Journey to the Oz with MEP 2016: Sydney (3)

Sebelumnya: Journey to the Oz with MEP 2016: Sydney (2)

Mobil kami menembus lorong-lorong jalan bawah tanah. Kami yang tiba di depan kantor Ibrahim Abdo langsung disambut oleh Maha Najarine. Maha bekerja sebagai pengacara dan dia akan menjadi guide sampai kepulangan kita ke Indonesia. Beberapa hari yang lalu kami sempat bertemu dengan Ibrahim di acara dinner. Meskipun masih muda, tapi ia sudah punya perusahaan yang menangani urusan psikologis umat Islam di Australia dengan metode NLP (Neuro-Linguistic Programming). Sebelum pulang aku bilang, “mungkin nanti aku akan banyak menghubungimu, karena aku bekerja mengurusi anak-anak dan remaja,” ya tentu saja, feel free katanya.

aaa

Hari ini hari Jumat, kita akan Jumatan di Mesjid Ali bin Abi Thalib, Lakemba. Daerah ini merupakan teritorinya umat Islam. Sebelum Jumatan kami mampir dulu ke rumah ibunya Maha, dan kami diberi sekotak Tim Tam. Saat kugigit, beuh… coklatnya beda ya sama Tim Tam di Indonesia. Saking kuat rasanya aku sampai gak sanggup menghabiskan potong kedua si manis ini.

Saat mobil di parkir, kami melihat segerombol muslim dan muslimah yang akan menunaikan salat Jumat. Mungkin kalau di Indonesia, perempuan yang salat Jumat itu hanya sedikit, tapi di sini sebagian besar muslimah juga ikut melaksanakan salat Jumat. Aku pun ikut salat Jumat. Aduh ini pertama kali loh, sampai-sampai aku ragu urutannya apa dulu ya? Tentu saja khutbah dulu baru salat. Memang pengetahuan yang tidak pernah dipraktekkan itu cepat lupanya. Hehehe…

Di sela-sela khutbah yang dibacakan dalam bahasa Arab, seorang sister, mungkin DKM kalau di kita, merapihkan barisan dan menyuruh kami untuk memenuhi shaf depan terlebih dahulu. Tiba-tiba ingatanku melayang saat wudhu tadi. Toilet di Australia memang toilet kering, dan itu kutemukan hampir di setiap bangunan termasuk mesjid dan perkantoran Islam. Hanya di beberapa mesjid saja aku menemukan toilet  ber-shower, selebihnya hanya disediakan pot kecil untuk cebokan. Aku gak paham, dan belum sempat nanya lebih lanjut apakah ini karena 1) mazhab bersuci mereka yang menerima tisu sebagai alat bersuci dan pot itu disediakan untuk menghormati bagi mereka yang hanya menerima air sebagai alat bersuci, atau 2) aturan pembangunan di Australia yang sangat ketat, sampai toilet pun diatur. Hmmm… Memang kata Mbak Brynna selain biaya akomodasi yang super muahal juga sangat ketat aturan. Untuk merenovasi ukuran jendela rumah saja harus melalui birokrasi yang panjang, tentu saja dengan biaya yang sangat mahal. Bisa menghabiskan $ 4.000. WAW…. Tapi soal gak ada shower di toilet mesjid ini gak sampe diatur seketat itu deh kayaknya.

P4220237.JPG

Maha Najarine

Maha meminta maaf karena biasanya khutbah disampaikan dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris, sementara hari ini hanya dalam bahasa Arab. “It’s OK Maha, we understand what he said cuz we can speak Arabic.” Meskipun kemampuan bahasa Arab-ku buruk tapi aku masih bisa menangkap khutbah yang membicarakan persatuan umat itu. Aku juga menjelaskan bahasa Arab menjadi bahasa yang wajib diajarkan pada siswa pesantren dan madrasah. Maha yang ekspresif tak henti-hentinya menyebut, Masya Allah…

Orang Australia memang ekspresif ya. Jadi ingat saat di masjid tadi. Karena masjid cukup penuh ada seorang Sista yang minta izin salat sunnah di tempatku salat. Aku pun mempersilahkan dan beranjak ke shaf depan yang masih kosong. Dia minta maaf tak henti-hentinya karena gak enak telah membuatku pindah tempat. Hehehe…

aa.jpg

Martabak Duren yang rasanya tidak seenak martabak buatan Mang Ade

Makan siang kali ini di rumah makan Indonesia. Masih di daerah Lakemba. Mungkin karena kangen masakan Indonesia kami makan cukup banyak, bahkan aku sampai kekenyangan. Padahal rasanya biasa saja. Bahkan cenderung tasteless. Wew…. begitu melihat ikan, sejenis ikan kembung, aku langsung girang. Pasti enak banget. Eh, ternyata sama saja amis! Gak enak. Memang selama di Australia aku anti makan ikan. Padahal di Indonesia ikan itu masuk kategori makanan paporit ane…. kalau di sini amis banget!

a.jpg

meet MAA

Di tengah rintik-rintik hujan mobil kami menuju kantor Muslim Aid Australia (MAA), organisasi semacam Dompet Dhuafa. Menurut pemaparan mereka Muslim di Australia sangat peduli dengan zakat dan sedekah. Terbukti dengan jumlah dana yang dapat mereka kumpulkan. Selain menolong korban bencana alam, mereka juga membiayai pendidikan anak yatim dan memberikan pelatihan keterampilan tradisional di beberapa negara berkembang, termasuk di Indonesia tepatnya di Yogyakarta. Mereka juga melakukan inovasi dalam mengemas daging kurban. Sebelumnya dikemas dengan kaleng, tapi sekarang dengan plastik. Lebih ramah lingkungan, praktis, dan mudah dibawa. Mereka juga mengemas daging yang telah dibumbui dan dimasak, sehingga cukup dihangatkan sudah bisa langsung dimakan.

a.jpg

daging kurban MAA

Kami bergegas menuju steakhouse untuk dinner dengan para psikolog yang menangani drug abuser, seperti Hanan Dover. Tapi sebelumnya kami menyempatkan diri menengok masjid komunitas Islam Indonesia di Tempe (baca: Tempi). Tempat-tempat di Australia memang banyak yang menggunakan bahasa suku Aborigin, semacam Dandenong yang terdengar lebih Korean atau Tuggranong yang terdengar seperti Tanggerang.

Dua hari lagi kami akan pulang. Besok jadwalnya kita maen melihat ikon Sydney. Ya Opera House! Tapi kegirangan ini terlebih dahulu diawali mukaku yang pucat pasi seperti mayat. Hampir saja aku gak bisa pulang ke Indonesia gara-gara tas ku yang berisi paspor ketinggalan di bis. Selanjutnya:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s