Eigenrichting oh Eigenrichting!!!

 

WhatsApp Image 2017-08-29 at 20.18.03

Bapa sama mobilnya

Bapa saya tu seorang supir yang beberapa hari lalu jadi korban eigenrichting alias tindak maen hakim sendiri oleh pegawai dan pemilik salah satu toko material di daerah Cibala, Wado, Sumedang.

Begini kronologinya, sepulang nganter adek sama sepupu ke Wado, tiba-tiba ada dua orang yang nyetop mobil Bapa di daerah Nyalindung. Disangkanya yang mau ikut numpang gitu, jadi Bapa langsung berhenti. Eh, tau-taunya mereka langsung nunjuk-nunjuk muka dan meminta pertanggungjawaban. Ditanya kenapa dan ada apa mereka gak jawab, terus saja mereka memaki-maki sambil mukulin kaca dan body mobil. Suasana pun makin panas saat beberapa orang turun dari motor, yang rupanya sudah mengejar mobil Bapa sejak dari daerah Wado. Gak cuma kekerasan verbal, STNK, SIM, dan kunci mobil mereka rampas. Katanya Bapa gak bertanggung jawab dan kabur dari kecelakaan. Loh, nabrak enggak nyerempet pun enggak kata Bapa. Setelah cukup lama cekcok, Bapa pun setuju untuk kembali ke daerah Cibala untuk menemui bos mereka. Si bos yang kita namai saja sebagai Mr. X.

Di depan toko material, Bapa udah dikepung sama para pegawainya. Mobil pun kembali jadi sasaran kebrutalan mereka. Dipukul-pukul, kaca spion ditarik-tarik, ah pokoknya kasihan si mobil itu! Bapa dituduh nyerempet truk milik toko material itu di daerah Darmaraja, tetapi gak tanggung jawab dan malah kabur. Kepada si Mr. X Bapa berusaha membela diri bahwa Bapa gak jalan sampai Darmaraja, cuma jalan sampai Wado saja habis nganterin anak-anak, tetapi mereka gak mau dengar sama sekali. Si Mr. X tetap menunjuk-nunjuk hidung Bapa.

Saat suasana semakin memanas dan hampir saja mereka melakukan kekerasan fisik, tiba-tiba lewat mobil L300 hitam yang serupa dengan mobil milik Bapa. Setelah ditanya ternyata memang mobil itu yang menyerempet truk toko material itu, sekali lagi memang mobil itu yang kabur, bukan mobil Bapa.

Si Mr. X yang sedang naik pitam itu tiba-tiba merasa malu dan minta maaf. Tapi gak benar-benar minta maaf. Dia minta maaf sambil menyalahkan Bapa juga, begini katanya,

“Nyanaha tadi pas diudag bet kalahka mabret ari teu ngarasa salah mah?” (kenapa tadi malah terus ngebut pas dikejar kalau gak merasa salah?)

Ari kata Bapa saya teh begini, “Da urang mah teu apal keur diudag, urang mah buru-buru teh da ngudag muatan lain, rek narik kai!” (Say mah kagak tau kalau lagi dikejar, saya buru-buru karena kejar waktu mau narik kayu!)

Habis itu, dia pun mengembalikan STNK dan SIM juga meminta Bapa untuk menyudahi dan gak memperpanjang masalah ini.

Duh gusti!! Speechless…. speeeechlessssss…..

Cuma dengan bermodal ingatan “Mobil L300 berletter E” mereka sangat yakin menuduh dan berani mendzalimi seseorang. Ada berapa sih mobil colt L300 berkode E? emang mobil Bapa saya satu-satunya? Ada ratusan keleus!!

Bapa udah pulang ke rumah sejak magrib, tapi baru cerita pas udah salat Isya. Mendengar cerita ini kita sekeluarga marah dan sedih. Bapa gak mau memperpanjang urusan, meskipun Bapa itu rugi banyak loh! Rugi solar, rugi waktu, rugi muatan yang batal, rugi mobil yang penyok, dan rugi psikologis. “Biar Allah yang membalas, balasan Allah itu lebih adil dari manusia,” begitu katanya. Hhmm..

Ya, kita sangat menyayangkan sekali kejadian ini. Kita marah dan sedih, tapi kita juga sangat bersyukur mereka belum sampai melukai fisik Bapa. Mungkin kalau si pelaku asli gak langsung lewat, mereka akan lebih menyakiti Bapa. Kata Mamah mah begini, “Mungkin dulu kita pernah suudzan terhadap orang lain, tapi langsung kita tobati, sehingga sekarang pun Allah menyelamatkan Bapa!”

Tiba-tiba teringat kasus yang menimpa Joya yang dituduh mencuri ampli lalu dibakar hidup-hidup, naudzu billah…

Di saat marah itu tiba-tiba saya berfikir,

  1. Stabilkan emosi, jalankan rasionalitas, jelaskan duduk perkara dan pastikan siapa yang bersalah, jangan sampai tidak memberi kesempatan bagi yang tertuduh untuk membela diri. Bukankah hakim juga hanya bisa memutuskan setelah mendengar dakwaan jaksa dan pembelaan advokat?
  2. Dalam Islam membalas perbuatan buruk seseorang itu sangat diperbolehkan, hanya kadar balasannya harus sesuai perlakuan buruk seseorang yang kita terima. Jika melebihi, itu termasuk kategori dzalim. Kalau takut malah mendalimi, maka memaafkan itu adalah lebih baik!! (Q.S. al-Syura [42]: 39-43)
  3. Jangan merendahkan orang yang penampilannya tidak sekinclong kita, bisa saja aspek lain kehidupan dia jauh lebih berkualitas disbanding kita!
  4. Jangan sampai salah tuduh, kalau sudah salah kan siapa yang malu? Mau ditaroh di mana itu muka! Kata anak-anak mah FACE!! Alias BEUNGET!!

Catatatn:

  • saya menulis cerita ini bukan dimaksudkan untuk menarik simpati, memprovokasi, atau memulai kembali pertengkaran alias mengibarkan bendera perang dengan Mr. X, melainkan memberi sebuah pelajaran betapa dzalimnya perbuatan main hakim sendiri.
  • saya tidak ada di tempat kejadian, cerita ini adalah versi Bapa, tidak menutup kemungkinan ada beberapa hal yang tidak diceritakan beliau pada kami, tapi sekali lagi cerita ini bukan dimaksudkan sebagai sebuah “berita”.

 

 

Iklan

Hukum Membunuh Semut yang Mengganggu

download (3)

Ada sebuah Hadis yang mengatakan

إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ النَّمْلَةُ وَالنَّحْلَةُ وَالْهُدْهُدُ وَالصُّرَدُ.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang membunuh empat hewan: semut, lebah, burung Hudhud dan burung Shurad.(HR. Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Secara tekstual Hadis ini melarang kita membunuh empat hewan tersebut. Aku berusaha mencari kapan atau pas lagi apa sih Rasul mengucapkan larangan ini. Hanya belum berhasil karena Maktabah Syamilah error. Namun, sepertinya empat hewan yang disebut ini merupakan hewan bersejarah atau yang bermanfaat banyak yang disebut dalam al-Qur’an. Saya hanya berspekulasi, bahwa Hadis ini bukan terkait larangan mutlak membunuh hewan tersebut, melainkan sebagai informasi “hewan-hewan yang bersejarah dan bermanfaat” saja yang disebut dalam al-Quran.

Bagaimana kalau hewan-hewan tersebut mengganggu?

خَمْسٌ فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فِى الْحَرَمِ الْفَأْرَةُ ، وَالْعَقْرَبُ ، وَالْحُدَيَّا ، وَالْغُرَابُ ، وَالْكَلْبُ الْعَقُورُ

Ada lima jenis hewan fasik yang boleh dibunuh ketika sedang ihram, yaitu tikus, kalajengking, burung rajawali, burung gagak dan kalb aqur (anjing galak) (HR. Bukhari  dan Muslim)

Dalam Hadis tersebut boleh membunuh hewan fasiq. Fasiq ini berarti yang mengganggu atau menimbulkan madarat. Jadi hewan apapun (bukan hanya yang lima ini) boleh dibunuh jika menganggu manusia. Namun, mari kita jadikan membunuh itu jalan terakhir. Jika masih bisa diusir atau dipindahkan tempatnya, kita biarkan mereka hidup. Jika sudah tidak ada cara lain boleh kita bunuh.

Bagaimana hukum membunuh dengan cara membakar?

Para ulama biasanya melarang membunuh dengan cara membakar dengan berdasarkan pada Hadis:

بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْثٍ فَقَالَ: «إِنْ وَجَدْتُمْ فُلاَنًا وَفُلاَنًا فَأَحْرِقُوهُمَا بِالنَّارِ»، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أَرَدْنَا الخُرُوجَ: «إِنِّي أَمَرْتُكُمْ أَنْ تُحْرِقُوا فُلاَنًا وَفُلاَنًا، وَإِنَّ النَّارَ لاَ يُعَذِّبُ بِهَا إِلَّا اللَّهُ، فَإِنْ وَجَدْتُمُوهُمَا فَاقْتُلُوهُمَا»

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kami dalam satu pasukan perang. Beliau bersabda, “Jika kalian ketemu dengan si fulan dan si fulan, bakarlah mereka.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan ketika kami hendak berangkat, “Kemarin saya perintahkan kalian untuk membakar si fulan dan si fulan, akan tetapi api adalah benda yang tidak boleh digunakan untuk menyiksa (membunuh) kecuali Allah. Jika kalian ketemu mereka bunuhlah.” (HR. Bukhari )

Menurutku makna Hadis tersebut bukan hanya sebatas larangan membunuh dengan membakar, melainkan membunuh dengan cara disiksa. Saat hewan dibakar, dia tidak akan langsung mati, namun merasakan dulu kesakitan yang cukup lama baru kemudian mati. Jadi apapun metode membunuh yang bisa menyebabkan penderitaan dulu bagi hewan itu dilarang. Kalau membakar bisa membuatnya langsung mati seketika ya tidak apa-apa. Tapi kalau memencet bisa membuatnya merasakan penderitaan lama sebelum mati ya haram.
Terkait larangan membunuh hewan bukan hanya terbatas pada empat hewan ini saja, melainkan seluruh hewan, termasuk anjing dan cicak. Artinya, semua nyawa itu berharga, dan mereka juga merupakan makhluk Allah yang nyawanya tidak bisa dihilangkan begitu saja tanpa alasan yang jelas, Misal untuk dimakan (hewan yang halal) atau karena membahayakan manusia. Kita diperintahkan untuk bersikap rahman bagi setiap makhluk. Kita juga harus menyayangi hewan. Apa tega kalau kita lihat ada semut yang ngapung di panci yang mau kita didihkan airnya, terus dibiarkan mati kepanasan? Bagaimana pun nyawa mereka sangat berharga, karena nyawa tidak bisa diberikan oleh siapa pun kecuali Allah.

Sekali lagi hewan apapun boleh dibunuh jika ada alasan yang jelas. wallahu a’lam