Selamat Hari Kartini: Kesetaraan Gender di Keluargaku

Aku lahir di keluarga biasa dan sederhana. Darah kami tergolong umum dengan warna darah yang biasa saja: merah, bukan biru. Kondisi ekonomi kelurga bisa dibilang menengah ke bawah. Bapaku adalah seorang sopir. Mamah adalah penjahit dan pembuat kue. Tapi keuangan keluarga selalu cukup. Bahkan lebih dari cukup untuk menghidangkan makanan bergizi setiap harinya juga menyekolahkan anak-anaknya sampai pascasarjana.
Pendidikan orang tua ya rata-rata pada masanya. Mamah kuliah pun gak tamat, bahkan Bapa tidak menyelesaikan SMP-nya. Adik dan kakak Mamah dan Bapa alias amang, bibi, dan uwa tidak ada yang mencapai gelar sarjana. Kebanyakan hanya sampai SMP dan SD. Aku lahir bukan dari keluarga yang berpendidikan formal tinggi, tapi mereka sangat menjunjung pendidikan serta terbuka dalam menerima perubahan positif.

IMG-20170305-WA0006.jpg

keluarga kita….!!

Di keluarga, kami diajarkan untuk bersikap mandiri. Sudah menjadi tradisi bahwa perempuan di keluargaku harus memiliki banyak keterampilan. Untuk apa? Supaya bisa hidup mandiri dan tidak bergantung pada suami. Ini adalah antisipasi, jika suatu hari para suami tidak bisa bekerja dan menghasilkan uang, bercerai, atau meninggal, para istri bisa terus melanjutkan hidup dan menghidupi anak-anak.
Dalam kegiatan sehari-hari di rumah, kami berperan sebagaimana mestinya. Bapa berperan sebagai ayah, Mamah berperan sebagai ibu, aku berperan sebagai kakak, dan Veni berperan sebagai adik. Akan tetapi, untuk pekerjaan domestik tidak dibebankan pada salah seorang. Siapa yang sempat dia yang akan melaksanakan. Semua pekerjaan adalah tanggung jawab bersama. Kebersihan rumah, menyediakan makanan, mengurus anak, mencari nafkah itu adalah tugas bersama. Bukan murni tugas salah seorang saja.
Cuci piring adalah kewajiban setiap anggota keluarga. Sehabis makan, semua orang akan mencuci peralatan bekas makannya. Mencuci pakaian juga tugas masing-masing. Kita punya kresek cucian masing-masing. Jika menemukan cucian di kamar mandi, siapa yang sempat dia yang akan mencuci atau jika ada yang mau berbaik hati, seseorang akan mengambil seluruh cucian keluarga dan mencucinya sendiri. Bagi kebanyakan orang ini adalah hal biasa, tapi tidak di kampungku. Biasanya urusan cuci-mencuci adalah tugas istri. Suami tidak usah ikut campur. Makanya, kadang cucian Bapa itu dijemurnya sama Mamah atau sama aku. Malu sama tetangga, katanya. Takutnya mereka malah mencemooh Bapa sebagai suami yang takut istri atau tidak keren lagi, hehehe… Padahal ini kan luar biasa. Meskipun Bapa tidak berpendidikan tinggi, tapi beliau mampu menghargai kesibukan Mamah juga tidak mengeksploitasi Mamah atas nama istri. Kalau Mamah sibuk dan Bapa free, ya beliau akan mengerjakan segala jenis pekerjaan domestik, termasuk berbelanja bahan makanan.
Oia, semua anggota keluarga juga bisa memasak. Kalau Mamah jago masak ya wajar, karena memang dulu sekolah masak. Tapi kalau Bapa ya memang bisa, tanpa kursus pun. Mungkin kehidupan masa mudanya yang keras mengharuskan beliau untuk bisa mengerjakan segala jenis pekerjaan. Masakan Bapa bahkan jauh lebih enak dari masakanku loh…. Jika lapar dan kebetulan tidak ada makanan tersedia, kita akan masak sendiri tanpa meminta Mamah untuk masak. Itulah mengapa Mamah gak pernah khawatir jika harus bepergian lama meninggalkan Bapa di rumah sendirian. He can do everything well… Seringkali Bapa belanja atau memetik sayur di belakang rumah, memasaknya, lalu memanggil semua anggota keluarga untuk makan, atau sengaja memasak makanan kesukaan nenek untuk membuat belaiu senang.
Begitu pula dengan Mamah. She is the most incredible mom in the world!! Mamah bisa melakukan segala jenis pekerjaan rumah sekaligus mencari uang lewat mesin jahit. Bagi Mamah, biaya kehidupan keluarga bukan hanya tanggung jawab Bapa saja. Itu juga tanggung jawab Mamah, karena beliau mampu melakukannya. Meskipun demikian, Mamah tidak pernah sombong atau angkuh terhadap Bapa. Mereka sama-sama saling mendidik dan menghormati.
Bagi Mamah dan Bapa, anak laki-laki atau perempuan memiliki kedudukan yang sama. Salah satunya tidak ada yang lebih unggul dari segi kodrat. Keduanya harus sama-sama berpendidikan tinggi, mandiri, dan mampu mengerjakan segala jenis pekerjaan. Keduanya harus sama-sama bisa berjuang untuk kehidupan keluarganya kelak. Keduanya harus bisa melangkah bebas mensyukuri talenta yang telah Allah anugerahkan untuknya. Keduanya harus bisa bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
Inilah secuil kisah kesetaraan gender di keluargaku. Kisah dari keluarga yang sederhana dan tidak berpendidikan formal tinggi. Kisah dari keluarga yang selalu terbuka dengan segala jenis hal positif.
Selamat hari Kartini!!

Patah Hati yang (Lebih) Elegan (4)

Pacar Keempat

Selepas memutuskan sepihak, ternyata memang aku menemukan seseorang yang jauh lebih dewasa dariku. Dia adalah ayah dari seorang anak berusia 6 tahun (2017). Perbedaan usia kita cukup jauh, sekitar 12 tahun, sebut saja Aa. Masalah dan pekerjaan yang ia geluti membuatnya jauh lebih dewasa dan bijak dari laki-laki pada usianya. Padanya aku merasa memiliki ayah, kakak, guru, dan sahabat baru. Dia selalu mampu menjawab setiap pertanyaan pada keluh kesahku, tentang apa pun!! Dia selalu bisa bersikap bijak mengatasi masalah-masalahku. Padanyalah aku selalu bertanya, what should I do?

6358255897185324781843622165_dd.imgopt1000x70.jpg

Young Daddy via theodysseyonline.com

Jika ditanya, siapa orang yang paling mempengaruhiku? Jawabannya dia. Dialah yang mengajariku mulai dari cara membalas sms sampai cara berkomunikasi dengan pejabat setingkat menteri, dengannyalah aku berdiskusi soal cara menghadapi anak yang rewel sampai urusan politik negara.

Pacaran dengannya bukanlah pacaran seperti kebanyakan orang. Kita bertemu setahun tiga atau empat kali, itu juga setelah aku nunggu 2-3 hari untuk pertemuan selama lima belas menit di sela-sela meetingnya. Jika chatting jangan menunggu balasan dalam satu atau dua jam, baru membalas setelah beberapa hari adalah hal yang wajar bagi kita. Kalau bertemu, bukan soal apa makanan favoritmu yang kita bahas, melainkan kondisi hukum dan politik yang sedang hangat di negeri kita.

Entah apa yang membuatnya menggantung hubungan kita selama 3 tahun ini? Traumakah dengan pernikahan sebelumnya? Alasannya selalu saja pekerjaan. Memang pekerjaannya sangat padat. Bahkan tidak setiap weekend dia pulang menemui anaknya. Tapi bagiku tak masalah, kita sudah terbiasa dengan semuanya. Kita sudah sama-sama memaklumi kekurangan dan kelebihan kita masing-masing. Kita sudah sama-sama memaafkan kesalahan kita masing-masing—termasuk tidak menjemputku di pool bis Jakarta tengah malam tanpa konfirmasi atau dia memaafkan aku yang selalu bertanya tentang mantan istri. Yang perlu diselamatkan hanyalah Ade, putrimu, putri kita. Aku hanya merasa ikut bertanggung jawab pada perkembangan fisik dan mentalnya.

Tapi ya… terakhir kutanya tentang kepastian hubungan kita, dia cuma menjawab, “Aa tidak bisa berkata apa-apa, Aa hanya bisa diam.” So, what is to be done? Aku gak bisa menunggu lagi, aku harus melepaskannya, agar masing-masing kita tidak menjadi beban satu sama lainnya. Padahal aku sudah memenuhi permintaannya untuk segera lulus magister dan berhenti bekerja di pesantren.

Kalau ditanya rugi gak kehilangan Aa? Jawabannya, kalau sedih iya, kalau rugi tidak, karena aku udah belajar banyak hal darinya. Darinyalah aku bisa secanggih ini, hehehe…

Soal impian dan rencana hidup yang kacau. Jelas!! Sebelumnya, kita sudah bersepakat tentang dia yang berusaha mengurangi jam kerjanya, aku yang akan membantu mengurus lembaga pendidikan milik keluarganya, dia yang bisa membantu cita-citaku mendirikan sekolah sore, juga ini-itu lainnya. Tapi apa daya, “idealisme” kadang tidak sejalan dengan “realisme.”

Tidak ada kemarahan dan air mata saat putus darinya, yang ada hanya kesadaran bahwa usahaku sudah cukup optimal dan aku gak bisa memaksakan kehendakku, karena pacaran dan pernikahan itu adalah kesepakatan kedua belah pihak. Keduanya harus sejalan, jika tidak ya tidak baik jika dipaksakan. Entah apa yang dia sembunyikan dariku, aku hanya bisa berdoa semoga dia sehat dan mampu meraih semua cita-citanya. Makasih ya A….

Lalu apalagi?? I am mending ma broken heart and looking for someone else!! The best one yang mau jadi partner hidup dan bersama-sama meraih cita-cita!!

–Tamat–