Pendaftaran Australia-Indonesia Muslim Exchange Program 2017 Sudah Dibuka


Yes! Pendaftaran MEP 2017 sudah buka. Monggo para pengejar program pertukaran dicoba.programnya bagus banget, meskipun cuma 2 minggu tapi sangat padat. Ilmu yang didapat mampu membuka mata kita tentang kondisi–khususnya–keberagaman Muslim dan kehidupan beragama di Australia. Kita juga akan bertemu dengan tokoh-tokoh yang akan memperkuat jaringan kita. Selain itu, program ini benar-benar fully funded alias gratis… tis… tis… Bahkan dikasih uang jajan, hehehe
Programnya buat para aktivis/tokoh Muslim dari usia 23 sampai 40-an. Aktivis gak mesti ulama ya, siapapun boleh yang penting memiliki kontribusi aktif bagi kehidupan Muslim di Indonesia. Syaratnya: 

  • TOEFL 450, 
  • surat keterangan aktif di lembaga/organisasi  
  • Rekomendasi dari organisasi/lembaga/tokoh yang menyatakan bahwa kita adalah kandidat yang tepat
  • CV
  • Essay motivasi dan tujuan

Lebih lengkapnya silahkan kunjungi laman Paramadina atau Kedutaan Australia.

Ayo daftar dari sekarang, mumpung deadline masih panjang. Jangan tunggu sampai batas akhir pendaftaran 16 Desember 2016 ya…. kerusakan jaringan atau ini itu harus diantisipasi, biar pendaftaran gak gagal. 

Note: bila ada yang bisa dibantu silahkan imel ke lissafitri55@gmail.com kebetulan aku berangkat untuk program ini tahun kemaren🙂

Aku dan Talia: Belajar Saling Menghormati

Aku dan Talia

Juni 2016 pertama kali aku ketemu Talia. Tepatnya pagi hari saat berkumpul di kantor guru MAN Darussalam sebelum kita mengikuti rapat kenaikan kelas. Sebenernya Talia, yg saat itu masih belajar bahasa Indonesia di Kediri, sudah beberapa kali mengunjungi MAN tempat ia akan mengajar dua tahun ke depan, namun aku belum sempat bertemu dengannya. Hari itu juga kami langsung akrab. Pak Wakamad mengijinkan kami untuk gak ikut rapat,

“Temani saja si Miss, kasihan takut bosan. Lagian Lis kan wali kelas XII ya? Jadi gak apa-apa gak ikut rapat juga.”

Hore… 

Hari itu kami bersama beberapa siswa ngobrol dengan Talia. Ia nampak mencatat beberapa kosa kata dalam bahasa Indonesia yang kuberi tahu. Begitu pula denganku, yang sibuk belajar pronounciation padanya. Maklum pengucapan bahasa Inggris ku sangat menyedihkan, kalau mengucapkan praise, price, dan prize itu keluarnya sama. Haha…

Pertemanan kami berlanjut saat kuajak Talia berkunjung ke asrama. Saat kujelaskan ini bulan Ramadhan dan kami berpuasa, Talia juga bilang ,”Ya, I try to puasa,”

Wow… I appreciate her. Bukan soal sah atau tidaknya karena ia non-Muslim, melainkan keinginannya untuk berbaur dan menghargai kami yang sedang puasa. Dia gak mau makan atau minum di hadapan kami yang berpuasa. Ya, hari itu kami berbuka puasa bersama Pak Yuddy Chrisnandi (saat itu menjabat menteri PANRB) di rumah Bu Nuna dan Pak Icep, salah satu kyai kami.

Talia dan Pak Menteri

Di sekolah, di pesantren, atau di jalan kami selalu berbicara tentang banyak hal. Apapun kuceritakan padanya mulai dari beberapa ajaran Islam serta makna filosofisnya, kebiasaan para santri, kebiasaan orang Indonesia, sampai cerita rakyat. 

“Oh, no! dont say that he will marry his mother? Why do I always find the story like this everywhere?” Ucapnya saat kuceritakan asal usul Gunung Tangkuban Perahu, ya Sangkuriang yang jatuh cinta pada ibunya.

Ya, mumpung sempat apapun kuberitahu Talia tentang Indonesia. Semuanya. Mungkin hal ini akan sangat bermanfaat baginya, mungkin suatu saat ia akan meneliti Indonesia untuk master dan Ph.D-nya, atau setidaknya membuat dia betah karena ada yang mengajak bicara saat ini. Coba bayangkan, jadi seorang pengajar relawan untuk sebuah negara yang sangat jauh,bahasanya saja baru dipelajari saat datang ke negara tersebut. Bertemu orang baru, memiliki tugas yang berat, jauh dari teman dan keluarga, pasti sangat berat sekali. Kalau bukan seorang teman apalagi yang sangat dibutuhkan?

kenang-kenangan dari Talia

Aku cukup terkejut dengan sikap ramah Talia. Dia seperti orang Indonesia kebanyakan. Kalau bertemu orang di jalan, pasti bilang “hai,” sambil melambaikan tangan. makanya kuberitahu kalau bertemu orang yang tidak kita kenal cukup tersenyum dan anggukan kepala, atau bilang “punten“. 

Talia jadi banyak teman karena sikap menghargai, membaur, serta keramahannya. Kalau aku salah pengucapan atau memilih kosa kata, dia gak pernah menyalahkan. Sebaliknya, dia hanya mengucapkannya kembali, sehingga secara tidak langsung aku pun belajar how to pronounce it correctly. Hihihi..

Tapi beberapa siswa juga kerap ngadu, 

“Miss, itu Miss Talia kasihan banget. Di sebuah forum pernah dikata-katain. Emang sih gak langsung nyebut Miss  Talia-nya tapi menjelek-jelekkan Amerika dan non-Muslim langsung di hadapannya.  kan kasihan,”

Mendengar itu semua aku cuma bisa bilang, “Dimana perasaanmu Pak? ”

Kalau kita ada di posisi Talia, apa enak kita digituin? Enggak kan. Kalau gak enak ya jangan berbuat gitu dong sama orang lain.

Emang sih, sekarang ini bukan cuma islamopobia saja tapi juga westernphobia (g tahu istilahnya apa). Bukan cuma non Muslim takut dengan Muslim tapi juga sebaliknya, kita suka kelewat takut dengan non-Muslim, apalagi non-Muslim dari Amerika. hhhmmmm…. 

Pertengahan September, setelah ngisi seminar Master Class di IAID kutengok Talia, dia kelihatan lebih kurus dari sebelumnya. Mungkin dia kecapekan karena harus mengajar dari pagi sampai malam. Semoga semuanya baik-baik dan sehat selalu ya.

“I was born in American election day,”

Itu artinya Talia ulang tahun seminggu yang lalu. Tulisan ini memang mau dipublish seminggu yang lalu, tapi laptopku rusak dan baru bisa install WP di handphone sekarang. Lebih baik telat daripada  telat banget. hehehe

“Selamat ulang tahun ya, sehat selalu, banyak yang menyayangi, tetap ramah, cerdas, cantik, dan bahagia!”

—