Journey to the Oz with MEP 2016: Sydney (tamat)

Sebelumnya: Journey to the Oz with MEP 2016: Sydney (3)

Pagi yang cukup mendung berbanding terbalik dengan suasana hatiku yang cerah seria, karena pelukan Leila yang menyambutku di lobi hotel tadi. Semenjak acara gambar-menggambar dan dansa di pinggir jalan itu Leila memang semakin nempel denganku. Aku gak keberatan, justru senang sekali bisa mendengarkan celoteh bahasa Indonesianya yang baik atau bahasa Inggrisnya dengan aturan tenses yang sempurna. Belajar grammar for speaking di mana sih Leila? Hihihihi….

IMG20160424094120.jpg

Leila yang manis

Selama di bis, aku duduk berdua bersama Leila, bercerita tentang ini itu: obrolan khas anak-anak. Keceriaan memang seringkali membuatku lupa daratan. Begitu turun dari bis aku meraba-raba pundak dan punggungku. Sepertinya ada ada yang kurang. Tas ku? Pasporku? Sontak aku berteriak, “Pak… Tas ku tertinggal di bis!”

Kami berlari mengejar bis yang akhirnya mau berhenti. Pak Rowan dengan sigap naik dan berlari untuk mencari tasku.

“Ini tasnya mbak Lis,” Tak hentinya aku mengucapkan terima kasih dan maaf… Terutama sama Mbak Brynna yang berlari sambil menggendong Sophia. Maafin tante ya Sophia…. karena kecerobohan sifat pelupa tante semua orang panik pagi ini. Aku pun jadi bulan-bulanan pagi ini.

“Lis ini sengaja mau ngilangin paspornya, biar gak bisa pulang dan menikah dengan Hazara,” ucap Pak Deni. Idih… si Bapak!! Lagian tumben sekali hari ini aku bawa paspor, biasanya taktinggal di kamar. hmmm…

a.jpg

di bawah Sydney Harbour Bridge

Pagi yang mendung, sesekali butiran gerimis yang terbawa tiupan angin menerpa wajah kami. Dingin sekali dan sayangnya aku gak bawa jaket! Di sekitar Sydney Harbour, kami dipandu Gail untuk melihat tanaman yang biasa dipakai orang Aborigin sebagai obat tradisional dan kerajinan, juga mencoba memakai “tato” mereka. Beberapa tanaman ternyata ada di Indonesia, seperti tanaman paku dan semak. Sesekali aku mencuri waktu untuk membuat foto kertas pesenan anak-anakku atau melihat oyster yang menempel di batang-batang tembok penyangga dermaga. Airnya jernih sekali!

aa.jpg

dingin bu…

Petualangan kami berlanjut ke Manly Beach dengan menggunakan kapal feri. Begitu masuk, kami langsung berlarian menuju bagian belakang kapal. Di buritan ini kami berebut foto berlatar belakang Opera House dan Sydney Harbour Bridge. Andai saja cuaca lebih cerah, mungkin foto kami bersama dua ikon Sydney ini akan jauh lebih bagus.

Satu jam kemudian…

Kami duduk manis di pantai menikmati fish and chips yang tadi kami pesan. Burung Camar semakin mendekati kami. Omaigad!! Aku gak mau kebabku yang enak ini dicuri sama burung putih itu!

Canda tawa kami terputus oleh kabut awan yang mendekat. Dan Byur…… hujan turun deras sekali. Pantai yang cerah berubah gelap hanya dalam hitungan menit. Ajaibnya, hujan langsung berhenti begitu kami sampai di pinggir pertokoan di seberang jalan, dan cuaca pun kembali cerah. Masya Allah…. begitu cepatnya cuaca berubah di sini. Sekarang panas, lima menit kemudian dingin sekali. Luar biasa! lebih luar biasa lagi burung Camar yang terus mengikuti, sejak tadi mereka mengintai makanan yang kami bawa. Dasar…

aaa.jpg

Burung Camar yang cantik dan “menyeramkan”

Kapal berjalan lebih cepat saat perjalanan pulang. Juga karena ombak yang cukup besar telah sukses menggoyang otak kami. Aku segera berlari ke haluan, menikmati terpaan angin dan hujan yang sangat dingin. setasa diguyur air es! Bajuku langsung jibreg. Lebih baik dingin begini daripada aku KO di dalam kapal. KO alias mabok laut.

Sebelumnya aku tidak pernah merasakan hempasan dinginnya angin laut yang begitu kuat. Tingginya kecepatan kapal melawan ombak yang besar membuatku kuyup terkena cipratan air laut. Hhmm…. Betapa kuatnya fisik para nelayan. Mereka berlayar menebar jaring melawan badai demi menangkap seekor dua ekor ikan di tengah buasnya lautan. Maafkan aku yang selalu nawar harga ikan laut di pasar sampai titik harga terendah… maapkanlah…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

foto aja dulu sama kapal pesiar, jadi penumpangnya nanti aja kalo udah kaya raya

You look funny with your hat tante,” ucap Leila begitu melihatku memakai topi milik Pak Deni. langsung saja kubenahi letak topinya. Dan di situ aku baru sadar kalo kerudung luarku copot. Pasti gara-gara angin di haluan tadi. Untungnya kerudung dalamku mampu menutup rambut dan leherku dengan sempurna. Fyuh….

Siang ini Pak Rowan memberi kami kesempatan beristirahat di hotel sampai waktu belanja souvenir di Paddy’s Market tiba. Kami tepar!!

“Belanjaan kamu cuma segitu Lis?” tanya Pak Sabeth yang melirik satu plastik ukuran sedang di tanganku.

Aku pun menunjuk tas ransel penuh sesak yang kugendong. Kali ini aku belanja gantungan kunci banyak Pak…. gak kaya bapak yang cuma beli boneka dan souvenir lain buat keluarga, soalnya bapak kan udah belanja satu troli penuh coklat waktu di supermarket kemaren. Buat nyuap rekan kerja di kampus katanya, biar gak cerewet nanyain “kemana aja bapak ini kok gak ngajar-ngajar?”

Pak Sabeth memang super sibuk. Naek pesawat itu udah kayak seringnya aku naek angkot, paspor pun udah kaya buku diary aja. Cepet penuh dan cepet gantinya. Lima hari sebelum ke Australia Pak Sabeth baru aja pulang seminar dari Turki. Seminggu habis dari Australia pun langsung ke Malaysia. Kalau denger kisah perjalanan Pak Sabeth memberikan bantuan ke negara konflik itu seru banget! Kaya novel Les Misѐrables-nya Victor Hugo.

aaaa

keceriaan kami hari ini… Pak Deni cuma keliatan topinya aja

Selepas salat Magrib-Isya, kami segera makan malam di restoran Vietnam. Karena gak tersertifikasi halal kami pun menghindari daging-dagingan. Pak Rowan meminta kami bergegas agar bisa menyaksikan kembang api di Darling Harbour. Sayangnya… kami terlambat. Begitu sampai di dermaga, pertunjukan kembang api telah selesai. Padahal di jalan tadi kami sudah berlari-lari. Ya, gara-garanya kami memang terlambat sejak di hotel tadi. Kelelahan jadi alasan kami untuk malas turun gunung. Pak Rowan meminta kami untuk tetap stay, mungkin pukul 20.30 nanti akan ada lagi pertunjukan kedua. Sambil melihat orang-orang berjoged kami berpose mencari angel terbaik untuk berfoto.

Karena tidak ada tanda-tanda akan dimulainya lagi pesta kembang api yang diadakan setiap Saturday night ini. Kami pun balik kanan menuju hotel. Sekitar sekilo lagi kami sampai di hotel letusan kembang api kembali terdengar. Begitu melihat jam, owh 21.30.

“Gak apa-apa Pak, bukan rejeki kita.” Ucap kami yang melihat muka Pak Rowan begitu menyesal.

Begitu sampai di hotel mbak Ratih langsung packing, sementara aku melakukan rutinitas… nyuci. Rasanya malas saja harus bawa pakaian kotor ke rumah nanti.

Meskipun lelah sekali, namun seperti biasa, sebelum tidur kami akan mengobrol bercerita ngalor-ngidul. Topik kita malam ini: “kenapa kok kita yang terpilih sebagai delegasi tahun ini?” Guyonan kami semakin menjadi saat ingat betapa freakish-nya kami waktu wawancara. Aku yang hahahihi maksa-maksa pewawancara untuk mau mendengar kegiatanku bersama para santri sementara mbak Ratih yang nangis-nangis bombay saat menceritakan penderitaan Muslim di negara konflik. Rasanya aneh aneh banget, padahal kami tulus melakukannya. Jika bukan atas kehendak-Nya, kami tidak mungkin berada di negara minim natural disaster ini. Hihihihi…

esoknya….

Sepanjang perjalanan kami menuju UNSW, kami hanya terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Maha sibuk melihat peta digital di handphone-nya. Mbak Ratih terlihat menikmati pemandangan di seberang jendela bis. Bapak-bapak entah memikirkan apa. Sementara pikiranku disibukan dengan memori perpisahan tadi dengan Leila.

Aku yang menggeret koper langsung disambut pelukan Leila di lobi hotel. Ia terus menggenggam tanganku sambil bercerita tentang aktivitasnya bersama Sophia. Ia kembali minta digendong setelah pamit mau memeluk tante dan om yang lain. Sedih rasanya mengingat aku akan berpisah dengan nona cantik ini. Kalau Leila berkunjung ke Jakarta pasti sulit untuk bertemu dengannya, mengingat aku tinggal di Ciamis, kota kecil yang letaknya cukup jauh dari ibu kota. Kami pun mengucap terima kasih dan memohon maaf atas semua kesalahan kami pada Pak Rowan dan Mbak Brynna. Terima kasih karena telah memperlakukan kami dengan sangat baik. Terima kasih telah menjadikan kami keluarga. Ketika akan berpisah Leila mengejarku dan hampir menangis kalau saja tidak ditenangkan oleh ayahnya. Hope we will meet again Leila…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

@UNSW

Diriku kembali tersadarkan oleh suara Maha yang memberitahu kami bahwa kami telah sampai di shelter UNSW.

Ckrek… ckrek…. dengan bebasnya kami berfoto dengan pose aneh di tengah-tengah kampus yang sepi. Yap, ini terlalu pagi.

“You want to do boy band?” Tanya Maha karena kami selalu menyebut pose kami pose “boy band”, hihihihi…

Hampir saja kami akan makan di Kebab resto lagi kalau Pak Sabeth tidak segera googling rumah makan Indonesia terdekat yang enak. Kami selalu rindu masakan Indonesia. Setelah berjalan dengan panduan peta digital, akhirnya sampailah di sebuah restoran ayam goreng khas Indonesia. Di sana juga ada teman Pak Deni yang telah mananti kita. Sajian sop buntut yang kupesan memang cukup enak. Meskipun masih lebih enak masakan Mamahku. Bukan hanya aku yang makan banyak, tapi bapak-bapak juga makan sangat banyak. Lidah memang tak pernah bisa dibohongi! -> Lidah Indonesia ya makannya masakan Indonesia. hihihihi…

a

Boyband…. @UNSW

Di sela-sela makan lahap kami, teman Pak Deni begitu gencar menawariku untuk dicomblangin sama cowok Libanese. Aku pun cuma meringis-ringis. Beginilah nasib jadi seorang single di tengah ibu-ibu bapak-bapak. Selalu saja jadi objek bulan-bulanan. Setiap bertemu dengan cowok single, selalu saja aku jadi objek hahahihi mereka. Ih… dasar,

Sore hari kami segera beranjak ke bandara melewati pemeriksaan yang super ketat. Karena gak mau buka jaket, badanku sampai diperiksa oleh polisi perempuan dan berkali-kali melewati metal detector. Tiga tasku pun dibrudulin gara-gara sebuah hakpen (besi kecil untuk merajut). Padahal di bandara-bandara sebelumnya hakpen selalu lolos dari pemeriksaan, tapi tidak kali ini. Aku pun menata ulang isi tasku yang berserakan. Uasem tenan….. takkira bakal diberesin setelah diacak-acak begitu tapi ternyata malah ditinggal. Hiks…

b

Delapan jam di pesawat kuhabiskan dengan nonton beberapa film. Tiga di antaranya selesai, sementara yang satu cuma nonton setengah. Aku gak kuasa menahan air mata yang keluar begitu saja saat tiga film yang secara random ku pilih itu menayangkan adegan yang menyayat hati. Alhasil mataku jendol sebesar telur. Aku malu, malu pada pramugari yang setiap saat menghampiriku membawa makanan dengan tiada henti. Hihihihi…

Sebelum landing mbak pramugari ngasih eskrim mangga yang besar banget. Sumpah es krim stik ini enak sekali, segar. Saking enaknya aku sampai lupa batasan amanku memakan es. Alhasil begitu tiba di toilet bandara langsung saja kukeluarkan isi perutku. Huh… Lari-lari mengejar bis bandara jurusan Bandung dalam kondisi asam lambung yang tidak stabil begini rasanya gak enak banget…. aku kapok banyak-banyak makan es krim!! Aku kapok!! Tapi kalau ke Australia aku gak kapok,😀 .

masih ada spoiler poto-poto… di sini, di sini, dan di sini

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s