Rokok dan Kentut

‚Äč

Bagi ekeu merokok itu adalah hak setiap bangsa. Situ mau merokok ya monggo, kalo enggak ya gak masalah. Seperti makan jengkol dan pete. Mau ngemil jengkol sekilo pun ndak masalah. Badan-badan situ, yang sehat yang sakit ya situ. Makan jengkol emang nikmat, tapi dibalik kenikmatan itu ada hak orang lain yang harus dihormati. Apa itu? Polusi. 
Situ makan pete 5 papan, terus ikut paduan suara tanpa sempet gosok gigi. Apa kabar tetangga? Pingsan toh!! Situ makan jengkol terus numpang pipis di rumah tetangga. Apa kabar toiletnya dia? Semriwing men!!

Sama kayak orang merokok. Itu hak dia. Dia berhak atas apa yang terjadi dengan tubuhnya: sehat atau sakit, enak atau enek. Tapi dibalik nikmatnya mengepulkan asap, ada hak orang lain yang perlu dihargai. Hak kesehatannya, menghargai kebersihan paru-parunya, juga menjaga supaya dia tidak pusing dan muntah-muntah.

Bagi beberapa orang merokok dDi tempat umum itu adalah hal yang wajar, lumrah, dan tanda keakraban. Jadi gak heran setiap ada bapak-bapak bertamu ke rumah kebanyakan langsung narik sebatang, cekress, fuuhhh… ruang tamu pun langsung berkabut dan kami sekeluarga langsung terbatuk-batuk. Atau mungkin merokok itu seperti halnya makan atau minum saja. Makanya ada istilah, “Meni teu boga jang rokok-rokok acan, ” yang berarti saking gak punya duit sampe-sampe gak bisa beli rokok. Hmmm… keberadaan rokok ternyata mengalahkan beras yah, hhhmmm….

Tentang asap rokok ini ada sebuah cerita. Sepertinya ini kisah nyata. Cuma ekeu gak bisa mastiin kapan dan di mana kejadian ini berlangsung. judulnya asap rokok dan kentut. Tokohnya sebut saja si aku (bukan nama sebenarnya) dan si bapak (nama panggilan).

Alkisah, pada sebuah perjalanan ke kota X, si aku duduk di samping si bapak di sebuah mini bus. Bis terus melaju berkelak-kelok menyusuri jalanan provinsi. Terpesona oleh keindahan alam pasundan si aku melamun sambil menghirup udara pegunungan yang menyelinap ke celah jendela mini bus. Lamunanya tiba-tiba terhenti, alisnya langsung berkerut begitu menyadari si bapak di sampingnya asyik merokok. Si aku pun memakai masker untuk menutupi hidung mancungnya. Lumayanlah asap rokok gak terlalu tercium. Meskipun masih ada yang mencoba menerobos serat-serat kain masker, maklum ini cuma masker 5000-an, bukan masker N95.

Habis sebatang, si bapak ngambil lagi batang yang lain. Terus saja begitu. Dia sama sekali gak menghiraukan penumpang lain yang terbatuk-batuk dan kewalahan menutup hidung. Bahkan ada balita yang mulai rewel karena kepanasan dan sesak karena asap rokok. Si bapak tetap menyedot rokok lalu meniupkan asapnya dengan tentram, damai, dan sejahtera. 

Waktu terus berjalan, penumpang turun silih berganti, mini bus semakin lenggang. Si bapak masih terus merokok. 

“Hebat ini si bapak, kayaknya sehari habis sebox deh dia,” batin si aku.

Awalnya si aku mau pindah jok, untuk menghindari si bapak dan asap rokoknya. Namun tiba-tiba sebuah ide melintas di jidat lebarnya. Aha, akan kubalas perbuatan si bapak. Si aku yang pengen kentut langsung saja melepaskan gas panas dalam senyap. Uh, pencernaannya sedang tidak bagus. Itu artinya bakteri jahat yang bersorak di usus telah menghasilkan udara busuk luar biasa. Sekali, si bapak tak menghiraukan bau yang tercium. Si aku pun melepaskan gasnya lagi, lagi, dan lagi. Si bapak mulai gusar, tapi tetap diam tak berkomentar. Si aku berusaha memasang poker face nya, padahal sekuat tenaga dia menahan tawa. Tak lama dia kentut lagi. Rokok si bapak udah habis di cangkangnya, dia berhenti. Si aku kentut lagi. Si bapak berusaha menahan bau busuk yang menembak hidungnya. Tak tahan si bapak mulai menutup hidungnya, sambil menyapa si aku,

“Turun di mana?”

“Di kota Y Pa,”

Si bapak tidak berani berkomentar atas bom kentut dari si aku. mungkin si Bapak ragu saat mau menyalahkan si aku atas bau semerbak yang diciumnya. 

“Apa iya cewek cantik dengan dandanan hebring bisa mengeluarkan bau kentut yang begitu dahsyatnya?”

Ah, sayangnya si Bapak tidak tahu Kalau everything is fair in love and war. Sampai ia turun lebih dahulu, ia tetap menerima cobaan bau tak berasap itu dengan sabar dan lapang dada. Hihihi

Si aku membatin, maaf bapak saya kentutin. Salah siapa merokok sembarang?

 Bapak bau sama kentut saya, saya pun begitu, merasa bau dengan asap rokok bapak. 

Bapak merasa terdzolimi saya kentutin, sama, bapak juga dzalim udah ngasapin penumpang semini bus.

Apa Bapak marah dengan dalih “merokok itu hak” setiap orang? Lah, kentut juga merupakan hak setiap bangsa.

 Apa bapak mencemooh saya karena tidak tahu sopan santun? Lah kalau bapak bagi-bagi penyakit lewat asap rokok apa itu tindakan beradab? 

Maaf Pak, asap rokok itu selain bawa penyakit juga menularkan penyakit, tapi saya gak pernah dengar kalau kentut bisa menularkan penyakit. Bahkan, orang bisa mati gara-gara gak bisa kentut tapi gak ada orang mati karena gak bisa merokok. Itu artinya kentut lebih sehat dari merokok ya pak… dadah bapak….!!!

Si aku pun kembali menikmati perjalanan dengan sehat sentosa. 

-The End a.k.a Tamat-