PENDAFTARAN MEP 2018

Hallo semua, Pendaftaran Australia-Indonesia Muslim Exchange Program 2018 sudah buka loh… Biasanya pendaftaran dibuka sekitar November-Desember, tapi tahun ini maju ke Agustus-September.

Persyaratannya masih seperti biasa:

Pria (batas usia 23 tahun–40 tahun) dan wanita (batas usia 23–45 tahun)

• aktif di kegiatan/organisasi keIslaman

• mampu berpartisipasi aktif di dalam diskusi berbahasa Inggris

• memiliki nilai TOEFL min.450 (IELTS 5.0) diutamakan di atas TOEFL 500 (IELTS 5.5)

• mengisi formulir pendaftaran yang dilengkapi dengan dokumen penunjang (curriculum vitae, pernyataan motivasi, surat rekomendasi, dll).

Form pendaftaran bisa diunduh di web Paramadina

Kalau yang mau tanya-tanya program silahkan email saja, kontaknya ada di menu about. Tapi kalo minta contoh essay mohon maaf banget, saya udah gak nyimpen filenya. Hilang gitu.. Tapi kalau mau tanya2 monggo ditunggu. Sukses ya

Kapankah Waktu Imsak Dimulai?

(untuk bahan kajian di grup Whatsapp Kultum Kece: grup ngajinya ibu-ibu kece)

Secara bahasa imsak artinya menahan. Bisa dikatakan waktu imsak adalah waktu dimulainya berpuasa. Kapankah waktu berpuasa dimulai? Apakah semenjak waktu “imsak” (seperti yang suka diteriakan di masjid-masjid) atau semenjak adzan Subuh dikumandangkan?

 

 

 

 

 

Q.S. al-Baqarah (2): 187

Kewajiban berpuasa bukan hanya dibebankan pada umatnya Nabi Muhammad saw. saja, melainkan juga pada umat-umat nabi sebelumnya. Orang Yahudi dan Nasrani memiliki ketentuan berpuasa semenjak mereka bangun tidur pada malam hari. Sepanjang siang hari mereka berpuasa, kemudian berbuka saat matahari tenggelam. Mereka bisa makan, minum, dan bergaul dengan pasangan mereka sampai mereka akan tidur. Jika telah tidur, mereka tidak boleh melakukan aktivitas berbuka lagi, meskipun baru pukul 10 malam. Artinya, puasa dimulai semenjak mereka bangun tidur, setelah bangun tidak boleh makan apapun lagi. Selama sebulan itulah mereka tidak bergaul bersama pasangan mereka juga. Praktek ini masih berlanjut pada masa Nabi, sampai turunnya Q.S. al-Baqarah (2): 187.

Ada beberapa _asbab nuzul_ ayat ini. Di antaranya berkaitan dengan Qais bin Shirmah dan Umar bin Khattab.

  1. Qais bin Shirmah (sahabat dari golongan anshar ) berpuasa sepanjang hari. Menjelang berbuka, dia tidak memiliki makanan apapun untuk berbuka. Kemudian istrinya pergi mencari makanan untuk Qais. Begitu kembali ke rumah, sang istri melihat Qais telah tertidur karena kelelahan setelah berpuasa dan bekerja pada siang hari, dia pun berkata, “celakalah engkau!” Qais harus langsung berpuasa lagi keesokan harinya tanpa makan pada malam hari. Begitu bangun pada keesokan harinya Qais langsung berpuasa. Sampai siang hari ia pingsan. Istrinya mengadukan hal ini pada Rasul, kemudian turunlah Q.S. al-Baqarah (2): 187, yang memperbolehkan makan dan minum sampai terbitnya fajar shadiq seperti pada penggalan ayat wa kulu wasyrabu hatta yatabayyana lakumul khaitul abyadh minal khaitil aswad minal fajr (dan makan minumlah kalian sampai kalian bisa membedakan antara benang hitam dan putih saat fajar tiba).
  2. Umar bin Khattab menggauli istrinya pada malam hari di bulan Ramadhan setelah tertidur. Keesokan harinya ia mengadukan hal ini pada Rasul, lalu turunlah Q.S. al-Baqarah (2): 187, yang berbicara tentang kebolehan bergaul dengan pasangan, seperti yang diungkapkan oleh penggalan ayat uhila lakum lailata shiyami rafatsu ila nisaikum (dihalalkan bagi kalian untuk bergaul dengan istri-istri kalian pada malam bulan Ramadhan).

 

Perbedaan “benang hitam dan putih” dalam ayat ini adalah permisalan untuk menyebut “terlihatnya awan putih saat fajar tiba”. Dalam ilmu astronomi peristiwa ini biasa disebut sebagai fajar shadiq (terlihatnya cahaya melintang secara horizontal). Fajar shadiq merupakan awal waktu Subuh.

 

إنَّ بلاَلاً يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَكلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى تَسْمَعُوا أذَانَ ابْنِ أمِّ مَكْتومٍ

Sesungguhnya Bilal adzan pada malam hari, minum dan makanlah kalian sampai mendengar adzannya Ibn Ummi Maktum. (H.R. Bukhari)

 

Fajar itu ada dua, fajar kadzib dan fajar shadiq. Fajar kadzib itu terlihatnya cahaya secara vertikal. Biasanya ini adalah waktu adzan awal, adzan untuk Qiyamu lail atau tahajud (kalau santri Darus udah kenal dengan waktu fajar kadzib ini), sementara fajar shadiq adalah terlihatnya cahaya secara horizontal, ini adalah penanda masuknya waktu Subuh. Bilal ini biasa adzan pagi-pagi saat fajar kadzib, sementara Abdullah bin Ummi Maktum biasa adzan untuk salat Subuh. Sebagaimana Hadis tersebut, Rasul memperbolehkan kita makan dan minum dengan batas akhir waktu Subuh.

Bagaimana dengan waktu imsak yang suka diteriakan di masjid? (imsak… imsak…!!)

 

Sejauh penelusuranku, orang yang pertama kali membuat waktu imsak adalah Ibn Arabi dengan maksud ihtiyat (kehati-hatian). Pada zaman dahulu adzan dikumandangkan di masjid-masjid tanpa pengeras suara. Mereka juga tidak memiliki jam seperti yang ada di rumah kita saat ini. Waktu imsak yang ditetapkan kira-kira 10 menit sebelum adzan Subuh dimaksudkan untuk memberi peringatan kepada umat Islam, bahwa sebentar lagi mereka akan memasuki waktu Subuh, dan mereka harus menghentikan aktivitas makannya. Waktu imsak ini dibuat supaya mereka berhati-hati, daripada kebablasan lebih baik menghentikan aktivitas makan sebelum waktu Subuh tiba.

Dengan kondisi tanpa pengeras suara dan ketidakpastian akan waktu, wajar (justru bagus banget) mereka menetapkan waktu imsak ini. Coba bayangkan, suara adzan tanpa pengeras suara paling banter terdengar sampai 100-200 meter saja, sementara tidak semua orang tinggal di dekat masjid. Beda ya dengan saat ini.

After all…. waktu imsak yang diteriakan di masjid ini bukanlah waktu awal berpuasa yang sebenarnya, melainkan peringatan bahwa waktu berpuasa akan segera tiba. Seringkali teman kita enggan makan dan minum karena telat bangun meskipun belum adzan. Padahal mereka masih bisa makan dan minum sampai adzan Subuh dikumandangkan. Begitu ya, jangan salah paham dengan waktu imsak. wallahu a’lam

Selamat Berpuasa!!!