali lagi SENDIRIAN..!! sampe subsidi transport dari panitia yang gagal ditransfer. Suasana tengah malam di pool bis krik-krik sekali, ditambah kosongnya penumpang. Hanya ada aku saja perempuannya di sana, sisanya laki-laki yang terdiri dari kru bis, pedagang, supir taksi dan yang nongkrong-nongkrong, hiii…… suasana makin mencekam. Rasanya seperti sedang uji nyali saja, dan memang sedang uji nyali ini mah.

Ini gara-gara temen yang mau jemput mendadak ada tugas ke Surabaya. Menghubungi temen lain juga gak enak kalo sepagi ini. Mau buka kamar, rate hotelnya rata-rata sejutaan kalo di daerah Kuningan. Kan sayang duit segitu, mendingan dipake nambahin buat beli souvenir aja kan? Tapi Allah sangat menyayangiku, tiba-tiba aku ingat punya saudara yang masih tinggal di Jakarta. Jarang ketemu dan kurang begitu akrab, tapi mau gimana lagi. Langsung saja kuhubungi. Alhamdulillah, dia menjemputku dan membantu mencari hotel dengan rate yang agak manusiawi bagi ukuran cewek kere sepertiku. Hahaha..

Siangnya, for the first time aku ketemu temen-temen seperjalananku di kloter kedua setelah melewati ketatnya pemeriksaan di bagian keamanan kedutaan yang sama bahkan lebih dari pemeriksaan keamanan di bandara. >_< Pak Sabeth sekjen Dompet Dhuafa juga dosen Ekonomi Islam di Untirta, Pak Zahrul aktivis di Muhamadiyah pusat juga dosen UMY jurusan Hubungan Internasional, Pak Deni dari MUI dan Muhamadiyah cabang Bogor juga dosen Ekonomi Islam di IPB, dan Mbak Ratih psikolog dan dosen di Universitas YARSI. Mereka ini orang-orang hebat. Dibandingkan mereka apa atuh aku mah, cuma butiran debu dan remeh raginang. Aku akan belajar banyak hal dari mereka. Yes!!

PIC_0008.JPG

ready for flight >_<

Lusa aku akan berangkat ke benua tetangga, benua dengan bentuk yang cantik dan photogenic—yang beritanya banyak kudengar dari lagu kanak-kanak tahun 90-an berjudul Katanya—menempuh perjalanan udara selama 7 jam 50 menit, merasakan musim yang berbeda dengan kampung halamanku, dan berkomunikasi dengan pembicara asli bahasa Inggris. Pasti lebih asyik dari sekedar part listening di tes TOEFL. Hihihi…

Bagaimana kisahku saat menapaki benua cantik ini? selanjutnya journey to the Oz with MEP 2016: Melbourne (1)

One thought on “Journey to the Oz with MEP 2016: Pre-Departure (2)

  1. Ping-balik: Journey to the Oz with MEP 2016: Pre Departure (1) | lissafitri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s