Journey to the Oz with MEP 2016: Sydney (2)

Sebelumnya: Journey to the Oz with MEP 2016: Sydney (1)

b.jpg

Hayah… Leila, padahal tante udah pose cantik kok Leila malah motoin Om yang yang lagi motoin kita..

Jadwal hari ini banyak yang dicancel, termasuk pertemuan pagi ini dengan Amna Karra. Jadi bisa lebih bersantai di hotel. Pukul 09.00 kami berangkat menyusuri jalanan Sydney yang ramai. Kami diajak melihat kantor pemerintahan, bank, dan cafe yang menjadi lokasi teror penembakan beberapa waktu lalu. Perjalanan bolang kami pun berakhir di sebuah Sinagog untuk bertemu dengan Jeremy Jones, Direktur Australia/Israel & Jewish Affairs Council. Dengan dipandu oleh seorang Rabi, kami memasuki Sinagog dan melihat Torah yang digulung. Deuh…. jadi kepengen bisa baca Ibrani.  Mudah-mudahan suatu saat nanti!

b.jpg

Waw… aku masuk sinagog!

Siang hari kami berkunjung ke Department of Justice, Victim Service and Support. Di sana kami berdiskusi tentang penanganan kasus diskriminasi perempuan, korban pelecehan seksual, dsb. Yang paling mengiris hati pernyataan mereka tentang suku Aborigin. Di satu sisi mereka banyak didiskriminasi namun di sisi lain saat akan ditolong mereka sulit percaya terhadap pemerintah. Kasihan sekali.

IMG_20160428_104904.jpg

Universitas Sydney

Sore hari kami pun berjalan menuju University of Sydney. Kampus dengan bangunan kuno. Mirip Hogwart deh… di pintu utama kami menemukan jajaran salib kecil yang ditanam di sekeliling taman. Ini kuburan siapa ya? Apa jangan-jangan kuburan mahasiswa yang DO? Pak Rowan pun tertawa…

“Bukan, itu salib atas nama para pahlawan yang gugur di Perang Dunia 1. Jadi untuk memperingati ANZAC Day, salib itu dipasang.”

Oh…. pantesan ada nama-nama dan tahun wafatnya, yang rata-rata tahun 1915-1916-an. Karena hari makin gelap foto kita di kampus idaman pun gak terlalu bagus.

Alarm lapar dari perut sudah berbunyi, saatnya makan malam. Kita akan dinner bareng anggota SICHMA. Organisasi yang bertugas menyertifikati daging halal, semacam MUI di Indonesia. Dr. Abdurrahman, imam mesjid Auburn yang kemaren kita kunjungi, juga ikut datang.

File_001.jpeg

Sepertinya Kebab sudah jadi makanan favorit kita selama dua minggu ini..

“Assalamualaikum Sis, I like your explanation about arjulakum and arjulikum you said before,” aku pun tersenyum dan mengucap terima kasih saat ingat aku pernah menjelaskan qira`ah di Q. S. al-Maidah: 6 saat melihat kaligrafi ayat itu di atap tempat wudhu  di Mesjid Auburn kemaren.

Makan malam dengan para kiai membuat kami terdiam (khususnya Mbak Ratih, karena seperti biasa aku gak begitu banyak bicara). Canggung. Rasanya serasa lagi makan bersama K.H. Ma’ruf Amin, atau K.H. Sahal Mahfudz gitu. Terutama yang dihadapanku itu adalah ketuanya. Beuh… kami pun makan Kebab di meja yang memanjang. Pak Rowan mengira-ngira, nanti makanan di sayap kiri akan banyak yang tersisa, karena perempuan biasanya makan hanya sedikit. Betul saja. 100 buat Pak Rowan, ketika kami melihat ke arah kanan makanan telah banyak berkurang, bahkan sudah ada piring yang kosong, sementara piring di sayap kiri masih penuh dengan makanan. Hihi…

Lajutkan ke Sydney (3)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s