KUPI bukan hanya Perjalanan Intelektual, tetapi juga Spiritual (1)

Betul sekali makna silaturahmi itu bukan hanya sebatas berkunjung, tanya kabar, dan cipika-cipiki. Silaturahmi atau silaturahim itu lebih bermakna membangun jejaring. Aku tahu info Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) ini dari para alumni MEP (Australia-Indonesia Muslim Exchange Program) yang kebetulan panitia KUPI. Itulah pentingnya jaga jejaring, seringkali info-info kegiatan seperti ini kita dapat dari grup-grup jejaring ini. Hehe…

IMG_20170429_113346_646.jpg

Para Alumni MEP di KUPI: Dari kiri-> Mbak Sari, aku, Mbak Isma, dan Mbak Ala’i

Yok… kita coba daftar secara online. Soalnya peserta terbatas, jadi ada proses seleksi berkas. Konon, dari 1276 pendaftar hanya 575 peserta dan 180-an pengamat yang lolos seleksi. Setiap hari aku cek imel gak ada notif dari KUPI, yasudah aku gak lolos mungkin. Lima hari sebelum acara dimulai tiba-tiba ada sms masuk dari panitia, mengonfirmasi kehadiran. Pas cek nama-nama peserta ternyata tokoh-tokoh perempuan (juga laki-laki) penting dari Sabang sampai Merauke. Banyak nama yang kiprahnya sudah terbukti keren di Indonesia. Banyak bu Nyai asyik nyari mertua idaman deh!! juga ada dosen-dosenku pas di Jogja dulu. Ada juga perwakilan dari beberapa negara, seperti Australia, Malaysia, Kanada, Saudi, Banglades, Jerman, Pakistan, Belanda, Alhamdulillah…. senang sekali. Insyaallah seru acaranya.

Soal akomodasi, panitia menanggung konsumsi dan penginapan. Transportasi dibebankan pada masing-masing peserta. Niatnya aku mau ngajuin dana ke kampus, toh aku menulis IAILM di CV-ku, jadi bisa dikatakan utusan kampus (kayaknya gak ada juga yang berangkat atas nama IAILM deh..), tapi lain kali saja ah minta dana ke kampus mah… kalau kegiatannya agak jauh dan butuh ongkos lebih besar. Kalo Cirebon mah kan deket, ongkosnya bisa pake uang saku harian, hehe…

IMG-20170426-WA0050s

Pesantren Kebon Jambu: Kalo punya anak takpondokin neng kene ah!!

Peserta nginap di Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon. Gelar kasur di lantai, antri kamar mandi, ngantuk selama diskusi ala santri pokoknya. Kita-kita yang kebanyakan alumni pesantren malah bernostalgia dengan nginap di kobong ala santri begini.  Tapi ada juga peserta yang nyewa rumah di sekitar pesantren, terutama para pengamat. Soalnya, para pengamat harus menanggung sendiri biaya akomodasi, konsumsi, dan transportasi.

 

Perempuan Ulama Vis a Vis Ulama Perempuan

Sejak pembukaan acara, para pembicara selalu menegaskan makna “ulama perempuan”. Ulama (jamak dari ‘alim) telah mengalami distorsi. Pada permulaannya, kata ini merujuk pada seluruh orang yang berilmu, ilmu apapun, atau saintis, namun belakangan kata ini mengerucut hanya pada orang yang ahli dalam agama Islam saja. Akan tetapi, KUPI sendiri mengambil definisi ulama pertama, yaitu orang yang memiliki pengetahuan mendalam dalam sebuah disiplin ilmu.

IMG-20170427-WA0021

Bersama Pak Kyai Helmi Ali Yafie

Perempuan sendiri memiliki dua makna, yaitu biologis dan ideologis. Penyebutan perempuan dari segi biologis menunjuk pada salah satu jenis kelamin yang memiliki vagina, dapat menstruasi, hamil, melahirkan, dan menyusui. Sementara dari segi ideologis perempuan berarti perspektif, kesadaran, dan keterpihakan terhadap perempuan untuk mewujudkan keadilan relasi dengan laki-laki.

Dari dua definisi ini kita dapat menemukan dua frase, yaitu perempuan ulama dan ulama perempuan. Perempuan ulama merujuk pada semua orang berjenis kelamin perempuan yang memiliki kapasitas sebagai ulama, baik yang memiliki perspektif keadilan gender maupun belum. Sementara ulama perempuan dapat diartikan sebagai semua ulama, baik laki-laki  maupun perempuan, yang memiliki dan mengamalkan perspektif keadilan gender. Oke, jadi yang hadir di KUPI ini bukan hanya perempuan, tetapi ada juga laki-laki meskipun jumlahnya sangat sedikit.

 

Kesetaraan Gender dalam Pandangan KUPI

Nyai Masriyah, Pengasuh Pondok Jambu Babakan Ciwaringin, menyampaikan sambutan saat pembukaan KUPI. Beliau menyampaikan pandangannya terkait kesetaraan gender. Baginya, laki-laki bukanlah simbol kekuatan yang pantas untuk disandari dan  perempuan bukan simbol kelemahan yang pantas untuk bersandar pada laki-laki. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki Tuhan yang sama yaitu Allah. Laki-laki dan perempuan sama-sama diperintahkan untuk beribadah kepada Allah. Laki-laki dan perempuan sama-sama diperintahkan untuk ber-islam: untuk tunduk dan patuh terhadap ajaran Allah. Inilah yang dinamakan kesetaraan gender. Kesetaraan posisi laki-laki dan perempuan sebagai hamba Allah. Dengan demikian, tidak ada kewajiban bagi perempuan untuk bersandar kepada laki-laki, vice versa, karena perempuan memiliki tempat bersandar yang sama dengan tempat bersandarnya laki-laki: yaitu Allah.

 

IMG_20170501_184342_281

Bersama Nyai Masriyah Amva

Definisi ini sederhana dan nampak biasa, namun implikasi yang ditimbulkan sangat besar. Ini akan berujung pada konsep ketauhidan, menjadikan laki-laki sebagai mitra, kemandirian perempuan, juga pendobrakan budaya lokal yang patriarkis.

Saat seminar nasional Ibu Nur Rofi’ah, dosen PTIQ Jakarta, menjelaskan bahwa budaya patriarkhi dekat dengan kemusyrikan. Bagaimana bisa? Patriarki atau al-abawi adalah sistem sosial yang menempatkan laki-laki pada posisi superior (pemegang otoritas utama, sentral, bahkan tunggal) dan perempuan pada posisi inferior (dipinggirkan, tidak penting, bahkan dianggap tidak ada). Posisi demikian, mengharuskan laki-laki sebagai sandaran bagi perempuan. Perempuan tidak berdaya jika tidak bergantung pada laki-laki. Perempuan akan berakhir hidupnya jika tidak ada laki-laki. Inilah poinnya. Saat perempuan begitu menyandarkan diri pada laki-laki, maka di manakah ia menempatkan Allah sebagai Tuhannya? Bukankah menjadikan “yang lain” sebagai sandaran itu tanda kemusyrikan? Bukankah laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki Allah sebagai Tuhan? Paham ya? Bagus!

IMG20170428070909.jpg

Rombongan Kalimantan dan Sulawesi: Aku Jabar nyempil sendiri

Islam merupakan agama yang egaliter. Islam bertujuan untuk memanusiakan manusia, memposisikan manusia (laki-laki dan perempuan) sesuai dengan posisi seharusnya. Hanya saja, beberapa tradisi-tradisi Arab yang membungkus nilai universal al-Quran dan Hadis kerap disalah pahami sebagai ajaran Islam itu sendiri. Inilah masalahnya, kadang kita sulit membedakan mana yang benar-benar nilai Islam dan mana yang budaya. Lebih canggih dari sekedar pemisahan nilai universal dan budaya yang temporal ini Bu Nur Rofi’ah menyebut ada dua strategi Islam dalam memanusiakan perempuan:

  1. Langsung pada sasaran akhir, artinya al-Quran langsung menyebut sebuah hukum secara jelas, misalnya larangan mewariskan perempuan yang disebut dalam Q.S. al-Nisa (4): 19 atau larangan perkawinan sedarah dalam Q.S. al-Nisa (4): 23. Note: perempuan pada masa jahiliyah terbiasa diwariskan dan tidak menerima waris. Praktek perkawinan sedarah juga lumrah saat itu.
  2. Melalui target antara, artinya yang disebut oleh al-Quran secara eksplisit bukan tujuan akhir yang jelas, melainkan usaha-usaha sementara untuk menuju tujuan yang lebih dari yang disebut dalam ayat-ayat. Misalnya, ayat tentang poligami dalam Q.S. al-Nisa (4): 3, meskipun disebut laki-laki bisa beristri 2, 3, atau 4 tetapi bilangan ini hanya pembatasan sementara karena tujuan akhirnya adalah monogami sebagaimana kelanjutan ayat fa in khiftum alla ta’dilu fawahidatan (jika sulit bagimu untuk berlaku adil maka nikahilah satu perempuan saja). Contoh ayat lain adalah nilai waris untuk perempuan Q.S. al-Nisa (4): 11 dan nilai kesaksian perempuan Q.S. al-Baqarah (2): 282. Note: bagi masyarakat Arab jahiliyah pernikahan adalah salah satu prestise. Semakin banyak istri maka kedudukan sosialnya makin tinggi. Orang-orang kaya terbiasa menikahi berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus perempuan, sehingga pembatasan 4 orang perempuan oleh al-Quran itu sudah sangat berat bagi mereka.

Konsep keadilan gender ini bukan penjajahan laki-laki oleh perempuan atau perebutan posisi laki-laki oleh perempuan, melainkan menyamakan posisi secara kodrati sebagai hamba Allah yang sama-sama harus bersandar pada Allah. Laki-laki bukan lagi dipandang sebagai sosok superior yang perempuan harus patuh menghamba padanya. Laki-laki adalah mitra bagi perempuan. Laki-laki dan perempuan bisa (dan harus) bekerja sama untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Keren kan? Hehehe…

to be continued at KUPI bukan hanya perjalanan intelektual tetapi juga spiritual (2)

KUPI bukan hanya Perjalanan Intelektual, tetapi juga Spiritual (2)

Diskusi Keagamaan alias Majlis Fatwa

Sebagai mantan mahasiswa Tafsir Hadis dan beberapa kali keluar masuk pesantren, juga sekarang hidup di Fakultas Syariah, aku excited banget ikut majlis ini. Majlis fatwa sendiri dibagi tiga tema: kekerasan seksual, pernikahan anak, dan perusakan alam. Pesertanya dibatas 40 orang permajlis. Sisanya ikut bedah buku. Lah, mereka yang ikut bedah buku pasti dapet banyak buku gratis. Kalo di Majlis Fatwa ya gak akan dapat buku, yang ada kita harus nyiapin paper berisi kajian tema tersebut.

IMG-20170428-WA0002.jpg

Forum Diskusi Keagamaan

Inilah sayangnya, aku tuh terlalu husnudzan sama orang-orang. Pikirku yang lain pasti nyiapin berkas untuk bahtsul masail ini. Aku yang masuk kategori junior pasti tinggal nyimak. Ternyata dugaanku salah besar. Diskusi berjalan tidak maksimal karena hanya beberapa orang saja yang bawa berkas diskusi, sisanya berargumen tanpa menyebut referensi secara jelas. Sumpah, nyesel… nyesel… jangan lagi ngandelin orang lain pokoknya. Tapi untunglah ada Pak Kyai Imam Nakhai yang sudah menyiapkan berkas lengkap. Sip deh!!

IMG_20170501_184342_274.jpg

Ibu Kunthi Tridewiyanti dari KOMNAS Perempuan

Aku ikut tema kekerasan seksual. Meskipun awalnya beberapa peserta mempertanyakan bagaimana batasan kekerasan ini (apakah harus dirinci menjadi 9 atau 15 jenis kekerasan?), tetapi akhirnya kita sepakat mendefinisikan kekerasan seksual secara umum. Diskusi ini didasarkan pada tiga pertanyaan:

  1. Apa hukum kekerasan seksual?
  • Hukumnya haram, baik kekerasan yang dilakukan di dalam maupun di luar pernikahan.
  1. Apakah perkosaan sama dengan perzinahan, baik dari aspek definisi, hukuman, maupun pembuktian?
  • Tidak sama, dari segi definisi perkosaan mengandung makna pemaksaan sementara perzinahan mengandung makna suka sama suka. Dari segi hukum, hukum perkosaan bagi pelaku lebih berat dari perzinahan, karena memiliki dua kesalahan yaitu berzinah dan mendzolimi, pembuktian perzinahan harus melalui saksi sementara perkosaan melalui pengakuan korban.
  1. Bagaimana pandangan Islam dalam menghadapi aparatur negara dan pihak-pihak yang berkewajiban melindungi korban kekerasan seksual, namun tidak menjalankan kewajibannya, bahkan menjadi pelaku? Apakah Islam mengenal konsep pemberatan hukuman terhadap pelaku seperti itu?
  • Aparatur negara wajib melindungi korban kekerasan seksual dan menegakan hukum bagi pelaku, jika pemerintah tidak melaksanakan hal ini maka pemerintah telah melakukan hal dzalim dan tidak amanah.

 

IMG_20170426_185951_152.jpg

Mbak Rita Pranawati dari KPAI juga seniorku di MEP

Kurang lebih itulah hasil diskusi keagamaan cluster “Kekerasan Seksual”. Untuk penjelasan lengkap beserta dalil-dalilnya mari kita tunggu rilis dari website KUPI.

Note: Kekerasan seksual menurut KOMNAS Perempuan adalah: pelecehan seksual, eksploitasi seksual, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan aborsi, pemerkosaan, pemaksaan perkawinan, pemaksaan pelacuran, penyiksaan seksual, dan perbudakan seksual.

 

Ketemu David Kloos

Pas break diskusi keagamaan aku sempet ngobrol sama mas-mas bule dari Belanda, ya namanya David Kloos. Mas David ini dari KITLV (Koninklijk Insituut voor Taal-, Land-, en Volkenkunde atau Lembaga Ilmu Bahasa, Negara, dan Antropologi Kerajaan Belanda) dengan fokus penelitian kepemimpinan perempuan. Saat ini dia lagi meneliti dakwah daiyah yang menggunakan media digital di Malaysia. Aku pernah baca salah satu penelitiannya Mas David ini, cuma pas ketemu gak tahu aja kalau dia ini David Kloos. Secara, aslinya jauh lebih ganteng dibandingin foto-fotonya yang tersebar di Om Gugel. hey… insyaf!! Gak boleh menikmati kegantengan suami orang!! Dia juga kelihatan masih muda banget, kayak mahasiswa program master gitu!! lah, malah ngomongin fisik!!   Website Mas David di sini!!

IMG20170427132733.jpg

David Kloos: di situ kadang saya merasa mungil!!

Mas David pengen mewawancaraiku terkait acara KUPI ini. Jadi begitu selesai acara kita gak langsung bubaran. Kita ngobrol-ngobrol dulu selama lebih dari sejam. Bukan cuma diskusi soal kiprah perempuan di Indonesia, kita juga diskusi soal perbandingan muslim Indonesia dan Malaysia, perbedaan pesantren di Jabar Jateng Jatim dan Padang, tren studi Islam di Belanda, juga rencana studi lanjut. Nah, dua hal yang terakhir disebut ini yang paling kutunggu.

Kata Mas David, jeleknya peneliti dari Indonesia itu senang sekali meneliti di daerahnya sendiri, hanya sedikit saja yang berani ke luar Indonesia. Padahal, penting sekali mengeksplor dunia luar untuk kemudian disampaikan pada orang Indonesia. Begitu katanya. Itu akan jauh lebih bermanfaat katanya. Wah Mas, jangan-jangan selama ini persepsiku salah ya tentang penelitian. Kalau dibilang salah kagak ding, mungkin “kurang bagus” gitu ya.  Selama ini aku pengennya membukukan “fenomena” yang ada di Indonesia. Biar orang-orang mudah mempelajari Indonesia, juga Indonesia bisa lebih baik dengan adanya penelitian tersebut. Hhmmm… Topik penelitian itu hadir untuk melengkapi body of knowledge yang perlu dilengkapi. Ini muncul melalui kajian pustaka dan kajian penelitian terdahulu. Gak salah sih jika aku pengen meneliti pesantren yang kebetulan masih sedikit sekali penelitiannya. Tapi kalau kata Mas David, “melihat dunia luar” itu lebih baik dari pada “melihat yang udah biasa ada di hadapan mata”. I totally agree with you deh Mas!!

Selain itu, kita juga ngobrol-ngobrol soal Studi Islam di Belanda atau celah topik penelitian di sana. Dia memberikan info terkait sekolah non formal untuk kajian Bibel, tren pendidikan, dll.

“Masalah anda apa sekarang?”

Entahlah Mas. Bahasa? jelas belum memenuhi syarat untuk Ph.D, tetapi kalau belajar lebih keras aku pasti mampu. Biaya? aku gak punya duit jadi kudu nyari beasiswa. Topik penelitian? Kalau lebih rajin baca pasti nemu. Supervisor? Bisa dicari. Apa atuh? KEBERANIAN!! Itu masalah utamaku sekarang. Keberanian untuk melangkah menjadi sosok yang mandiri, keberanian untuk menghadapi tantangan, keberanian untuk menjadi perempuan yang mampu mengoptimalkan talenta yang telah Allah berikan. Keberanianku kurang Mas. Makasih Mas David, dikau telah kembali mengingatkanku bahwa memelihara impian itu penting, tapi lebih penting lagi untuk memulai aksi!!

 

 

Overall….

Setiap rangkaian acara KUPI sangat luar biasa. Panitianya juga orang-orang yang udah biasa berkutat dengan event internasional. Pasti canggih lah!! Sangat ramah teknologi. Aku sangat terkesan dengan acara pembukaan yang sangat berbeda dengan pembukaan acara kebanyakan. Acara ini dibuka bukan oleh seorang tokoh melainkan oleh delapan orang peserta yang masing-masing menggambarkan keanekaragaman Indonesia, serta komprehensivitas KUPI. Acara lain juga seru banget. Pokoknya asyik deh…. Tapi… tapi… tapi….

IMG20170426163006

Beresin bekas makan dan minumnya ya bu ibu

“Gelar” keulamaan ini masih belum sempurna karena para peserta masih belum bisa merapihkan sisa makanannya sendiri. Dus-dus snack bertebaran di mana-mana. Piring bekas makan tidak dirapihkan sendiri, hanya mengandalkan santri yang bantu bersih-bersih. Emang tempat kongres itu bersih dan rapih. Tapi kayaknya, itu gara-gara para santri yang ngebersihin dan ngerapihin deh? Salah satu tema diskusi pararel dan diskusi keagamaan yang menghasilkan fatwa itu ada tentang menjaga lingkungan dan kelestarian alam loh. Bagaimana bisa menjaga lingkungan yang lebih luas sementara kita ini belum bisa merapihkan sampah gelas plastik bekas kita minum? Hhhmmm….

IMG_20170426_090235.jpg

Ibu Tika

 

Overall…. over all…. Aku ngerasa beruntung banget bisa ikut KUPI. Bukan hanya pengetahuan yang aku dapat tetapi juga bisa kenal dengan orang-orang hebat. Di sinilah aku bertemu dengan Bu Tika, ibu kalem yang ternyata aktivis PEKKA Cianjur juga pejuang pendidikan melalui 6 PAUD.

IMG_20170501_184342_267.jpg

Mbak Ratna 

Di sini pula aku bisa kenal dengan Mbak Ratna Batara Munti yang memiliki kisah menarik sejak beliau mondok di Diniyah Putri Padang Panjang sampai keaktifannya di beberapa NGO. Di sini pula aku sangat tertarik dengan kerudung yang digunakan oleh Hatoon al-Fasi, peneliti senior dari Qatar University dan King Saud University. Di sini pula patah hatiku banyak terobati, terutama saat mendengar kisah para ibu nyai yang berhasil memimpin pesantren tanpa bantuan suami. Di sini pula aku lebih memahami bahwa keadilan gender akan membawa seorang hamba pada sikap ketauhidan dan kepasrahan terhadap Tuhan.

IMG_20170501_184342_268.jpg

Bu Nyai Sinto Nabilah dari Magelang

***