Journey to the Oz with MEP 2016: Sydney (1)

Sebelumnya Journey to the Oz with MEP 2016: Canberra (3)

Welcome to Sydney!!

Perjalanan udara Canberra-Sydney hanya ditempuh dalam waktu 40 menit. Itu pun lama muter-muternya di langit Sydney. Karena kalau perjalanan darat, dua kota ini dapat ditempuh dalam rentang 3 jam saja. Udara Sydney memang lebih hangat dari kedua kota sebelumnya. Tanpa jaket pun kami akan baik-baik saja. Kebiasaanku pakai dua kaos manset harus segera ditinggalkan, pasti akan kepanasan soalnya. Seperti Melbourne, Sydney juga kota metropolitan. Hanya saja, Sydney tidak serapih dan sebersih Melbourne. Bangunan-bangunan di Sydney juga lebih mirip bangunan di negara Asia ketimbang Eropa. Malam hari, saat sampai ke hotel. Mbak Ratih langsung tepar, sementara aku nyuci baju… seperti biasa.

a.jpg

view dari jendela kamar hotel

Pagi-pagi, Pak Rowan sudah mengirimi kami sms untuk segera berkumpul di lobi hotel pukul 08.00. Hari ini kami akan berkunjung ke studio Gould Sydney, miliknya Peter Gould seorang desainer grafis yang sudah menghasilkan banyak karya, baik buku-buku Islam untuk anak, maupun software berisi kajian Islam untuk anak, remaja, dan dewasa. “Gould” nama ini sangat familiar, tentu saja itu nama panjang Pak Rowan. Tapi Peter Gould bukan sanak saudara Pak Rowan. Katanya nama Gould itu banyak dipakai di Australia. oh… begitu ya.

a.jpg

nyaman sekali duduk di kursi ini, sampe males bangun!

Di studio kami disambut oleh Subhi Bora sang manajer studi yang berdandan sangat modis. Kami pun duduk di kursi balon warna-warni untuk mendengarkan penjelasan Mbak Subhi tentang produk yang mereka hasilkan. Selain mendengarkan aku juga sibuk mengamati desain studio ini. Ruangan bercat biru-putih dengan hiasan doodle kartun. Ada juga grafiti doodle kaligrafi, bagus sekali. Kami berdiskusi seputar produk mereka, dan tentu saja aku menanyakan tren pakaian muslimah di Australia. Tapi ternyata, dinamika tren fashion muslimah di sana tidak sehebat di Indonesia. Setelah Pak Rowan yang minta difotoin bersama nama GOULD kami pun bermain kilat di pantai Botany Bay. Seperti pantai-pantai lain di Australia, ini adalah pantai yang indah! Aku gak tahan untuk tidak membuka sepatu dan nyebur dikit ke air laut yang jernih. Lalu kami mengukir nama MEP 16 di hamparan pasir putih. Ya, kami pernah ke sini!

aa.jpg

Pertemuan dengan Islamic Sciences and Research Academy of Australia (ISRA) memberikan kesan khusus. Terutama saat bertemu dengan Mehmet Ozalp, direktur ISRA. Beliau, menyambut kami dengan pakaian batik yang ia kenakan. Selain itu, ia juga menyediakan saus sambal sebagai salah satu pelengkap jamuan kebab sebagai makan siang kami. Orang Australia kurang menyukai rasa pedas. Waktu makan di resto Afghanistan, Saheema bilang kalau biryani ini sangat pedas, tapi begitu kumakan cuma anget dikit. Padahal aku cukup anti makan pedas. Pak Mehmet ini tahu betul cara menyambut kami, dan jujur aku sangat terharu sampai diperhatikan detail begitu. Bahkan di detik-detik ujung pertemuan kami Mahsheed yang juga alumni MEP 2007 sempat berusaha mengatakan  “selamat jalan” meskipun ia keliru mengatakan “selamat datang”. Ya, itu sangat kami hargai sebagai penghargaan terhadap teman, bahkan keluarga.

a.jpg

Meet Mehmet Ozalp @ ISRA

Sepanjang perjalanan pulang pandanganku selalu tercuri oleh sepatu boot yang nangkring di etalase toko. Itu gara-gara sepatuku kotor dan baru berani nyuci sekarang setelah hampir dua minggu dipakai jalan-jalan. Ih.. jorok. Ya gimana coba, cuaca dingin gak kuat kalau pakai sepatu teplek biasa. Untung mengatasi bau, kuakali saja dengan bubuk kopi. Kalau dicuci gak akan kering. Di Sydney saja butuh usaha keras untuk mengeringkan itu sepatu. Mulai di jemur di terik matahari, di lap-lap untuk menyerap sisa air, lalu di simpan di depan AC pemanas. Tapi aku gak bisa beli boot, secara duitku ditinggal di hotel. Halah..!!!

IMG_20160420_152544.jpg

Kesme Maras yang sudah dibagi dua

Siang ini Pak Rowan mau ngajak kita makan es krim Turki. Kesme Maras yang padat, lembut, dengan tingkat kemanisan yang pas, sungguh es krim terbaik yang pernah aku makan. Sebenarnya porsi sebesar telapak tangan ini bisa kuhabiskan sendiri, tapi begitu ingat migren yang mengancam segera saja kubagi dengan Pak Zahrul yang mau memanggil pelayan untuk pesan Kesme Maras sepertiku. Pak Sabeth yang udah ahli dengan kuliner Turki menyarankan kami memesan kue-kue kecil. Tapi aku kurang suka, terlalu manis.

Suasana makan es krim pun semakin ramai saat Leila, Sophia, dan Mbak Brynna yang datang menghampiri kami.

aa.jpg

tempat wudhu marmer di Mesjid Auburn

Salat Ashar kami tunaikan di Auburn Galipoli Mosque. Sebuah mesjid jami yang dibangun oleh etnis keturunan Turki. Oh pantas saja waktu pertama kali lihat tadi rasanya mirip sekali dengan mesjid di Istanbul. Selain kami, ada juga sekelompok mahasiswa non Muslim yang sedang belajar Studi Islam berkunjung melihat mesjid ini. sambil menunggu bapak-bapak salat magrib aku mengajak Leila bermain. Awalnya dia agak menjauh, namun setelah kukeluarkan senjata pamungkas dia luluh juga bahkan sangat nempel denganku. Senjata pamungkas itu tak lain adalah menggambar, hihihi…

a.jpg

Leila yang ngajak dansa di pinggir jalan

Waktu dinner di resto Leila sampai menungguku yang sedang ke toilet,

“Tante bilang kita akan menggambar,” ya, tentu saja Leila… dengan senang hati tante akan menghabiskan seluruh space sketch book-nya Leila, hihihi…. dan tenang saja tante Lis masih bisa menangkap obrolan-obrolan om dan tante yang lain sembari menggambar dan mewarnai bersama Leila.

IMG-20160420-WA0012.jpg

@ train with Leila n Sophia

Karena kami merasa gak enak membiarkan Mbak Brynna pulang bertiga dengan kereta sementara kita pakai mobil yang disopirin Pak Rowan, aku sama Mbak Ratih akhirnya milih naik kereta menemani Mbak Brynna. Sementara bapak-bapak pakai mobil bareng Pak Rowan. Ini juga jadi pengalaman tersendiri bagiku, menikmati perjalanan kereta dua tingkat yang super cepat. Selama di perjalanan staminaku yang baru diisi ulang langsung habis lagi karena mengikuti permainan Leila: permainan tebak-tebakan dan main peran yang berhasil mengocok perutku. Kita tertawa terbahak-bahak tak peduli dimana kita berada. Kita sedang di public transportation kaleee… tapi untungnya penumpang cukup sepi, sehingga agak bebas ngakak.

Lanjut: Sydney (2)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s