Mari Bersedekah!!

Untitled-1

QS al-Baqarah: 261-265

Terjemah:

  1. perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.
  2. orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
  3. Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.
  4. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.
  5. dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.

rangkaian QS. al-Baqarah: 261-265 ini menjelaskan pahala dan tata cara sedekah yang baik. Dalam ayat 261 dijelaskan bahwa pahala sedekah diibaratkan seperti sebuah pohon yang memiliki 7 cabang. Setiap cabang tersebut memiliki 100 buah ranting. Apakah ini berarti bila kita bersedekah sebanyak Rp 1000 akan menghasilkan pahala 700.000? Wallahu a’lam. Rasanya tidak pantas jika kita menghitung-hitung jumlah pahala dari ibadah kita. Lagian yang namanya pahala itu urusan Allah, iya kan?

Dalam teori ilmu al-Quran bunyi 216 disebut amtsal al-Qur’an atau ayat-ayat yang menggunakan permisalan/analogi untuk menggambarkan sesuatu, supaya mudah dipahami oleh manusia. Selain bermakna hitungan yang sebenarnya, kata tujuh dalam bahasa Arab sering juga digunakan untuk menyebut jumlah yang banyak,  (Ini mirip-mirip dengan iklan sebuah kue wafer, berapa lapis? Ratusan. Ratusan ini menunjukkan banyak sekali 😀 ). Permisalan ini digunakan supaya manusia memahami betapa besar pahala dan manfaat yang dihasilkan dari sedekah.

Coba bayangkan, saat kita memberikan sebungkus nasi pada orang yang lapar. Orang tersebut sudah lemas, sudah tidak bisa bekerja, berfikir dengan baik, bahkan kematian menghantuinya. Akan tetapi, setelah kita berikan makan, dia kembali mendapatkan tenaganya sehingga bisa kembali bekerja, berfikir dengan baik, beribadah, dll. Bagi kita sebungkus nasi tersebut seperti tidak ada artinya, tetapi bisa jadi itu adalah urusan hidup dan mati bagi orang lain.

Tata cara bersedekah diatur dalam ayat selanjutnya (262 dan 263). Bahwa:

  1. sedekah tersebut harus dalam tataran yang diridhai Allah, bukan bersedekah untuk membiayai sebuah maksiat.
  2. Jangan menyebut-nyebut perbuatan sedekah kita dengan maksud riya (ingin dipuji orang lain).
  3. Jangan menyakiti hati orang yang kita sedekahi baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan.

Jika seseorang meminta sedekah pada kita sementara kita sedang tidak punya sesuatu untuk diberikan, maka harus tetap memperlakukan dia dengan baik. Jaga tutur kata  dan perbuatan kita, jangan sampai perasaanya terlukai oleh kita. Menurut ayat 263, perilaku yang baik meskipun tidak memberikan sedekah itu jauh lebih baik daripada bersedekah tetapi menyakiti hati orang yang disedekahi.

Orang yang bersedekah tetapi berperilaku buruk (dengan terus menyebut2 sedekahnya, riya, atau menyakiti hati orang yang disedekahi) itu tidak akan mendapatkan pahala dan manfaat sedikit pun. Ibarat debu yang menempel di bebatuan, tetapi batu tersebut terguyur hujan, sehingga debu itu tidak tersisa sama sekali. Rugi kan?

Tetapi sebaliknya, jika kita ikhlas lillahi ta’ala, tidak riya, juga memperlakukan yang disedekahi dengan baik itu ibarat sebuah sebuah kebun di pegunungan, baik tersiram hujan atau gerimis tanamannya akan tetap tumbuh dan menghasilkan buah yang banyak.

Jadi jangan rusak sedekah kita dengan perbuatan2 yang akan menghilangkan pahala dan manfaatnya.

sedekah.jpg

Sudahkah kita bersedekah hari ini?

Dalam harta kita ada hak milik orang lain juga sebanyak 2,5% dan lebih bagus jika kita mampu bersedekah sebanyak 10% dari penghasilan kita.

Jika kita berani menyedekahkannya insyaallah kita akan mendapat keberkahan, tetapi jika kita enggan memberikannya maka jangan heran jika harta kita tidak berkah dan terus merasa kurang.

Hanya orang yang qana’ah (merasa cukup) yang bisa menyedekahkan hartanya. Karena jika tidak merasa cukup dengan harta yang dimiliki pasti susah untuk memberikannya pada orang lain, takut kalau tidak akan cukup untuk diri kita sendiri.

Sedekah tidak hanya ke masjid, fakir miskin, dan anak yatim saja, tetapi memberikan jajan kepada keluarga (yang tidak wajib kita nafkahi), memberikan hidangan kepada tetangga, memberi makan dan minum bagi hewan liar adalah sama-sama sedekah. 🙂

Wallahu a’lam

 

Iklan

Disunnah Memperbanyak Puasa di Bulan Sya’ban

Umat Islam sangat mengagungkan 4 bulan haram (Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, lihat QS al-Baqarah: 194). Selain dilarang berperang umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak ibadah di bulan haram ini. Meski demikian, sebenarnya Rasul banyak mengkhususkan ibadah, khususnya puasa, pada bulan Sya’ban yang pada zaman dahulu sering dilupakan, maksudnya orang-orang semangat ibadah di bulan Rajab dan Ramadhan, sementara semangat ibadahnya menurun pada bulan Sya’ban yang diapit keduanya.

puasa Sya'ban.jpg

Nabi rajin sekali berpuasa di bulan Sya’ban, sebagaimana Hadis berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ: ” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ص م  يَصُومُ، حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ص م  اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ “

Dari Aisyah ra berkata, “Rasulullah senantiasa berpuasa hingga kami katakan beliau tidak pernah berpuasa. Aku tidak pernah melihat Rasul menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak dari bulan Sya’ban” (HR Bukhari Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa Rasul memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, lebih dari puasa awal bulan, ayamul bidh’ (tengah bulan Qamariyah: tanggal 13, 14, 15), dan puasa Senin-Kamis. Akan tetapi, Rasul tidak menamatkannya sebulan penuh, sebagaimana Hadis berikut:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْ صَوْمِ النَّبِيِّ ص م فَقَالَتْ: ” كَانَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: قَدْ صَامَ قَدْ صَامَ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: قَدْ أَفْطَرَ قَدْ أَفْطَرَ، قَالَتْ: وَمَا رَأَيْتُهُ صَامَ شَهْرًا كَامِلًا مُنْذُ قَدِمَ الْمَدِينَةَ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ رَمَضَانَ “

Aku bertanya pada Aisyah ra tentang puasanya Nabi, Aisyah berkata, “Rasul berpuasa sampai kami mengatakan sudah puasa sudah puasa, dan berbuka sampai kami mengatakan sudah berbuka sudah berbuka.” Aisyah berkata, “ Aku tidak pernah melihat Nabi berpuasa satu bulan penuh semenjak datang di Madinah, kecuali pada bulan Ramadhan.” (HR Muslim)

Puasa pada Akhir Bulan Sya’ban

Meskipun Rasul mencontohkan untuk memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, tetapi beliau tidak menyambungkan puasa akhir bulan Sya’ban dengan awal Ramadhan (tanggal 29-30 Sya’ban dengan 1 Ramadhan) sebagai bentuk kehati-hatian kalau-kalau sudah masuk bulan Ramadhan. Para ulama mengatakan hal ini haram dilakukan, karena harus ada keyakinan yang pasti kapan bulan telah berganti dari Sya’ban ke Ramadhan.

Bagaimana jika telah bernadzar, mengqadha puasa, atau akhir bulan tersebut bertepatan dengan kebiasaan berpuasa (senin-kamis misalnya)?

Hal ini boleh dilakukan. Bahkan puasa nadzar dan qadha sangat wajib dipenuhi. Kecuali untuk kasus yang terakhir (akhir bulan tersebut bertepatan dengan kebiasaan berpuasa), beberapa ulama memakruhkannya, semisal Hasan al-Basri, tetapi kebanyakan memperbolehkan.

Kalau tidak salah lihat kalender besok sudah mulai tanggal 1 Sya’ban, Mari kita perbanyak ibadah kita dengan puasa, salat sunnat, bacaan al-Qur’an, dan lainnya….

Wallahu a’lam