Haruskah Anak Usia Dini Mahir Membaca, Menulis, dan Berhitung?

Haruskah Anak Usia Dini Mahir Membaca, Menulis, dan Berhitung?

Sudah hampir 1,5 tahun Azka, sepupuku, belajar di TK. Artinya, sekarang dia bergabung di kelompok TK B yang berkisar di usia 5-6 tahun. Sebenarnya Azka anak yang cukup cerdas dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. Aku kerap kali kewalahan menjawab pertanyaan spontannya saat menjelaskan berbagai hal baru padanya. Ia cukup kreatif. Logikanya juga berkembang dengan baik. Misalnya, saat melihat gambar belut listrik. Ia terus bertanya bagaimana jika kita memasukan tangan ke dalam air yang ada belut listriknya, apa tangan kita akan kesetrum? Apa belut listrik menyala? Mengapa belut listrik tidak mati padahal ada aliran listrik di tubuhnya? Bagaimana cara menangkap dan membersihkan belut listrik saat kita akan memasaknya agar tidak terkena sengatan listrik? Dan seterusnya… seterusnya sampai mulutku berbusa menjawab pertanyaannya yang tiada henti.  Akan tetapi, ia kurang begitu fokus dalam menerima dan melaksanakan sebuah perintah, juga cepat bosan dengan keteraturan. Fyuh…. harus banyak dilatih lagi.

IMG20160707083723.jpg

Me and Azka

Di sekolah ia terkenal “nakal” (aku lebih suka menyebutnya cerdas kinestetik) karena sering gak nurut sama gurunya. Disuruh menggambar malah menyanyi, disuruh menulis malah lari-lari. Alhasil, saat temannya sudah mampu merangkai beberapa huruf, bahkan ada yang sudah mahir membaca, dia malah belum mengenal semua alfabet.  Beberapa orang tua temannya menyarankan Mamah Azka supaya Azka diikutkan les, sementara yang lainnya menyuruh Azka mengkonsumsi suplemen/obat herbal (atau apalah namanya) untuk mengurangi sikap aktifnya. Beuh….

Yang jadi pertanyaan: haruskah anak usia dini mahir membaca dan berhitung??

Yang dimaksud membaca di sini adalah mengucapkan rangkaian huruf, menulis adalah menuliskan huruf atau angka tanpa melihat contoh, sementara berhitung adalah menyebutkan angka-angka, penjumlahan, atau pengurangan angka tersebut.

Jika melihat Kurikulum 2013 PAUD hanya ada dua kelompok Kompetensi Dasar (KD) yang berkaitan dengan membaca, yaitu “menunjukkan kemampuan berbahasa reseptif membaca dan menyimak (4.10),” dan “menunjukkan kemampuan keaksaraan awal dalam berbagai bentuk karya (4.12)”. Sampai di sini saya memahami bahwa siswa PAUD hanya diwajibkan mengenal alfabet dan angka saja, tidak harus sampai mahir membaca dan berhitung. Bentuk pengenalan ini dapat dilakukan dengan hal-hal yang menyenangkan, misalnya menyanyikan lagu “ABC”, menyambung garis membentuk sebuah huruf, mewarnai angka, atau bermain puzzle huruf. Sebab, pada dasarnya yang dilakukan siswa PAUD adalah bermain sambil belajar. Jangan sampai membuat anak stress di dalam kelas.

pengemb-kurikulum-paud-ki-dan-kd-4-638.jpg

Kompetensi Dasar Kurikulum 2013 PAUD via http://www.slideshare.net

Beberapa teman yang mengajar di PAUD pernah curhat, kalau mereka “terpaksa” mengajarkan anak membaca dan berhitung melebihi porsi yang seharusnya untuk memenuhi tuntutan orang tua. Ya, orang tua siswa kerap menuntut pihak sekolah supaya menjamin anaknya mahir membaca, menulis, dan berhitung (calistung) saat lulus TK. Tentu saja para orang tua ini menyalahkan sekolah, terlebih gurunya saat anak mereka belum bisa calistung. Sekolahnya gak bagus-lah, gurunya gak kompeten-lah, sistemnya harus diperbaiki-lah, sehingga muncul kesan bahwa TK yang bagus itu yang mampu mencetak lulusan mahir calistung. Hhhmmm….

Jika diamati, bisa jadi para orang tua ini melakukan hal demikian karena persoalan gengsi.

“Tuh, lihat anak saya baru empat tahun sudah lancar membaca.”

“Anak saya usia lima tahun sudah bisa penjumlahan puluhan!”

So what???

Para orang tua bersaing agar anaknya telihat lebih WAH dibanding dengan anak lain. Siapa yang tidak bangga dengan pencapaian anaknya coba??

Selain itu, desakan dari guru SD juga menjadi penyebab masalah ini. Bahkan beberapa tahun ke belakang di kampung saya ada desas-desus bahwa salah satu syarat masuk SD harus sudah bisa baca dan tulis. Loh… loh…. Entah guru SD yang gak pernah baca kurikulum PAUD atau malas saja mengajarkan anak membaca dan menulis sejak awal. Bagaimana pun mengajarkan dua hal ini sulitnya… Masyaallah!

Plis Mami and Papi jangan paksa anak usia dini untuk mahir membaca, menulis, dan berhitung. Bagaimana pun yang menyusun kurikulum itu bukan orang bodoh. Mereka adalah ahli yang pasti mempertimbangkan kesesuaian pencapaian kompetensi dengan perkembangan anak juga. Jangan bebani anak dengan tugas yang tidak seharusnya. Jangan munculkan kesan bahwa sekolah itu menakutkan.

Lah kalau anaknya pengen belajar baca, tulis, hitung sendiri?

Itu lain lagi ceritanya. Saat anak ingin belajar calistung ya fasilitasi. Tidak apa-apa, itu bagus. Ajarkan anak dengan metode yang menyenangkan. Banyak juga kan anak-anak yang sudah bisa membaca sejak usia tiga tahun atas keinginannya sendiri? Mungkin Mami salah satunya?

Lalu apa saja yang harus diajarkan di PAUD? Kita bahas di tulisan selanjutnya >_<

Salam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s